Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 27 December 2018

Mahfud MD: Cuplikan Kenangan Tentang Gus Dur


248152_mahfud-md-siap-menjadi-capres-ataupun-cawapres_663_382

islamindonesia.id – Mahfud MD: Cuplikan Kenangan Tentang Gus Dur

 

Mahfud MD pada Kamis (27/12) dalam akun Twitter-nya menuliskan sebuah thread tentang Almarhum Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke-4, atau yang biasa disapa akrab Gus Dur. Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, dalam waktu dekat ini Indonesia akan mengenang sembilan tahun wafatnya Gus Dur.

Karena berhubungan dengan keterbatasan ruang penulisan pada Twitter, Mahfud MD banyak menggunakan kata yang disingkat. Atas pertimbangan itu redaksi mengedit tulisan Mahfud MD tanpa mengubah maknanya sama sekali agar lebih nyaman dibaca dalam bentuk satu artikel.

Berikut ini adalah tulisan lengkap Mahfud MD yang sudah diedit redaksi tanpa mengubah maknanya:

Sembilan tahun yang lalu, pada 30 Desember 2009, Gus Dur wafat, saya sedang ada meeting kecil dengan KH Hasyim Muzadi, Cak Choirul Anam, dan lain-lain di rumah dinas saya sebagai ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Ketika berita itu (sampai) tiba-tiba kami terdiam membisu agak lama. Tiba-tiba KH Hasyim berseru, “Alfatihah.”

Kami pun membubarkan diri dan secara sendiri-sendiri berangkat ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pintu masuk ke RSCM penuh sesak, tapi karena saya ketua MK, dibimbing masuk oleh aparat. Orang-orang histeris berteriak, “Gus Dur, Gus Duuur….” Di sebuah ruang yang berdesakan saya lihat Effendi Choiri memimpin tahlil sambil menangis.

Saya mendekati jenazah Gus Dur dan berdoa, tapi saya segera keluar karena banyak orang yang antre. Saya tidak menangis, sebagai Ketua MK saya ingin terlihat tegar dan tabah. Saya hanya berdoa. Tapi begitu tiba di luar ruangan, ajudan saya memberikan berlembar tissue, minta saya menghapus air mata. Saya ternyata, menangis.

Saya teringat ketika saya dipanggil Presiden Gus Dur. Semula saya tak yakin beliau kenal saya meski saya kenal beliau. Semula saya kira akan diangkat jadi Direktorat Jenderal (Dirjen) atau yang setingkat itu. Tapi beliau meminta saya menjadi menteri pertahanan. Woow, Menteri pertanahan? “Bukan, menteri pertahanan.”

“Antum saya angkat menjadi menteri pertahanan, bukan pertanahan,” kata Gus Dur serius. Waktu itu saya ditemani oleh Alwi Shihab. Saya takjub, Gus Dur mengangkat beberapa menterinya berdasar pilihan sendiri, bukan ditodong. Saya yang bukan siapa-siapa, bukan politisi, hanya dosen tiba-tiba diangkat jadi menteri.

Dalam pengamatan saya Gus Dur ingin menteri-menteri yang idealis dan tegas. Pesannya, “Bereskan persoalan negara ini.” Contohnya, ketika mengangkat Rizal Ramli atau Marsillam. Saya lihat keduanya professional dan tegas. Marsillam sangat loyal dan cermat dalam menata administrasi, Rizal Ramli juga.

Saat Rizal Ramli menjadi menteri, pejabat-pejabat setingkat menteri diberi DOP (Dana Operasional Pimpinan) yang besar agar tidak mempermainkan uang negara. Rizal tahu menteri harus mengeluarkan “ini-itu” padahal gajinya kecil. “Jangan korupsi, pakai uang ini, kalau korupsi saya sikat,” katanya.

Saat Jaksa Agung Baharuddin Lopa wafat, Gus Dur mencari pengganti. Gus Dur meminta saya jadi Jaksa Agung tapi saya menolak. Saya mengusulkan Artidjo atau Wakil Jaksa Agung (Wakajagung) Dr. Soeparman. Wimar Witoelar mengusulkan Marsillam. “Marsillam saja, selama hidupnya dia berjuang melawan korupsi,” kata Wimar.

Kemudian dilakukanlah reshuffle. Marsillah jadi Jaksa Agung dan saya menjadi Menteri Kehakiman-HAM dengan tugas, “Pak Mahfud benahilah isi aturan-aturan hukum yang tumpang tindih, Marsillam tegakkanlah aturan-aturan hukum, tindak tegas para pelaku korupsi.” Sejak itu saya merangkap Menhan & Menkeh-HAM.

Gus Dur berprinsip teguh menegakkan konstitusi. Menjelang kejatuhannya karena keroyokan politik, Marsillam menyarankan agar mengalah dulu. “Sebagai sahabat saya sarankan itu, Mas,” kata Marsillam. “Jangankan cuma sahabat, keluarga saja tak bisa memaksa saya melanggar konstitusi,” jawab Gus Dur.

Menlu Alwi Shihab yang juga sahabat Gus Dur pernah menyarankan agar Gus Dur tidak terlalu keras menyikapi para koruptor. “Korupsi harus diberantas tapi caranya harus lebih soft,” saran Alwi. “Alwi, ente urus saja yang baik-baik agar menjadi lebih baik. Koruptor biar saya yang hadapi,” kata Gus Dur.

Harus saya akui kimia kegalakan Gus Dur dan Rizal Ramli terhadap korupsi sama kerasnya, “Koruptor jangan diberi hati, sikat.” Tapi terkadang mereka kurang memperhatikan mekanisme hukum yang rumit,” pokoknya sikat.” Saya ada di bagian memberi saran dalam “kehati-hatian memproses hukum” tapi dengan tetap tegas.

Tentu saja sebagai manusia Gus Dur punya kelemahan, misalnya, terlalu cepat marah kepada orang yang dilaporkan melakukan korupsi, sebelum benar-benar didalami. Tetapi kelemahan-kelemahan itu jadi sirna di tengah jibunan kebaikan dan integritasnya sebagai pemimpin bangsa. Sudah sembilan tahun Gus Dur wafat. Saya merindukannya.

Allahummagh fir liraisinaa wa ustaadzinaa wa akhiinaa, Abdurrahman Wahid. Warhamhu, wa a’fihi wa’fu anhu. Gus, beristirahatlah dengan nyaman di sana. Saya sering menulis tentangmu dan tentang arahan-arahanmu, tapi saya tahu harus ke mana saya datang untuk memperlihatkan tulisan-tulisan saya itu kepadamu. Tabik, Gus.

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *