Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 05 July 2016

OPINI– Uh Oh Harits Abu Ulya, Para Spekulan, ISIS, & Bom Madinah


Ledakan di Dekat Mesjid Nabawi

Islamindonesia.id— Uh Oh Harits Abu Ulya, Para Spekulan, ISIS & Bom Madinah

Oleh: Abu Ali Al Sundawi

Senin berdarah di Arab Saudi. Dalam sehari, 4 juli 2016, tiga bom bunuh diri meledak di tiga lokasi berbeda pada waktu hampir bersamaan: Qatif (dekat sebuah masjid Syiah), Jeddah (dekat Konsulat Amerika Serikat), dan Madinah (tak jauh dari makam Nabi Muhammad SAW).

Belum ada kelompok teror yang mengklaim bertanggung jawab sejauh ini. Meski demikian, sejumlah laporan menyebut nama pembom di Jeddah adalah Abdullah Qalzar Khan. Dia warga Pakistan yang sudah 12 tahun tinggal di Saudi. Lalu, pembom di Madinah dilaporkan sebagai Umar Abdul Hadi al-Utaibi, warga Saudi.

Tidak ada komunitas Islam mana pun yang waras akan menikmati dan bersorak dengan aksi pengecut terorisme. Terlebih bom bunuh diri di Madinah hanya selemparan batu dari makam Nabi Muhammad.

Namun, Harits Abu Ulya, bekas pengurus Hizbut Tahrir Indonesia yang tengah mencoba peruntungan sebagai pengamat terorisme, telah menggunakan sentimen negatifnya terhadap komunitas Syiah dalam serangkaian ciutan “tebak-tebakan” pelaku bom di akun Twitter-nya. Harits menulis bahwa masyarakat Muslim tak akan menerima teror bom di Madinah, “kecuali Syiah, mungkin,” cuit dia.

Harits_Islamindonesia.id

Ternyata bukan hanya Harits yang punya tebakan seupa, tapi juga sejumlah anggota lain dari kelompok yang sama. Perhatikan cuitan Syekh Abdurrazzaq Almahdi di bawah ini:

A'arabi

Dengan cuit itu, Harits dan sepemikirannya ingin mengatakan, bahwa hanya Syiah yang senang dengan bom Madinah, dan karena itu merekalah salah satu tersangka utama yang langsung terbesit dalam benak seorang analis sekaliber Harits. Pada saat yang sama, Harits tampak ingin mengeluarkan IS-ISIS dari daftar tersangka. “Karena kontraproduktif bagi mereka,” cuitnya.

Bagaimana bisa Harits menyimpulkan Syiah bisa menerima pemboman kota suci tempat Nabi Muhammad, yang juga Nabi mereka, dimakamkan?

Apa karena Syiah membenci rezim Saud? Jika jawabannya ya, maka Syiah, di mata Harits, sudah bersalah karena asosiasi (guilt by association), dan ini kesalahan berpikir fatal yang dilakukan seorang analis sekaliber Harits. Jika jawabannya bukan, maka tampaknya ada yang salah dalam cara Harits berpikir induktif.

Pertama, Syiah dikenal sebagai kaum yang sangat menghormati peninggalan sejarah, apalagi itu berupa makam orang yang mereka sucikan. Di kota-kota utama Syiah, mereka membangun mausoleum-mausoleuem megah yang menaungi makam-makam para santo, dari nabi, imam, dan wali. Apatah lagi makam Nabi Muhammad, penghulu para santo.

Jika ingin mengarahkan telunjuk tudingan kepada Syiah, ada baiknya Harits meniru cara Saudi, Amerika, dan Israel. Ketiga negara itu setidaknya masih berpikir matang sebelum menuding kelompok Syiah bertanggung jawab akan aksi teror. Mereka memilihkan target-target yang masih terlihat relevan, seperti pusat Zionisme di Argentina (bom AMIA, Buenos Aries, 1994) atau barak tentara Amerika di Saudi (bom di Menara Khobar, Dhahran). Begitupun tudingan itu tak bisa mereka buktikan hingga kini (jurnalis senior Gareth Porter banyak menulis kelemahan tudingan terhadap Iran dan Hizbullah, baik dalam kasus AMIA dan Khobar).

Sebaiknya, jika kita ingin membuka opsi tentang siapa pelaku teror bom Madinah, maka IS-ISIS, al-Qaeda, dan geng ekstrimis Wahhabi mereka adalah salah satu tersangka utama yang patut dicantumkan dalam daftar.

Deduksi tersebut bukan tanpa dasar fakta induktif. Ideologi wahhabi/salafi menolak penghormatan terhadap makam orang suci dan bahkan sebagian mereka menganjurkan penghancurannya karena penghormatan itu dinilai sebagai perbuatan syirik. Pun, dalam beberapa pernyataan, kelompok itu pernah mengancam meratakan makam Nabi dan bahkan Ka’bah dengan tanah. Di Irak dan Suriah, kelompok ini rajin membom dan membuldozer masjid dan makam-makam orang suci, baik itu milik komunitas Sunni maupun Syiah. Di Saudi, IS-ISIS pernah mengklaim pemboman masjid di Qatif dan Dammam pada 22 dan 29 Mei 2015, dan juga pemboman masjid di Abha pada 6 Agustus 2015.

Selain itu, kelompok tersebut sedang mengalami set back luar biasa setelah kejatuhan sejumlah kota utama di medan pertempuran di Suriah dan Irak, seperti Palmyra, sebagian Aleppo, dan Falujah. Selain itu di Yaman, mereka gagal menundukkan kelompok perlawanan Houtsi. Membom Madinah dan melancarkan tudingan kepada Syiah bukan tak mungkin upaya mereka mengompensasi kegagalan itu.

Pada saat yang sama, kelompok perlawanan koalisi Iran sedang menikmati perkembangan positif di medan pertempuran. Walhasil, membom madinah, jika dilakukan kelompok ini, adalah tindakan superbodoh yang akan mengurangi tabungan citra mereka.

Cui Bono? Dalam analisis kejahatan, kita tak boleh lupa siapa yang menangguk keuntungan di baliknya.

Tiga aksi teror beruntun di Saudi tampak seperti upaya terkoordinasi satu sama lain. Waktu, 4 juli, bisa jadi dipilih sebagai simbol tertentu. Tanggal itu adalah hari kemerdekaan Amerika sekaligus peringatan 40 tahun pembajakan pesawat Israel oleh pejuang Palestina di Bandara Entebbe, Uganda.

Lantas, mengapa hingga kini belum ada pernyataan bertanggung jawab IS-ISIS terkait pemboman Madinah. Jawabannya, IS-ISIS tak selalu mengklaim bertanggung jawab atas semua aksinya, seperti di Turki dan Lebanon.

Kemungkinan lain yang tak bisa begitu saja ditepis adalah inside job. Dalam beberapa bulan terakhir Kerajaan Saudi menerima pukulan bertubi di ranah militer, politik, dan ekonomi. Di medan pertempuran di Yaman, Saudi bisa dikatakan mandeg. Malah kini Saudi menghadapi tuduhan kejahatan perang dari LSM dan PBB. Secara ekonomi, kejatuhan harga minyak memukul Saudi hingga memaksa Kerajaan itu menerbitkan surat utang–sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bukan mustahil pemboman ini dilakukan untuk menarik simpati dunia lepas Saudi babak belur dihajar berbagai pukulan tadi.

Satu kemungkinan lain inside job adalah pertarungan perebutan kekuasaan di dalam Kerajaan. Banyak laporan menyebutkan, pasca wafatnya raja Abdullah bin Abdul Aziz, dua kelompok pangeran bertarung berebut pengaruh dan takhta. Belum lama ini, misalnya, pangeran Abdul Aziz bin Fahd, putra bungsu Mendiang Raja Fahd bin Abdul Aziz, yang terlempar dari inner circle Raja Salman bin Abdul Aziz mengaku di akun Twitter-nya hampir mati karena diracun.

Inside job Saudi bukan tanpa preseden. Dalam kasus pemboman Menara Khobar dan kompleks pekerja asing di Riyadh pada 12 Mei 2003, banyak laporan investigasi (termasuk yang ditulis oleh Gareth Porter) menggambarkan bagaimana Kerajaan menghambat proses investigasi dan sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum penyelidikan tuntas. Gareth, melalui sumbernya di FBI, menulis bahwa elite Saudi kerap menggunakan tangan kelompok ekstrimis wahhabi/salafy untuk aksi kotor mereka dan bagaimana kelompok ini begitu dalam menginfiltrasi jajaran elite Garda Nasional Saudi.[]

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *