Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 13 April 2016

Menlu Retno: OKI Wajib Promosikan Islam Rahmatan Lil Alamin


Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi dalam pertemuan Council of Foreign Ministers dalam rangka persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Pertemuan Council of Foreign Ministers di Istanbul Selasa (12/04) kemarin berlangsung dalam rangka persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di kota yang sama 14-15 akhir pekan ini. Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa OKI harus mampu menjawab tantangan baru dunia. “OKI harus mampu menjalankan kegiatan “Go beyond business as usual,” ujar Menlu RI.

Menlu RI juga menegaskan bahwa negara anggota OKI memiliki kewajiban untuk secara terus-menerus mempromosikan Islam sebagai “Rahmatan-lil-Alamin”. Piagam OKI memandatkan negara anggota untuk menjaga dan mempromosikan nilai Islam yang damai, toleran, setara, adil, dan mengedepankan martabat manusia.
Terkait banyaknya konflik di negara-negara OKI, Menlu Retno menggarisbawahi pentingnya persatuan dalam OKI untuk dapat menyelesaikan perbedaan dan konflik secara damai serta menghadapi berbagai tantangan terkini di Dunia Islam. Indonesia menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara anggota terhadap inisiatif Indonesia untuk membentuk OIC Contact Group on Peace and Conflict Resolution (Kelompok Penyambung OKI untuk Kedamaian dan Penyelesaian Konflik). Hal ini diharapkan membantu dan mencari solusi secara damai dari berbagai konflik yang ada di dunia Islam.

Pertemuan Council of Foreign Ministers dalam rangka persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Pertemuan Council of Foreign Ministers dalam rangka persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Dalam kesempatan tersebut, Menlu RI menyesalkan bahwa umat Islam saat ini berada di tengah masalah migrasi ireguler di Eropa dan laut Andaman Mei tahun lalu. Negara-negara OKI dipandang harus bekerja sama mencari solusi mengatasi masalah ini di negara asal. Langkah yang dilakukan oleh Bali Process, menurut Menlu Retno, dapat menjadi contoh untuk OKI dalam mengatasi isu migran ireguler. “Tanpa perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan di negara asal isu migran ireguler akan terus menjadi masalah,” tutur Menlu RI.

Dalam pertemuan itu, menurut koran terbesar Lebanon Assafir, Indonesia bersama Lebanon, Aljazair dan Iran menolak tegas permintaan sejumlah kerajaan Arab Teluk yang menginginkan dimasukkannya paragraf yang mengutuk apa yang disebut sebagai operasi militer Hizbullah di Lebanon, Suriah, Yaman dan Irak. Permintaan ini dianggap tidak berdasar dan bertentangan dengan semangat OKI yang ingin memajukan Islam Rahmatan Lil Alamin dan penyelsaian konflik internal umat Islam secara elegan dan adil.

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *