Satu Islam Untuk Semua

Friday, 09 November 2018

Masjid Kuning yang Konon Dibangun dengan Putih Telur


Masjid Kuning yang Konon Dibangun dengan Putih Telur

islamindonesia.id – Masjid Kuning yang Konon Dibangun dengan Putih Telur

 

Sebagai salah satu destinasi wisata, Pulau Penyengat yang terletak di kawasan Tanjungpinang, Kepulauan Riau dikenal memiliki icon yang wajib dikunjungi. Yakni Masjid Sultan Riau. Letaknya sangat strategis. Berada di dekat dermaga dan persis di depan gerbang bertuliskan “Selamat Datang”. Bangunan tersebut nampak megah dari luar. Warnanya kuning mencolok dengan aksen hijau. Itulah kenapa masjid ini dikenal juga dengan sebutan Masjid Kuning. Konon, masjid ini dibangun dengan bahan putih telur sebagai perekat. Putih telur dicampur dengan pasir, kapur, dan tanah liat. Begitu sejarahnya menurut marbot masjid tersebut.

Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman tahun 1832. Ia merupakan cucu dari Raja Haji Fisabililah, pahlawan nasional Indonesia asal Riau.

Bangunan utamanya berukuran 18 x 20 meter dan ditopang empat tiang beton.

Begitu naik tangga dan melewati gerbang masjid, di sisi kiri dan kanan terdapat pendopo.

Masjid tersebut memiliki 13 kubah yang bentuknya seperti bawang. Uniknya, jumlah keseluruhan menara dan kubah di masjid ini ada 17 yang melambangkan rakaat shalat lima waktu sehari semalam.

Marbot masjid mengatakan bahwa mulanya masjid tersebut dibangun dengan kayu. Bentuknya juga kecil, tidak sebesar saat ini. Namun, lama-lama masjid itu tak muat menampung masyarakat Pulau Penyengat untuk beribadah. Atas prakarsa Raja Abdurrahman, baru dibangun seperti kondisinya saat ini.

Hal menarik lainnya dari masjid ini yaitu adanya Al-Quran tulis tangan di masjid ini. Ayat suci Al-Quran itu ditulis tangan oleh Abdurrahman Stambul. Bukan Raja Abdurrahman yang memprakarsai masjid ini, melainkan penduduk biasa di Pulau Penyengat. Abdurrahman yang menulis Al-Quran ini dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama Islam. Begitu kembali, dia menjadi guru dan terkenal dengan Khat atau kaligrafi gaya Istanbul. Sambil dia mengajar, punya waktu luang, dia menulis. Namun tak diketahui persis, berapa lama Abdurrahman menyelesaikannya. Yang jelas, Al Quran itu selesai ditulis pada 1867.

Sebenarnya ada dua Al-Quran tulis tangan yang disimpan di Masjid Sultan Riau. Namun, Al-Quran lainnya yang ditulis orang lain itu sudah rapuh sehingga disimpan saja. Sedangkan Al-Quran buatan Abdurrahman dipajang untuk diketahui para pengunjung. Pada 2015 lalu, perwakilan dari Arsip Nasional datang ke Masjid Sultan Riau untuk memberi pengawet ke Al-Quran tulis tangan setiap lembarnya. Tujuannya agar keberadaannya dapat bertahan hingga 100 tahun ke depan.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *