Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 21 January 2017

Menag Ajak Kedepankan Islam Promotif Bukan Konfrontatif


Menag Ajak Kedepankan Islam Promotif Bukan Konfrontatif

islamindonesia.id – Menag Ajak Kedepankan Islam Promotif Bukan Konfrontatif

 

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mendorong semua pihak, khususnya para da’i atau pendakwah agar senantiasa mengedepankan dakwah yang promotif bukan dakwah konfrontatif, berdakwah untuk mengajak bukan mengejek, berdakwah mempromosikan nilai Islam yang positif.

“Islam itu yang sebenarnya yang kita kedepankan, yaitu Islam yang promotif bukan Islam yang konfrontatif,” kata Menag di hadapan pimpinan dan santri pondok pesantren Ismailiyah Al-Muhtadi Lamongan, Kamis (19/1/2017) lalu.

Selain menekankan dakwah yang promotif, Menag menyampaikan, pada masa kolonialisme, rakyat Indonesia dilemahkan, sesama anak bangsa dipisah-pisahkan, dibenturkan dan diadu. Sampai sekarang, perilaku ini meski kita sudak tidak dijajah, namun ada pihak lain yang berupaya membenturkan sesama anak bangsa.

“Ini penting untuk dipahami, karena bangsa ini adalah bangsa besar dan kaya,” kata Menag.

Menurutnya, di tengah corak kehidupan sekarang yang serba kompetitif, Indonesia menjadi negara yang diperebutkan banyak pihak, sehingga banyak upaya dan kepentingan berbagai pihak yang berkeinginan agar bangsa ini dilemahkan, diadu sehingga tidak berpikir produktif, dengan membesar-besarkan perbedaan.

Dikatakan Menag, kita perlu mewaspadai hal ini, kita sudah dikenal sebagai negara yang religius, dan mayoritas Muslim, dan Islam yang berkembang adalah Islam yang moderat, rahmatal lil alamin. Umat yang menjunjung tinggi Islam tawazun (senantiasa menjaga keseimbangan) dan nilai-nilai tasamuh (toleran).

“Itulah nilai yang diajarkan para pendahulu kita, dan inilah yang saat ini mendapatkan ancaman oleh pihak yang membesarkan perbedaan, sehingga umat Islam waktunya habis oleh perbedaan yang tidak prinsipil, terlebih saat ini eranya era digital,” kata Menag.

Menurut Menag, sosial media itu luar biasa dan itu digunakan untuk membuat sibuk umat Islam membahas perbedaan yang tidak prinsipil.

Menag menegaskan, kita paham mengapa ada mazhab (fikih misalnya) yang beragam. Menurutnya, semua itu tidak untuk disatukan, tapi justru untuk memudahkan bagi kita memilih yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Yang dituntut kita adalah menyikapi keragaman dengan arif, bukan untuk menyeragamkan, karena itu melanggar sunnatullah,” tutur Menag.

Menag mengajak keluarga besar pontren, agar terus mengupayakan Islam yang moderat lestari di Nusatara ini, Islam yang mengajak, tidak mengejek, Islam yang promotif bukan Islam yang konfrontatif.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *