Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 04 October 2015

Menanti Janji Jokowi ‘Hari Santri Nasional’


jihad

Peranan santri dan pesantren dalam memperjuangan kemerdekaan sangatlah besar, maka sepantasnya negara segera menetapkan Hari Santri Nasional, kata KH Abdul Ghoffar Rozien.

“Hari Santri Nasional tidak sekadar memberi dukungan terhadap kelompok santri. Justru, inilah penghormatan negara terhadap sejarahnya sendiri”, ujar ulama sekaligus ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama, seperti dilansir situs resmi NU.

Meski Presiden Joko Widodo sewaktu kampanye sempat mencanangkan Hari Santri pada 1 Muharram, namun menurutnya lebih pas tanggal 22 Oktober, karena tiga alasan;

Pertama, 22 Oktober adalah hari Resolusi Jihad yang digelorakan KH. Hasyim Asy’ari.

“Ini peristiwa penting yang menggerakkan santri, pemuda dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial, yang puncaknya pada 10 Nopember 1945.” katanya.

Kedua, jaringan santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan keseimbangan. Sejak dahulu, kiai dan santri sudah sadar pentingnya konsep negara yaitu memberi ruang berbagai macam kelompok dan agama yang berbeda agar dapat hidup bersama.

ketiga, pada Muktamar NU di Situbondo, 1984, dirumuskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI harga mati yang tidak bisa dikompromikan.

Kontribusi pesantren kepada negara ini sudah tidak terhitung lagi, katanya.

MA/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *