Satu Islam Untuk Semua

Friday, 15 April 2016

OPINI–Klaim Generasi Pendahulu: Lebih Baik Selalu


wp-1459011319667.jpg

Oleh Parni Hadi

“Isih enak jamanku, tho?”, begitu bunyi poster dan spanduk dengan foto Pak Harto yang tersenyum ramah. Pesan dalam bahasa Jawa itu — secara harfiah berarti “Masih enak jamanku, tho?” — banyak terpampang di pinggir jalan dan lokasi strategis di berbagai kota, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjelang Pemilu dan Pilkada lalu.

Pesan dengan muatan politik yang kental itu mengajak orang untuk kembali ke situasi dan kondisi dengan tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya di era Orde Baru (Orba) selama 32 tahun di bawah pimpinan Jendral dan kemudian Pak (Presiden) Soeharto, mulai 1966.

Era itu sering dilukiskan para pendukung Pak Harto sebagai masa yang aman, tentram, sejahtera, murah sandang dan pangan. Tapi, bagi musuh Pak Harto era itu dianggap sebagai masa suram demokrasi, penuh represi untuk kebebasan berekpresi, termasuk pers. Tentara dan polisi (ABRI) tampil sebagai pengendali situasi dan kondisi di hampir semua lini kehidupan.

Tentu tidak adil untuk menyebut Orde Baru tidak membawa kebaikan apa pun bagi bangsa Indonesia. Salah satunya: tetap utuhnya NKRI. Keburukannya tentu ada pula. Salah satunya: tidak munculnya calon pemimpin alternatif, selain yang pro dan atau dibina Orba, selama tiga dasa warsa lebih. Biarlah mahkamah sejarah nanti yang menilai secara lebih adil tentang plus-minus Orba.

Para pengikut Bung Karno, yang oleh Orba disebut Orde Lama (Orla), mengajukan klaim bahwa di masa Orla, nasionalisme Indonesia lebih berjaya di banding di era Orba. Salah satu buktinya: masuknya modal asing berkat UU PMA (Penanaman Modal Asing) yang lahir di awal masa Orba. Sejak itu, kapitalisme masuk, merambah, meruyak dan menguasai tatanan ekonomi Indonesia dengan segala dampak negatif ikutannnya sampai sekarang. Bagi yang pro Orba, kapitalisme dianggap telah membawa kemajuan dan kemakmuran. Lagi-lagi, biarlah mahkamah sejarah nanti yang menilai.

Orang-orang yang pro Orba menilai Era Reformasi, sejak 1998 sampai sekarang, sebagai masa kemerosotan moral. Salah satu buktinya: meruyaknya korupsi di segala tingkatan cabang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ini akibat dari tiadanya pendidikan budi pekerti. Ini berbeda dengan pemerintah Orba yang melaksanakan pendidikan moral Pancasila, lebih terkenal dengan istilah P4, walau sekedar hapalan.

Pendukung Reformasi balik menuding, di era Orba korupsi sudah terjadi, tapi tidak terungkap karena tidak ada keterbukaan. Pendukung Orla dapat pula berkilah: “di Era Orla, belum banyak korupsi, karena masih miskin. Apa yang mau dikorupsi?”. Alhasil, ‘sami mawon” atau sama saja: kalau ada kesempatan akan melakukan korupsi juga.

Nampaknya klaim generasi pendahulu bahwa mereka lebih baik daripada generasi penerusnya sudah menjadi tradisi yang diidap manusia dan bangsa di mana pun dari jaman ke jaman sejak dahulu kala.  Salah satu buktinya: orang-orang yang pro penjajahan Belanda, sebelum proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, bilang: “Masih enak jaman normal”. Yang disebut jaman normal adalah era penjajahan Belanda, sebelum penjajah Jepang masuk. Jaman itu juga dilukiskan sebagai masa “tata tentrem” (tertib dan tentram), beda dengan masa yang penuh huru-hara setelah Indonesia merdeka.

Yang paling adil adalah mengatakan: setiap jaman mempunyai tantangan (dan kesempatannya) sendiri dan cara untuk mencari solusinya. Cara itu muncul berkat apa yang disebut Semangat Jaman atau “Zeit Geist” dalam bahasa Jerman.

Pendukung media sosial (medsos) mengatakan: inilah era kebebasan yang sesungguhnya bagi semua orang atau inilah bentuk demokrasi sejati. Yang kurang setuju medsos (walau juga memanfaatkannya) bilang: “Ini kebebasan yang kebablasan”. Tidak sesuai dengan kepribadian bangsa yang berdasar Pancasila.

Setiap generasi, termasuk wartawan, cenderung membanggakan capaian pribadi dan jamannya. Itu sering terungkap dalam pernyataan: “Jaman saya dulu, kita begini-begitu”. Intinya, lebih hebat, terutama lebih ulet dalam menghadapi tantangan dan penderitaan untuk mencapai hasil optimal. Saya teringat kisah seorang instruktut diklat jurnalistik tahun 1970 an yang dibuat mati kutu oleh komentar seorang peserta sbb: “Kalau sekarang pergi meliput berita dengan naik sepeda seperti jaman Bapak, kami bisa ditabrak mobil…”.

Dalam hal budi pekerti, kecenderungan generasi tua menilai dirinya lebih baik daripada penerusnya terbukti sudah sejak abad ke 18. Ini tertulis, misalnya, dalam ajaran “Wulangreh” karya Paku Buwono IV, raja Surakarta, tahun 1792 seperti dikutip buku “Pendidikan” Universitas Sarjanawiyata, Taman Siswa. Yogyakarta, 2010 berikut ini:

“Yen  wong-wong anom iku/kang kanggo ing masa iki/Andhap asor den bucal/Umbag gumunggung ing diri/Obral umuk kang den gulang/Kumenthus lengus kumaki”. Terjemahannya: “Jika orang-orang muda itu/yang berlaku saat ini/rendah hati ditinggalkan/sombong dan angkuh yang ada/kesombongan yang dipelajari/tinggi hati dan sombong”.

Padahal, generasi penerus adalah produk pendahulunya.

 

AA/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *