Satu Islam Untuk Semua

Monday, 15 August 2016

Nestapa Pekerja Indonesia yang tak Terima Gaji dari Bin Ladin Group


PRT-Saudi

Islamindonesia.id–Nestapa Pekerja Indonesia yang tak Terima Gaji dari Bin Ladin Group

Sedikitnya 60 orang buruh  Indonesia hidup terkatung-katung di sebuah kamp di Arab Saudi setelah Bin Laden Group, gergasi konstruksi, memecat dan tak membayar gaji mereka sejak Maret di tengah krisis ekonomi yang mendera Kerajaan, kata sebuah pesan berantai yang sampai ke redaksi Islam Indonesia
“Beberapa pekerja terpaksa berhutang kepada sesama warga Indonesia,” kata pesan yang menyertakan nomer kontak pekerja yang terpenjara di kamp milik Inma, anak perusahaan Bin Laden Group.
Pesan juga menyebut kemungkinan nestapa serupa menimpa banyak pekerja Indonesia lainnya yang tersebar di berbagai perusahaan subkontraktor maupun perusahaan induk Bin Laden. Yang terakhir memecat banyak pekerjanya setelah pemerintah Saudi menunggak pembayaran proyek karena krisis keuangan.

Sejumlah negara, utamanya Filipina dan India, dalam dua pekan terakhir menggelar operasi penyelamatan khusus atas puluhan ribuan orang buruh yang terperangkap di Saudi pasca krisis keuangan Kerajaan yang berlatar anjloknya harga minyak dan mahalnya ongkos perang di Yaman.

Berikut isi pesan berantai terkait nestapa pekerja Indonesia di Saudi:

Sabtu, 13 Agustus 2016. Kamp Inma adalah sebuah perumahan yang terletak di wilayah Hamdaniah, dekat Terminal Haji, Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Sekilas rumah tersebut terlihat mewah, namun begitu masuk akan segera terlihat sisa makanan dan sampah lainnya bertaburan di lantai. Ada beberapa kamar tidur di setiap lantai, masing-masingnya diisi 8 orang yang tidur di 4 tempat tidur bertingkat. Kondisi kamar tidur jauh dari kesan rapi, sebab seluruh barang milik semua penghuni kamar disimpan di sana.

Ada 59 pekerja Indonesia yang berada di kamp itu dan semuanya adalah pegawai Inma, subkontraktor Bin Ladin Group. Perusahaan ini mendapat kontrak mengerjakan instalasi listrik dan perlengkapan untuk perluasan Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Kondisi para saudara kita tersebut memprihatinkan. Sejak Maret 2016 mereka tidak pernah menerima gaji. Beberapa pekerja terpaksa berhutang kepada sesama warga Indonesia. Bahkan, beberapa di antara mereka terpaksa dikirimi uang dari Indonesia agar bisa bertahan hidup di Saudi sambil menunggu kejelasan status pembayaran tunggakan gaji dan tiket pulang.

Saat ini mereka sangat membutuhkan bantuan berupa makanan dan uang. Lebih jauh lagi, saudara-saudara kita tersebut membutuhkan bantuan kita untuk menyuarakan penderitaan mereka kepada pihak terkait di Saudi dan Indonesia agar mereka bisa mendapatkan gaji dan tiket pulang. KJRI Jeddah sebenarnya sudah coba membantu mendampingi mereka dalam pembicaraan dengan perusahaan,  namun proses ini makan waktu, sementara kondisi perusahaan sendiri sedang sulit karena keterlambatan pembayaran dari pemerintah Saudi.

Selama ini mereka pernah menerima bantuan makanan dari pihak KJRI Jeddah dan dari Buruh Migran Indonesia (BMI).

Beberapa pekerja terpaksa nekat menyambung hidup dengan mengumpulkan karton bekas untuk dijual. Namun, tidak semuanya berani melakukan hal ini karena pekerjaan tersebut ilegal. Lebih parah lagi, beberapa pekerja sudah habis masa berlaku iqama-nya (Kartu Izin Tinggal, Resident Identity Card).

Menurut informasi beberapa pekerja Indonesia di Jeddah, selain Inma, masih ada sejumlah pekerja Indonesia yang mengalami nasib serupa. Mereka tersebar di beberapa perusahaan subkontraktor dan perusahaan induk Bin Ladin. Informasi ini memang masih harus diverifikasi lagi, namun apa yang dialami oleh para pekerja Inma menunjukkan bahwa urusan pembayaran gaji pekerja Bin Ladin masih jauh dari selesai. Saudara-saudara kita tersebut membutuhkan uluran tangan kita, dalam berbagai bentuknya.

Mereka sangat membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperjuangkan hak mereka. Di India, Pakistan, dan Filipina, isu ini sudah menjadi perhatian pimpinan negara-negara tersebut. Ketiga negara sudah mengirimkan paket bantuan khusus dan delegasi tingkat tinggi ke Saudi untuk menyelesaikan masalah ini.

Contact Person di Kamp Inma:

Sukayat (+966530047248)

Martoyo (+966501456975).[]

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *