Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 18 March 2014

Makna Selamat menurut Al-Asy’ari dan Al-Ghazali


h4nk.blogspot.com

Allah menghendaki siapa yang berhak masuk syurga atau mengampuni siapa yang masuk neraka karena rahmat-Nya.

 

Abu al-Hasan ‘Ali al-Asy’ari dalam “Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin” [Kairo: Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah, 1969, Juz I, h. 350], pada fasal “Hikayat Jumlah Qauli Ahlil Hadits”, menulis:

“Ahlus Sunnah menegaskan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan; bisa bertambah dan berkurang. Ahlus Sunnah menyatakan bahwa nama-nama Allah adalah Allah itu sendiri (bukan sesuatu yang eksistensinya terpisah). Ahlus Sunnah tidak bersaksi bahwa setiap pendosa besar akan masuk neraka, sebagaimana mereka tidak menghakimi bahwa setiap orang yang bertauhid akan masuk syurga, sampai Allah sendiri yang menentukan sesuai kehendak-Nya. Ahlus Sunnah menyatakan bahwa perkara orang-orang itu di syurga ialah diserahkan pada Allah. Jika Dia menghendaki, Dia mengazab mereka. Jika Dia menghendaki, Dia mengampuni mereka.”

***

Abu Hamid Al-Ghazali dalam “Fayshal at-Tafriqah”, fasal “Fi Ba’tsin-Nar” (Majmu’ah Rasa’il al-Imam al-Ghazali, Dar al-Kutub, 2006, Juz III, h. 96), menulis:

“Saya katakan, rahmat Allah meliputi banyak bangsa terdahulu, meskipun kebanyakan mereka akan dimasukkan ke neraka. Ada yang masuk dalam waktu yang sebentar, bahkan sesaat, ada pula yang dalam beberapa waktu, hingga mereka disebut dibangkitkan dari neraka (ba’tsin-nâr). Bahkan saya katakan: Kebanyakan orang Nasrani di Romawi dan Turki di zaman ini (zamannya al-Ghazali) akan terliputi rahmat Allah, jika Allah menghendaki. Maksud saya, mereka yang tinggal di pelosok Romawi dan Turki dan dakwah belum sampai kepada mereka.

Mereka (Nasrani Romawi dan Turki) terdiri dari tiga golongan. Pertama, golongan yang nama Muhammad belum sampai sama sekali kepada mereka. Mereka ini ditolerir (ma’dzurûn). Kedua, golongan yang sampai kepada mereka nama Muhammad, tahu sifatnya, dan mukjizatnya; mereka juga tinggal di dekat negara Islam bahkan bergaul dengan orang Islam. Mereka inilah yang ingkar. Ketiga, golongan yang berada di antara kedua golongan itu: telah sampai kepada mereka nama Muhammad, namun sifatnya belum sampai kepada mereka. Bahkan mereka mendengar sejak masa kecil mereka bahwa ada seorang pendusta bernama Muhammad yang mendaku sebagai nabi, sebagaimana anak kecil zaman ini (zamannya Al-Ghazali) sering mendengar ada seorang pendusta bernama Al-Muqaffa’ yang diutus Allah sebagai pendusta untuk menantang kenabian. Mereka, golongan ketiga ini, bagi saya, sebagaimana golongan yang pertama.” 

***

Abu al-Hasan ‘Ali al-Asy’ari (874-936 M) ialah perumus teologi Ahlus Sunnah wal-Jama’ah secara sistematis. Rumusan akidah mayoritas Sunni hari ini mengacu padanya. Di banyak kitab, ia kerap digelari dengan Syaikhu Ahlis Sunnah (Maha guru Ahlus Sunnah).

Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kerap digelari Hujjatul Islam itu, ialah penulis karya besar Ihya ‘Ulumuddin yang sampai hari ini banyak dikaji di berbagai universitas Islam dan pesantren. Ia menjadi rujukan ilmu-ilmu tasawuf Ahlus Sunnah wal-Jama’ah.

 

Sumber: Azis Anwar Fachrudin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *