Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 21 February 2016

OPINI – Apa yang Sesungguhnya Terjadi di Suriah?


afp_7z62s.r.jpg

Oleh Stephen Kinzer, anggota senior studi Internasional Watson Institut, di Brown Univesity

Drama perang Suriah akan dikenang sebagai salah satu episode paling memalukan dalam sejarah pers Amerika. Salah satu alasannya adalah laporan pembantaian di kota kuno Aleppo.

Selama tiga tahun, militan yang kasar telah menguasai Aleppo. Kekuasaan mereka dimulai dengan gelombang penindasan. Mereka memasang tanda peringatan di sekitar pemukiman: “Dilarang mengirim anak-anak Anda ke sekolah. Jika Anda melakukannya, kita akan mendapatkan anak Anda sementara Anda akan mendapatkan peti mati.” Lalu mereka menghancurkan pabrik, bertujuan agar para pengangguran beralih pejuang. Mereka membawa mesin-mesin curian dengan truk menuju Turki untuk dijual.

Bulan ini, masyarakat Aleppo akhirnya melihat secercah harapan. Tentara Suriah dan sekutunya telah mendorong militan keluar dari kota. Minggu lalu mereka mengambil alih pembangkit listrik utama. Listrik pun dapat segera dipulihkan. Kekuasaan militan pun akan segera berakhir.

Perlawanan pasukan Rusia dan Suriah telah mengusir militan yang jadi malapetaka ke luar kota. “’Pemberontak moderat’ yang didukung Turki dan Arab telah menghujani perumahan Aleppo dengan roket yang tidak terarah dan botol gas,” tulis salah seorang warga Aleppo di media sosial. Pengamat asal Beirut, Marwa Osma bertanya, “Tentara Arab Suriah, yang dipimpin Presiden Bashar Assad, adalah satu-satunya kekuatan di sini, bersama dengan sekutu mereka, yang berjuang melawan ISIS—maka apakah Anda ingin melemahkan satu-satunya sistem yang berjuang melawan ISIS?”

Ini tidak sesuai dengan skenario Washington. Akibatnya, banyak dari media Amerika yang melaporkan kebalikan dari apa yang sebenarnya terjadi. Banyak laporan berita menyatakan bahwa Aleppo telah menjadi “zona yang dibebaskan” selama tiga tahun, namun sekarang sedang ditarik kembali ke dalam kesengsaraan.

Orang Amerika sedang diberitahu bahwa yang terbaik dilakukan di Suriah adalah melawan rezim Assad dan mitranya, Rusia dan Iran. Kita diharuskan berharap koalisi Amerika, Turki, Saudi, Kurdi, dan “oposisi moderat” adalah benar dan akan menang.

Ini adalah omong kosong, tapi masyarakat Amerika tidak bisa disalahkan karena mempercayainya. Kami hampir tidak punya informasi nyata tentang para militan, apa tujuan mereka, atau strategi mereka. Kebanyakan menyalahkan kebohongan ini pada media kita.

Di bawah tekanan dana, hampir semua koran Amerika, majalah, dan jaringan penyiaran secara drastis mengurangi koresponden asingnya. Banyak berita penting tentang dunia sekarang berasal dari wartawan yang berbasis di Washington. Dalam lingkungan seperti itu, akses dan kredibilitas berita tergantung pradigma yang diterima pegawainya. Wartawan yang meliput Suriah merujuk pada Pentagon, Departemen Luar Negeri, Gedung Putih, dan lembaga think-tank. Melalui pusaran kotor itu mereka merasa telah membahas semua sisi cerita. Bentuk stenografi ini menghasilkan ‘makanan’ bagi berita soal Suriah.

Para koresponden pemberani di zona perang, termasuk orang Amerika, secara mengherankan berusaha melawan laporan-laporan asal Washington. Mempertaruhkan keselamatannya sendiri, wartawan ini berusaha menemukan kebenaran tentang perang Suriah. Laporan mereka sering menerangi kegelapan kelompok pemikir. Namun bagi banyak konsumen berita, suara mereka hilang dalam keramaian itu. Pemberitaan langsung di lokasi sering mendapat halangan dari Washington.

Wartawan yang berbasis di Washington mengatakan pada kita bahwa salah satu kekuatan besar di Suriah—yakni al-Nusra—terdiri dari “pemberontak” atau “moderat,” bukan kepanjangan tangan al-Qaeda setempat. Arab Saudi digambarkan sebagai pembantu pejuang kemerdekaan padahal sebenarnya dia adalah sponsor utama ISIS. Selama bertahun-tahun Turki telah menggerakkan “jalur tikus” untuk militan asing yang ingin bergabung dengan kelompok teroris di Suriah, namun karena Amerika ingin Turki tetap terlihat baik, kita jarang mendengar hal itu. Tidak juga kita sering diingatkan—meskipun kita ingin mendukung yang para sekuler dan perlawanan keras Kurdi, Turki ingin menghabisi mereka. Apapun yang dilakukan Rusia dan Iran di Suriah digambarkan sebagai hal yang negatif dan tidak stabil, hanya karena merekalah yang melakukannya—dan itu adalah standar resmi Washington.

Mau tidak mau, jenis informasi yang salah ini telah mengalir ke dalam kampanye presiden Amerika. Pada debat terakhir di Milwaukee, Hillary Clinton menyatakan bahwa upaya perdamaian PBB di Suriah di dasarkan pada “Negosiasi yang dilakukan saya 2012 lalu di Genewa.” Persis kebalikannya adalah benar. Pada tahun 2012 skeretaris negara Clinton bergabung dengan Turki, Arab Saudi, dan Israel dalam upaya sukses untuk menggagalkan rancangan perdamaian PBB milik Kofi Annan karena akan mengakomodasi Iran dan menjaga kekuasaan Assad, setidaknya untuk sementara. Tidak ada satu orang pun di panggung Milwaukee yang dikenal cukup kuat untuk melawan Clinton.

Politisi mungkin dimaafkan atas kesalahan memutar balikkan tindakan masa lalunya. Pemerintah juga dimaafkan karena mempromosikan narasi apapun yang mereka percayai terbaik bagi mereka. Jurnalis, bagaimanapun, seharusnya tetap terpisah dari elite kekuasaan dan kebohongan bawaannya. Dalam krisis ini, mereka gagal.

Orang Amerika dianggap tidak mengetahui dunia. Memang, tapi begitu juga dengan orang-orang di negara lain. Jika orang di Bhutan atau Bolivia salah paham tentang Suriah, bagaimanapun, tidak ada pengaruhnya. Ketidak tahuan kita lebih berbahaya, karena kita bertindak berdasarkan itu. Amerika memiliki kekuatan untuk keputusan mati suatu bangsa. Hal ini bisa dilakukan dengan dukungan khalayak karena banyak orang Amerika – dan banyak wartawan – puas dengan pemberitaan resmi. Di Suriah, adalah: “Lawan Assad, Rusia, dan Iran! Bergabunglah dengan kami Turki, Saudi, dan teman-teman Kurdi untuk mendukung perdamaian!” Ini sungguh jauh dari kenyataan. Hal ini malah sepertinya dilakukan untuk memperpanjang perang dan menjerumuskan Suriah ke dalam penderitaan yang panjang dan kematian.

Chadijah/bostonglobe.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *