Satu Islam Untuk Semua

Friday, 09 September 2016

Misa Katolik Dibubarkan Paksa di Solo, Polisi: Pendiri Bangsa Bukan dari 1 Agama


49intoleransi-beragama-430x350

IslamIndonesia.id – Misa Katolik Dibubarkan Paksa di Solo, Polisi: Pendiri Bangsa Bukan dari 1 Agama

 

Ibadah misa arwah atau peringatan 1.000 hari seorang yang telah meninggal di Pendapa KelurahanPenumping, Kecamatan Laweyan, Solo, dibubarkan paksa oleh sekelompok orang, Selasa (6/9/2016) malam.

Informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi pukul 19.30 WIB, bermula warga Penumping, Ursula Yanita (37) mengadakan misa arwah ibunya, Lestari di Pendapa Kelurahan Penumping.

Dipilihnya pendapa kelurahan itu karena ruangnya muat untuk menampung ratusan tamu undangan yang hadir.

“Sebenarnya ada tiga alternatif tempat, yakni rumah, gereja dan pendapa kelurahan,” katanya saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (7/9/2016).

Karena tamu undangan tidak hanya dari umat Katolik, cucu almarhumah Lestari ini memilih Pendapa Kelurahan Penumping.

“Ayah saya kebetulan aktif di kelurahan dan saya putuskan acara dilaksanakan di pendapa kelurahan,” kata Ursula.

Dia tidak menduga misa arwah yang dilakukan tersebut akan dibubarkan paksa sekelompok orang.

“Awalnya ada satu orang mengambil foto pendapa, kemudian pergi dan tiba-tiba datang lagi jumlahnya ada puluhan orang,” katanya.

Puluhan orang tersebut langsung mengeluarkan peringatan kepada para peserta misa untuk segera membubarkan diri.

“Kebetulan acaranya sudah sampai inti dan tinggal ramah tamah saja,” ungkapnya.

Setelah itu datang petugas kepolisian dari Polsek Laweyan dan satu persatu sekelompok orang membubarkan diri.

“Baru pertama kali ini terjadi, sebelumnya pernah mengadakan tidak dibubarkan paksa,” kata dia.

Camat Laweyan, Hendro Pramono, mengaku peristiwa itu sudah diselesaikan dengan baik.

Pihaknya berharap peristiwa serupa tidak terjadi kembali terulang.

“Ini hanya salah paham, sudah diselesaikan dengan baik-baik,” katanya.

Terpisah, Kapolsek Laweyan, Kompol Agus Puryadi, mengimbau, kepada warga masyarakat meskipun berbeda agama, ras, suku untuk saling menghargai dan menghormati.

“Bahwa kita negara yang terdiri beberapa suku, dan beberapa perbedaan yang tergabung dalam kebhinekaan, pendiri bangsa kita juga bukan dari satu agama tertentu maka mari kita saling menghormati,” katanya. []

 

YS/Sumber: solo.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *