Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 21 September 2017

Milad ke-35 Ponpes An Nahdlah dan Pesan Gurutta Harisah


Milad ke-35 Ponpes An Nahdlah dan Pesan Gurutta Harisah

islamindonesia.id – Milad ke-35 Ponpes An Nahdlah dan Pesan Gurutta Harisah

 

Aula Kampus 3 Pondok Pesantren (Ponpes) An Nadhlah, Tallo, Makassar, dipadati ratusan santri dan alumni, Rabu (20/9/2017) malam.

Mereka bersimpuh menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H dan Milad Ke-35 Ponpes An Nadhlah.

Khataman Al Quran dan doa awal tahun dipandu Pimpinan II Ponpes An Nahdlah Dr Firdaus Muhammad.

Pesantren An Nahdlah didirikan oleh Anre Gurutta Haji (AGH) Muh Harisah AS melalui majelis taklim pengajian kitab kuning. Santri pertama, antara lain, Dr KH Afifuddin Harisah yang kini memimpin pesantren.

Ponpes An Nahdlah tidak seperi kebanyakan pesantren di Indonesia. Mungkin satu-satunya pesantren yang berdiri tanpa batas dengan pemukiman masyarakat.

Ponpes An Nahdlah kokoh berdiri tanpa tembok pembatas di tengah hiruk-pikuk Pasar Cidu, Kecamatan Tallo, Makassar.

Meski tidak diinapkan dalam satu bangunan, para santri rutin mengikuti pengajian usai Salat Magrib dan Salat Subuh.

Setiap menjelang Salat Magrib dan Salat Subuh, para santri bermunculan di masjid mengikuti pengajian.

Pasar Cidu menjadi saksi kesibukan masyarakat melakoni kehidupan duniawi. Saban waktu, salah satu pasar treadisional tertua di Makassar itu menggeliat di Kelurahan Layang, Bontoala, Makassar.

Namun, kesibukan di Pasar Cidu teredam oleh aktivitas ukhrawi di Pondok Pesantren An Nahdlah. Lokasi pesantren ini hanya puluhan meter dari lokasi Pasar Cidu.

Memasuki kawasan pesantren itu, kehidupan terasa berubah. Senyap nan syahdu. Kita Suci Al Quran mengalun mesra setiap saat dari menara masjid di tengah pesantren. Sesekali menara itu mengeluarkan suara lagu nasyid, kasidah, hingga pengumuman-pengumuman penting.

Suara Anre Gurutta Haji Muhammad Harisah HS juga memancar dari menara itu kala menuntun para santri dan warga sekitar.

Deru Kota Makassar tak mampu mengikis tekad pembina An Nahdlah. Pengajian klasik dengan kitab kuning kuno masih menjadi andalan. Pesantren ini memang mengusung motto: almuhafadhatu ‘alalqadimi shshalih, wal akhzu biljadidil ashlah, Memelihara Yang Lama Yang Baik dan Menerima Yang Baru Yang Lebih Baik.

Dengan motto itu, An Nahdlah memegang teguh prinsip, berdiri untuk mengembangkan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah. Dan istiqamah mengawal visi, terbinanya kader ulama dan calon pemimpin yang memiliki hidup mandiri, berakhlak mulia, menjadi teladan serta mengabdi kepada Allah SWT.

Misi pesantren juga dibangun dari pondasi itu. Ada tiga misi pesantren ini. Pertama menyelenggarakan proses pendidikan Islam yang berorientasi pada mutu tinggi dan berbasis pada sikap spritual intelektual dan moral guna mewujudkan kader ulama/pemimpin yang menjadi rahmatan lil alamin.

Kedua, mengembangkan pola kerja pondok pesantren dengan berbasis pada manajemen profesional yang islami guna menciptakan suasana kehidupan di lingkungan pondok pesantren yang tertib, aman. dan damai.

Ketiga, meningkatkan citra positif lembaga pendidikan pondok pesantren yang berwawasan sains dan teknologi informasi serta tetap melestarikan budaya tradisional yang Islami.

Pesantren An-Nahdhlah telah melahirkan sejumlah tokoh nasional. Mantan Anggota Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan penulis buku Pesantren Studies, Ahmad Baso, adalah alumnus angkatan pertama An Nahdlah.

Uniknya, pesantren yang identik dengan kehidupan asrama, An-Nahdlah justeru menyebar para santrinya untuk bermukim di pemukiman yang ada di sekitaran pesantren yang didirikan oleh AGH Muh Harisah AS itu.

Ada tantangan bagi para santri yang mengenyam pendidikan di pesantren tersebut, hal itu terlihat dari kondisi sosial yang berbanding terbalik dari kehidupan pesantren.

Ponpes An Nahdlah masih mempertahankan pendidikan tradisional di tengah hiruk-pikuk warga Kota Makassar.

An Nahdlah dinyatakan berdiri pada 20 September 1982. Penanda ini berasal dari proses pendidikan pertama yang dilakukan Anre Gurutta Haji (AGH) Muhammad Haritsah.

An Nahdlah berawal dari kegelisahan AGH Haritsah terhadap masa depan generasi Islam di sekitar kediamannya di Layang. Dia lalu mengumpulkan anak-anak usia sekolah untuk diberi pendidikan khusus.

Awalnya hanya 7 orang yang terkumpul dan mengikuti pengajian di kediamannya pada 20 September1982 itu, masing-masing Afifuddin Haritsah, Usman Abdullah, Abd Rahman Roa, Abd Rahman Bantam, Muh Ridwan Oyo, Sahabuddin, dan Zainal Abidin.

Mereka digembleng khusus menggunakan kitab kuning. AGH Haritsah menamakan pengajiannya itu Majelis Ta’lim Ashabul Kahfi. Aktivitas pengajian tersebut mendapat perhatian masyarakat setempat.

Seiring semakin banyak peserta, pengajian dipindahkan ke Masjid Quba, sekitar rumah sang guru.

Pengajian itu kian hari bertambah hingga santrinya mencapai ratusan. Bukan hanya pelajar SD, SMP, SMA, bahkan juga berasal dari mahasiswa, sarjana, dan masyarakat sekitar masjid. Karena padatnya pengajian dengan sistem halqah ini, maka dibentuklah Majelis Ta’lim Assyafi’iyah kemudian diubah menjadi An Nahdlah pada 4 Januari 1985 atas restu Al-‘allamah Nashirussunnah AGH Muh Nur.

Setahun kemudian, 20 Januari 1986, Majelis Ta’lim Annahdlah resmi ditingkatkan menjadi Pesantren An Nahdlah.

Dalam membina santri-santriwati di An Nahdlah tradisi pesantren masih diutamakan, tanpa mengabaikan kurikulum kementerian agama lewat sistem madrasah.

Pesan Gurutta Harisah

Pendiri Ponpes An Nahdlah, AGH Harisah, wafat pada Senin (20/5/2013), sekitar pukul 17.00 WITA. Alumnus Ponpes As’adiyah itu menghembuskan napas terakhir di ruang ICU Rumah Sakit Wahidin Sudirohusono, Makassar.

Gurutta Harisah berjuang melawan penyakitnya selama 10 hari di Private Care Centre (PCC) Wahidin. Sebelumnya, alumnus Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Wajo, itu dirawat sebulan lebih di Rumah Sakit Awal Bross, Jl Urip Sumoharjo, Makassar.

Gurutta Harisah membangun An Nahdlah seorang diri dari nol. Dia berusaha menghimpun anak-anak sekitar kediamannya untuk diajar kitab kuning ala pesantren, mangngadi tudang. Awalnya hanya 7 orang yang terkumpul dan mengikuti pengajian di kediamannya pada 20 September1982 itu.

AGH Harisah berpulang ke rahmatullah dengan membawa selaksa kesan dan kenangan kepada puluhan ribu santri, kerabat, sahabat, dan keluarga.

Sejak menggeluti pesantren, Gurutta Harisah nyaris tak pernah tinggalkan pesantren. Kecintaan AGH Harisah pada tradisi pesantren sulit dicari duanya. Godaan duniawi yang menghampiri seiring dengan semakin merebaknya ketokohan tak ia gubris.

Hingga ajal menjelang, kecintaan Gurutta Harisah pada santrinya tak pupus. Menantu Gurutta Harisah, Dr Firdaus Muhammad, menceritakan detik-detik terakhir menjelang kepergian almarhum.

Menjelang cuci darah kali kedua di Wahidin, Gurutta Harisah tiba-tiba sadar dan memanggil anak-anak dan menantunya. “Gurutta sempat sadar dan minta dipulangkan ke rumah. Beliau minta dipulangkan karena katanya santri-santri beliau sudah menunggu,” ungkap Firdaus.

Namun karena dokter mengharuskan harus cuci darah lagi, keluarga pun menolak permintaan Gurutta untuk dipulangkan saat itu.

Proses cuci darah yang kedua pun dilakukan. Menjelang proses medis itu, Gurutta sadar lagi dan memanggil keluarganya.

“Kami semua, anak-anaknya, mendampingi beliau saat terakhir. Beliau berpesan, jaga tradisi pesantren dan NU, jaga salat, dan ke Mekah naik haji. Kami mengantar kepergian beliau dengan syahadat sempurna. Kami sangat mencintai beliau, tapi Allah SWT lebih mencintainya. Kami semua menangis, tapi tidak berani memperdengarkan suara tangis karena Gurutta melarang kami menangisi kepergiannya,” jelas Firdaus.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *