Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 04 January 2017

Nenek 80 Tahun ini Jualan Kacang Rebus untuk Beli Kain Kafan dan Batu Nisan


nenek-80-tahun-ini-jualan-kacang-rebus-untuk-beli-kain-kafan-dan-batu-nisan

islamindonesia.id – Nenek 80 Tahun ini Jualan Kacang Rebus untuk Beli Kain Kafan dan Batu Nisan

 

Di tengah hiruk pikuk libur akhir tahun di Yogyakarta, beredar viral kisah mengharukan seorang penjual kacang di Alun Alun Utara.

Mbah Dul, demikian netizen menyebutnya, mengumpulkan uang dari hasil berjualan kacang untuk membeli kain kafan dan batu nisan.

Kisah yang mengingatkan netizen agar tak hanya memikirkan kehidupan dunia itu diviralkan oleh netizen Momo Doang di grup Info Cegatan Jogja.

Ia mengaku bertemu penjual kacang rebus berusia 80 tahun itu pada Senin (2/1/2017) sore.

Mbah Dul tinggal di jalan Wonosari, yang masuk wilayah Piyungan, Kabupaten Bantul. Ia pergi ke Alun Alun Utara menumpang bus angkutan umum.

Momo merasa terharu setelah tahu kacang rebus Mbah Dul bukan buatannya sendiri. Wanita sebatang kara itu mengambil dari seseorang dan menjualnya seharga Rp 5.000.

Uang hasil jualan tak hanya sekadar dipakai makan. Mbah Dul mengumpulkan uangnya untuk membeli kain kafan dan batu nisan bila ia meninggal kelak.

Momo menuturkan tak tahu secara pasti sejak kapan wanita lanjut usia tersebut berjualan di kawasan sekitar Kraton.

Ia mengaku akan berkunjung ke sana lagi karena ada titipan dari seorang teman yang harus disampaikan kepada Mbah Dul.

Berikut postingan lengkap Momo:

 

Cerita tadi sore.

Tadi sehabis maghrib saya berniat ke keraton Yogyakarta untuk sekedar melepas kangen pada bangunan termegah di kota ini.

Setelah beberapa kali membidikkan lensa ke arah keraton dan Altar, lensa saya tertarik mengarah ke suatu pemandangan yang cukup menarik yaitu seorang nenek yang sedang berjualan kacang rebus.

Setelah saya menghampiri dan sedikit mengobrol ternyata beliau bernama Mbah Dul berusia 80 tahun yang bertempat tinggal di Piyungan Jl. Wonosari. Setiap hari beliau berjualan di depan keraton dan beristirahat di pendopo sebelah timur altar untuk pulang keesokan harinya dengan menaiki bus.

Sembari air matanya mengalir beliau bercerita ternyata kacang rebus jualannya bukan miliknya sendiri tetapi mengambil dari seorang juragan dan dijual 5000 rupiah setiap bungkusnya. Yang membuat saya nyesek ketika beliau bercerita bahwa uang yang beliau dapat dikumpulkan untuk membeli kain kafan untuk membungkus jenazahnya kelak dan sekarang sedang mengumpulkan uang untuk membeli batu nisan. Beliau hidup tanpa suami maupun putra dan tinggal di sebuah gubug buatan saudaranya.

Maaf saya tidak bermaksud apapun, hanya ingin sekedar berbagi cerita di sudut kota kita tercinta ini dengan berbagai permasalahan yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Monggo bisa kita ambil hikmah dari cerita tersebut untuk kita renungkan bersama agar lebih menghargai hidup, agar lebih baik dari sebelumnya.

Terimakasih dan semoga bisa kita ambil hikmahnya. 

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *