Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 12 November 2015

Muharram, Momen Hilangkan Kebencian & Kekerasan


Ap0pUn7ozmHdieY9aNzK6gR5r-Y6PwGyvPgUgU4m29EU

Cendekiawan muda Zuhairi Misrawi dalam sebuah seminar bertajuk “Memaknai Tradisi Muharam Sebagai Kekayaan Bangsa dan Khazanah Islam Nusantara” di Jakarta kemarin mengatakan, bulan Muharam, selain untuk mengenang kesyahidan Imam Husein cucunda Rasulullah SAW, juga penting dijadikan momen dimana tidak ada lagi kekerasan dan kebencian. Sebab, menurutnya, Muharram merupakan salah satu bulan dimana tidak boleh orang melakukan peperangan apalagi menumpahkan darah, khususnya di kalangan umat Islam.

Intelektual muda Nahdlatul Ulama  jebolan Universitas Al-Azhar ini, menyayangkan terjadinya peristiwa Karbala pada bulan Muharam yang menyalahi hukum, etika dan nilai-niai dalam Islam. “Bahwa bulan Muharam adalah bulan suci dan tidak boleh diteteskan darah, apalagi darah cucu Rasulullah,” ujarnya.

Kisah heroik kepahlawanan Sayyidina Husein itu hingga kini terlestarikan melalui ragam tradisi dan budaya termasuk di Indonesia. Ini yang juga menjadi alasan penyelenggara, kelompok kajian Dzulfiqar, mengadakan seminar yang terselenggara di gedung Syahida INN Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Muhammad Rusli Malik, pengasuh kajian Dzulfiqar, menuturkan acara itu diselenggarakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa kebudayaan harus dihormati. “Di masyarakat kita, tradisi Muharram sudah menjadi bagian dari kebudayaan. Kebudayaan itu harus dilestarikan. Karena kebudayaan merupakan habitat sebuah komunitas hidup. Kalau habitat itu dirusak ya sama saja harimau kehilangan hutannya, dia tidak bisa hidup,” tutur Rusli Malik kepada Islamindonesia.id saat ditemui usai acara.

Seminar dimeriahkan dengan penampilan Tari Saman, lagu Daerah Jawa Barat, Bubuy Bulan, serta penayangan film dan pagelaran foto-foto tradisi Muharram di seluruh dunia, yang kesemuanya memiliki kaitan historis dengan kisah kepahlawanan Sayyidina Husein di Karbala. Pengenalan terhadap figur, terlebih figur keluarga nabi, salah satunya melalui pelestarian tradisi-tradisi Muharram, penting bagi umat Islam untuk lebih mengenal agamanya. Ini yang juga ditekankan oleh Zuhairi dalam forum itu. “Saya mengambil kesimpulan bahwa kenapa orang Islam jauh dari agamanya? Karena umat jauh dari keluarga nabi.”

Lebih lanjut Zuhairi menceritakan pengalaman pribadinya. Ia menuturkan bahwasannya hingga menjadi alumni Al-Azhar pun, tidak ia dapati pelajaran tentang kisah sejarah Sayyidah Fathimah secara utuh. Baru melalui diskusi dan pencarian, ia menemukan dan menyesali kenapa ia tak menemukannya sejak dulu.

Malik/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *