Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 22 January 2014

“Membaca” Nabi: Catatan Seorang Mahasiswa Katolik


Wikipedia

Belum lama ini Dunia Muslim memperingati Maulid Nabi, hari lahir Nabi Muhammad. Hari yang memberikan kesempatan untuk Muslim dan Non-Muslim, sebagaimana saya, seorang Katolik, merenungkan kehidupan dan ajaran Nabi Islam itu. Dalam tulisan pendek ini, saya ingin berbagi dengan Anda apa yang telah saya pelajari tentang Muhammad dan bagaimana catatan-catatan tentangnya membantu saya memahami Islam.

Ajaran Muhammad tentang bagaimana seharusnya memperlakukan kaum minoritas telah menjadikannya kampiun hak asasi universal. Ia mengajarkan kebebasan berkeyakinan, kebebasan beribadah, dan hak bagi kaum minoritas untuk mendapatkan perlindungan ketika ada sengketa.

Muhammad memprakarsai sejumlah perjanjian dengan umat Kristen dan Yahudi setelah membangun komunitas Muslim di Madinah. Sebagai contoh, perjanjian dengan para pendeta Kristen di Gunung Sinai, Mesir, di mana Muhammad meminta kaum Muslim untuk menghormati hakim dan gereja Kristen, dan tak seorang pun Muslim boleh memerangi saudaranya yang beragama Kristen. Melalui perjanjian ini, Muhammad menegaskan bahwa Islam, secara filosofis maupun politik, menghormati dan melindungi Kaum Kristen.

Sama halnya, dalam perjanjian Mekah, Nabi menyatakan kaum Yahudi “layak hidup tenang dan damai… aman (dalam perlindungan hukum Muhammad)… tak boleh ada permusuhan dan pelanggaran hak terhadap kaummu. Setelah hari (perjanjian) ini  tak seorangpun  boleh menindas atau melakukan kekerasan terhadapmu.” Dalam Piagam Madinah, dokumen kunci yang menjadi dasar tatanan sosial Muslim, Muhammad juga menekankan kepentingan umat Kristen dan Yahudi, dan menulis, “…bagi mereka agama mereka dan bagi Muslim agamanya… perlakukan sahabat-sahabat kaum Yahudi sebagaimana sahabat sendiri.” Dalam menjaga hak-hak kaum Yahudi, Muhammad menegaskan bahwa warga sebuah negara Islam tidak harus menganut Islam, dan kaum Muslim harus memperlakukan kaum Yahudi sebagaimana mereka memperlakukan teman mereka sendiri. Dalam mengembangkan perjanjian antara Muslim, Kristen, dan Yahudi ini, Muhammad juga sangat jelas menentang elitisme dan rasisme, dan menekankan kepada pengikutnya bahwa saudara-saudara mereka sesama pengikut agama Ibrahim sederajat di mata Tuhan.

Menurut Muhammad, inti ajaran Islam adalah kemanusiaan. Membaca khutbah terakhirnya di Arafah pada 632 M, saya jadi tahu bahwa Nabi memerangi rasisme jauh sebelum Martin Luther King Jr. Dan Nelson Mandela. Dalam khutbah itu, Nabi mengatakan, “Seorang Arab tidak lebih baik dari seorang yang bukan Arab, dan seorang  non-Arab tidak lebih baik ketimbang seorang Arab… seorang kulit putih tidaklah lebih baik daripada seorang yang berkulit hitam atau sebaliknya, kecuali karena takwa dan amal shalih mereka.” Khutbah terakhir Muhammad itu membuat saya paham bahwa Islam mengajarkan Muslim untuk bersikap toleran terhadap perbedaan dan menghargai keragaman.

Riset saya juga menunjukkan betapa Muhammad berbagi keyakinan yang sama dengan salah satu pendiri Amerika, George Washington. Saya menemukan kedua tokoh besar ini memiliki pendapat yang sama tentang tatanan sosial, kerendahan hati, penghormatan pada sesama dan, bahkan, tentang kebersihan. Dalam kaitan ini tampak, setidaknya di mata saya, nilai-nilai Islam yang diajarkan Muhammad dan nilai-nilai Amerika yang dinyatakan Washington adalah sama. Warga Amerika Muslim maupun non-Muslim dapat merujuk Nabi Muhammad dan George Washington untuk membangun jembatan saling pengertian di antara mereka.  

Membaca Muhammad memberikan kepada saya pelajaran yang sangat berharga tentang nilai-nilai dasar Islam, namun yang lebih penting ia juga adalah nilai-nilai kehidupan. Perlakuannya terhadap kaum minoritas dan keyakinan moralnya telah menyemangati saya untuk lebih aktif mempromosikan dialog antara umat Muslim, Kristen, dan Yahudi, di samping memperbaiki karakter dan perilaku saya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Tak diragukan lagi, pembacaan atas kehidupan Nabi menunjukkan kepada saya bahwa dia adalah teladan baik bagi Muslim maupun non-Muslim, dan bahwa umat manusia dapat mengambil manfaat serta hikmah dari nilai-nilai Islam. [Sumber: Huffington Post]

*) Craig Considine, kandidat PhD di Trinity College, Dublin, Sutradara film ‘Journey into America’ dan aktivis dialog antariman. Berbagai tulisan Craig dapat dibaca di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *