Satu Islam Untuk Semua

Monday, 03 July 2017

Muhammadiyah: Tantangan Bangsa Harus Dihadapi dengan Karya Nyata yang Unggul


Muhammadiyah

islamindonesia.id – Muhammadiyah: Tantangan Bangsa Harus Dihadapi dengan Karya Nyata yang Unggul

 

Pimpinan Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, dalam kehidupan bangsa, banyak hal yang tidak sejalan dengan spirit, pikiran, dan cita-cita nasional akibat globalisasi dan ekspansi politik, ekonomi, dan budaya global. Karena itu, menurut Haedar, semua harus dihadapi dengan jalan membangun Indonesia menjadi bangsa dan negara yang kuat

Kalau kita lemah, lanjut Haedar maka kita tidak akan memiliki sesuatu yang menjadi keunggulan dan kebanggaan, selamanya akan tertinggal dan menjadi objek penderita. “Semua harus dihadapi dengan keunggulan spirit, pikiran, dan karya terbaik. Itulah misi Islam dan Muhammadiyah yang berkemajuan,” kata pria kelahiran Bandung ini seperti dilansir Muhammadiyah.or.id, 1 Juli.

Bagi Haedar, tantangan dan agenda terberat umat Islam dan Muhammadiyah saat ini dan ke depan, yaitu memberi jawaban alternatif. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia memasuki fase baru hidup dalam persaingan tinggi.

Spirit melawan harus diiringi membangun, jika tidak hanya akan merasa sukses dengan melawan melalui kata-kata, minus karya nyata yang unggul dan menjadi alternatif. “Kalau kita tidak suka dengan jalan orang, bikinlah jalan sendiri yang lebih baik,” katanya.

Jebolan Universitas Gadjah Mada ini bilang, sudah tinggi waktunya umat Islam memberi jawaban-jawaban atas masalah yang pelik dengan pandangan yang luas dan langkah yang strategis, serta membuahkan hasil yang terbaik. Inilah yang disebut Muhammadiyah sebagai era al-jihad lil-muwajahah, yakni perjuangan sungguh-sungguh membangun sesuatu yang unggul sebagai pilihan terbaik atas hal yang tidak dikehendaki.

Pengalaman Muhammadiyah, menurut Haedar, justru membangun melalui kerja-kerja konrit, produktif, tersistem, berkelanjutan, dan hasilnya dapat dirasakan umat, warga, dan masyarakat luas.

“Semangat menggugat itu baik sebagai tanda kita memiliki militansi, namun semangat militan tersebut harus disertai dengan semangat dan kerja membangun agar ada hasilnya dan tidak berhenti pada perlawanan semata,” katanya.

Seperti diketahui jamak, gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada ajaran Al Quran, di antaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Ayat tersebut, menurut sejumlah tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.[]

 

 

YS/ Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *