Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 26 March 2016

OPINI – Masela, Oh Masela: Logika Terbalik Kebijakan Publik


Masela oh Masela

 

Oleh: Abdillah Toha

Judul tulisan ini sebenarnya lebih pas untuk judul sebuah lagu yang romantis. Tapi ia sesungguhnya adalah cerita sendu sebuah blok di laut Arafura, Maluku Tenggara yang menyimpan deposit gas terbesar di dunia dan sudah dibincangkan selama bertahun-tahun. Belakangan cerita ini memuncak, mencapai klimaks dan anti klimaks, dengan segala perseteruan dan kegaduhan yang tidak jarang emosional pula. Tahap awal dari cerita ini usai beberapa hari lalu ketika Presiden Jokowi akhirnya mengambil keputusan.

Tarik menarik antara dua pihak dalam proyek raksasa yang akan menelan investasi multi year sampai diatas US$ 15 miliar ini menyangkut perbedaan pendapat tentang lokasi yang dianggap lebih layak, dilaksanakan di darat (onshore/OLNG) atau terapung di laut (floating/FLNG). Presiden akhirnya menghentikan polemik berkepanjangan ini dengan memutuskan memilih daratan sebagai lokasi proyek.

Tentu saja orang akan bertanya apa dasar keputusan Presiden, karena keputusan itu bertentangan dengan rekomendasi sebuah lembaga konsultan profesional yang sudah diakui reputasinya di dunia. Menurut rekomendasi konsultan itu, FLNG di laut akan lebih rendah biaya investasinya sebesar US$ 5 miliar dibanding OLNG yang di darat. FLNG akan mendatangkan laba yang lebih besar kepada pemerintah dibanding OLNG. FLNG dikatakan juga akan membawa efek ganda (multiplier effect) ekonomi lebih besar untuk Maluku dan kawasan sekitarnya.

FLNG memerlukan pengadaan tanah jauh lebih sedikit (40 ha) bagi keperluan logistik dibanding ONLG yang menuntut adanya lahan seluas 680 ha. Belum lagi kenyataan mahalnya konsep OLNG adalah karena dibutuhkan komponen dan infrastruktur tambahan untuk mengolah dan menyalurkan gas dengan menggunakan pipa, mengingat jenis gas (lean, waxy, berkondensat) dan lokasi gas yang remote (very deep water).

Jika dalam FLNG hanya dibutuhkan infrastruktur bawah laut dan fasilitas pemerosesan terapung serta terminal logistik pasokan, untuk tipe OLNG akan dibutuhkan tambahan FPSO (fasilitas pemerosesan di laut) plus 180 km jaringan pipa dan fasilitas processing di darat. Karena semua itu, diperkirakan OLNG akan memerlukan investasi lebih besar yang berarti recovery cost lebih lama dan menurunkan laba proyek setiap tahun dalam jumlah yang cukup signifikan.

Tapi baiklah kita tidak perlu terlalu dalam masuk ke hal-hal yang bersifat tehnis karena pihak yang mendukung proyek di darat konon punya argumen yang bertentangan dengan kesimpulan konsultan di atas. Ketika memilih daratan sebagai lokasi, Presiden antara lain mengatakan bahwa pertimbangan utamanya bukan semata-mata laba proyek tapi efek ganda proyek yang diperkirakan akan menelan ratusan triliun rupiah ini terhadap pengembangan wilayah. Presiden juga mengatakan keputusannya berdasar berbagai masukan dan pertimbangan.

Yang belum jelas adalah masukan dan pertimbangan apa, dari mana, dan dari siapa. Apakah mereka yang memberi masukan itu sudah melaksanakan studi secara profesional dan bertanggung jawab? Ataukah para pembisik itu punya kepentingan lain yang terselubung? Kekhawatiran demikian tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena proyek gas terapung (FLNG) sudah melakukan penelitian dan studi mendalam dengan biaya besar.

Proses persiapan konsep melibatkan ratusan ribu manhour (jam kerja) dan sudah dikonfirmasi oleh konsultan independen internasional yang disewa sendiri oleh Pemerintah Indonesia (Poten & Partners). Sedang untuk ONLG belum pernah dilakukan studi kelayakan (atau POD/Plan Of Development). Bila sekarang baru akan dimulai studi baru untuk OLNG berarti jadwal proyek akan mundur paling sedikit  empat tahun menunggu selesainya hasil studi dan persiapan pembangunan, pencarian lahan, perizinan dan lainnya. Berarti pula kenikmatan ekonomi sebagai efek proyek itu di daerah juga akan sangat tertunda.

Tapi yang lebih mengganggu adalah logika yang terbalik dari proses pengambilan keputusan presiden itu, yakni keputusan diambil dulu baru studi akan dilaksanakan kemudian.

Logika yang demikian bak seorang ayah yang menyetujui putrinya dilamar seseorang, baru kemudian menyelidiki karakter menantunya setelah pernikahan dilaksanakan.

Benarkah efek ganda di darat lebih besar daripada di laut? Tidak semua pihak sepakat. Banyak pakar berpendapat bahwa pemerintah seharusnya konsisten dengan pembangunan sektor maritim. Skema FLNG adalah momen untuk pengembangan sektor maritim. Pengembangan Blok Masela dengan skema offshore menjadikan Indonesia sebagai center of excellence di sektor kemaritiman sesuai semangat Nawacita.

Skema offshore Blok Masela dapat menjadi katalisator pengembangan kapasitas dan kapabilitas maritim serta membangun Kepulauan Maluku sebagai daerah perbatasan yang strategis berbasis maritim. Di tingkat nasional, skema kilang apung memberikan kontribusi bagi sektor maritim dari sisi peningkatan galangan fabrikasi dan galangan kapal Indonesia.

Potensi daya angkut bisa naik menjadi 8.000 ton dari kapasitas saat ini sebesar 1.100 ton. Potensi panjang pelabuhan menjadi 500 meter dengan 17 meter draft, potensi kapasitas fabrikasi sebesar 86 kT dari saat ini 50 kT, serta peningkatan kapabilitas sumber daya galangan, penguatan dermaga, dan multiplier effect dari kegiatan supply chain lainnya. Belum lagi kita bahas manfaat sampingan berupa wisata bahari yang dapat dikembangkan di sekitar kawasan.

Membangun di darat tidak menjamin rakyat Maluku akan menikmati manfaat besar. Bisa jadi manfaatnya hanya akan dinikmati oleh pemasok pipa, kontraktor, dan spekulan tanah. Belum lagi potensi konflik yang bisa timbul di daerah yang disebabkan oleh masalah lahan dan sejenisnya. Sebaliknya, FLNG akan mendatangkan laba jauh lebih besar bagi pemerintah yang dapat ditanamkan umpamanya untuk mengembangkan pusat pemerosesan produk laut yang akan sangat membantu nelayan dan pengusaha lokal.

Lalu buat apa semua ini kita utarakan padahal Presiden telah memberi kata akhir bagi pembangunan proyek gas Masela di darat? Bagi orang beriman, manusia boleh mengambil keputusan tetapi keputusan akhir selalu berada ditangan Yang Maha Kuasa. Siapa tahu dalam perjalanannya yang masih panjang, tangan Tuhan akan membimbing pimpinan nasional kita ke arah yang terbaik bagi bangsa ini.

Masela… oh Masela

Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi…

Perhatian insani (dinyanyikan dengan nada Bengawan Solo).[]

 

AA/Islam Indonesia/Sumber: Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *