Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 09 March 2016

OPINI – Sekali Lagi Soal Surga dan Neraka


Between-heaven-and-hell--4cd25a847befb

Banyak pertanyaan diajukan sehubungan dengan uraian Haidar Bagir yang berasal dari pemikiran Ibn Arabi tentang neraka yang dimuat website Islam Indonesia dengan judul “Neraka adalah Karunia“. Di bawah ini, atas izin yang bersangkutan, kami muat tuilsan beliau yang merupakan bagian dari buku Semesta Cinta, Pengantar Kepada Pemikiran Ibn Arabi, dalam bab berjudul “Surga dan Neraka”.

Oleh Haidar Bagir

Di antara salah satu masalah yang perlu dijelaskan berkaitan dengan sifat dominan Kasih Sayang Allah adalah mengenai neraka dan siksaan yang amat berat, kekal abadi selama-lamanya, yang mungkin dialami manusia. Betapapun besar kejahatan yang telah dilakukan seseorang rasanya sulit dipahami bahwa Allah Yang Didominasi oleh sifat Maha Pengasih dan Penyayang akan bertindak demikian. Bahkan, kita, manusia biasa, tidak tega bertindak se-“kejam” itu. Lalu, apakah hal seperti ini mungkin bagi Allah? Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertama, Ibn ‘Arabi merujuk pada kenyataan bahwa sifat utama Allah adalah “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Bahwa, di atas segalanya, Dia “Maha Pengampun.” Kasih Sayang-Nya terlalu besar, sehingga tak bisa sama sekali dibandingkan dengan kasih sayang manusia.
Allah sendiri mengajarkan agar manusia mengutamakan pengampunan. Dan ganjaran bagi perbuatan yang buruk adalah perbuatan buruk yang setimpal. Tapi, siapa saja yang memaafkan dan melakukan perbaikan, ganjarannya berada di sisi Allah. (QS Al-Syûrâ [42]: 40).

Lalu, kalau kepada manusia Allah mengajarkan akhlak mengutamakan pengampunan, apalagi Dia? Dengan kata lain, jika nantinya Allah mengampuni manusia dan tidak melakukan janji-Nya untuk menghukum manusia, maka itu justru berakar pada akhlak- Nya, pada syari‘ah-Nya yang mengajarkan ‘memaafkan lebih utama’. Allah berfirman: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Mâ’idah [5]: 118-119).

Lebih jauh dari itu, Allah Swt. menjanjikan pengampunan atas semua dosa. Allah berfirman: “Wahai hamba- hamba-Ku yang telah menzalimi dirinya. Jangan berputus asa atas rahmat Tuhanmu. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (QS Al-Zumar [39]: 53). Juga, frman-Nya yang lain: “Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al- Taubah [9]: 106).

Di tempat lain dalam Al-Quran Allah juga berfrman: “Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfrman): ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.’ Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfrman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An‘âm [6]: 128).

Sementara itu dalam hadis juga disebutkan, “Siapa yang dijanjikan Allah akan mendapatkan pahala karena suatu perbuatan, maka itu pasti terlaksana. Dan siapa yang diancam Allah dengan siksa karena suatu perbuatan, maka Allah akan memilih apakah akan melaksanakan ancaman-Nya atau tidak.”
Dengan jelas Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa kewajiban harus dijalankan, yakni—bersikap kasih sayang—tapi hak untuk menyiksa—terkadang lebih baik tidak dituntut jika ia berhadapan dengan prinsip kasih sayang. Ibn ‘Arabi menyimpulkan, jika pun Allah kelak menyiksa para pendosa, pada saatnya Allah akan mengampuni mereka.

Lalu, bagaimana menjelaskan penegasan Allah bahwa sebagian orang akan menghuni neraka secara “kekal selama-lamanya” (khâlidîna fî hâ abadâ)? Allah berfirman:
Dan siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul- Nya maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS Al-Jinn
[72]: 23).
Menurut Ibn ‘Arabi, dilihat dari kata ganti “-hâ” (“- nya”) yang digunakan dalam ungkapan (khâlidîna fî hâ abadâ), yang bergender feminin/muannats, dapat disimpulkan bahwa sifat tersebut merujuk kepada neraka (yang memang dalam bahasa Arab merupakan kata benda feminin/muannats), bukan siksaan (yang sebagai sebuah kata bersifat maskulin/mudzakkar). Dengan kata lain, ungkapan di atas hanya akan menunjukkan bahwa neraka akan kekal, tapi tidak azabnya.

Lebih jauh mengenai hal ini, Ibn ‘Arabi memperbandingkan dua ayat Al-Quran yang berurutan dan memiliki redaksi yang mirip sebagai berikut:
“Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya ada di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS Hûd [11]: 106-108)
Menurut Ibn ‘Arabi, dengan menambahkan, “… sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”, khusus untuk surga, hal ini menunjukkan bahwa keabadian adalah merupakan sifat khusus surga, sedangkan siksa neraka tidak abadi. Ibn ‘Arabi menyatakan kalau tak ada tambahan tiga ayat yang berkenaan dengan dengan surga itu, niscaya bisa dipahami bahwa surga pun tak abadi.

Di akhirat kelak, menurut Ibn ‘Arabi, pada saatnya semua manusia akan bebas dari siksaan, bahkan merasakan kenikmatan, meski sesungguhnya kenikmatan itu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan yang dialami para penghuni surga. Lantas bagaimana bisa hal itu terjadi?

Pertama, mereka boleh jadi terbebas dari siksaan fsik, tapi secara psikologis para penghuni neraka ini masih didera penyesalan dan trauma siksaan yang pernah mereka alami.

Kedua, mereka pun tak bisa sepenuhnya “melihat” Tuhan, sebagai kenikmatan puncak kehidupan di surga. Tuhan membiarkan tirai yang memisahkan para penghuni neraka itu dengan Diri-Nya tak terangkat. Pada saat yang sama sama, tak diangkatnya tirai tersebut merupakan karunia-Nya agar para penghuni neraka itu justru tak akan merasakan siksaan karena ketidakmampuan mereka menahan “silau” akibat Cahaya-Nya yang tak terperi.

Berikut dua ayat yang dapat dijadikan pijakan argumen tersebut. Allah berfirman: “Karena pada hari itu (para penghuni neraka) terhijab dari Rabb mereka.” (QS Al-Muthafffîn [83]: 15).
Allah berfirman: “Dan suatu dinding akan ditegakkan di antara keduanya (surga dan neraka).” (QS Al-Hadîd [57]: 13).

Dengan adanya tirai tersebut, ‘adzab (siksa)— yakni, dari sudut pandang para penghuni neraka ini—terasa sebagai ‘adzib (“manis”, menyegarkan). Namun, kalau saja mereka tahu ketentraman dan kebahagiaan— “melihat” dan bersatu kembali dengan Allah—yang dinikmati oleh para penghuni surga, apa yang mereka alami sesungguhnya secara relatif bisa disebut sebagai siksaan.

Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi mengungkapkan pandangannya dalam beberapa bait syair berikut ini:
Meski mereka masuk neraka, sungguh mereka Merasakan kenikmatan di sana; Suatu nikmat, yang berbeda dari nikmat di surga, meski hakikatnya sama. Perbedaan antar kedua nikmat itu pada Tajallî; Kata ‘adzab (siksa) berasal dari kata ‘udzubah (segar). Baginya, ia (‘adzab) itu seperti kulit luar/sisik, dan kulit itu melindungi.

Akhirnya, sebuah pertanyaan: Kenapa Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang menciptakan siksa (meski hanya terjadi di dunia dan barzakh)?
Menurut Ibn ‘Arabi, Kasih Sayang Allah Yang Tak Terbatas berarti bahwa Allah hanya menciptakan hal-hal yang baik bagi manusia. Dalam kaitan ini, Allah hanya menciptakan kenikmatan. Allah berfirman: “Apa pun yang baik terjadi pada kamu adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpa kamu adalah dari dirimu sendiri.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 79).

Dalam kaitan ini, sesungguhnya perlu dipahami (apa yang dipersepsi sebagai) neraka, pada dirinya (aslinya) ia adalah sumber kenikmatan layaknya surga. Manusia sendirilah, yang dibangkitkan di akhirat dalam keadaan jiwanya yang sakit akibat perbuatan-perbuatan buruknya sendiri, yang kemudian mempersepsi apa yang sifat-aslinya adalah kenikmatan, sebagai siksaan atau kesengsaraan. Ibn ‘Arabi memberikan contoh: Bagi orang yang tubuhnya bertemperamen dingin, hawa panas terasa menghangatkan dan nikmat. Sementara bagi orang yang memiliki temperamen panas, hawa panas akan menyiksa. Beginilah kenikmatan terasa sebagai siksa bagi orang-orang yang jiwanya sakit.[]

_____________________________
Catatan kaki: Patut pula disebutkan di sini bahwa istlah “selama-lamanya” (terjemahan dari kata abadâ) tak mesti bermakna tanpa akhir, melainkan jangka waktu yang (boleh jadi panjang, tapi tetap) memiliki batas waktu. Perhatkan ayat ini: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya (abada) sampai kamu beriman kepada Allah.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 4). Dalam ayat di atas, dipakai kata selama-lamanya (abadâ) atau abadi, tapi pada saat yang sama diungkapkan batas waktu yang, ketka keadaan berubah, sikap Nabi Ibrahim pun akan berubah. Juga, dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa orang-orang yang di neraka itu “labitsiina fii haa ahqaabaa.” Mereka tinggal di dalamnya ahqaabaa” (QS Al-Naba’ 23). Ahqaabaa adalah jamak dari kata huqub yang berarti masa yang panjang tapi terbatas durasinya.

 

Sumber: Semesta Cinta, Pengantar Kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi karya Haidar Bagir.

One response to “OPINI – Sekali Lagi Soal Surga dan Neraka”

  1. Mulyata says:

    Abadan merujuk kepada surat 60 ayat 4 hampir mirip dengan bahasa Indonesia berabad-abad yang berarti ada batas waktunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *