Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 30 September 2018

Mahatir Muhammad: Israel Adalah Akar Masalah Kekacauan Dunia


Mahathir-Mohamad_Syrenn-Wikimedia

islamindonesia.id – Mahatir Muhammad: Israel Adalah Akar Masalah Kekacauan Dunia

 

Pada hari Jumat, 28 September 2018 lalu, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad kembali berbicara di sidang umum PBB, setelah sekitar 15 tahun meninggalkan hiruk pikuk politik internasional. Pada kesempatan tersebut, perdana menteri tertua di dunia itu mengemukakan sejumlah padangannya terkait substansi masalah yang dihadapi oleh umat manusia selama ini. Selain itu, beliau  juga mengajukan beberapa paradigma untuk menyelesaikannya.

Sidang umum PBB sesi ke 73 itu mengusung tema: “Making the United Nations Relevant to All People: Global Leadership and Shared Responsibilities for Peaceful, Equitable and Sustainable Societies.”  Menurut Mahathir, tema tersebut sangat tepat dan kontekstual untuk merespon situasi global yang berkembang belakangan ini.

Di awal pidatonya, Mahathir memaparkan progress yang dialami oleh Malaysia setelah pemilu damai yang membawanya kembali ke puncak kekuasaan. Beliau menyatakan, saat ini Malaysia menjadi negara yang sepenuhnya baru, dan menegaskan komitmen Malaysia untuk mewujudkan perdamaian dunia, yang berkeadilan, yang menghormati hak asasi manusia, dan membangun kerjasama antar bangsa yang saling menguntungkan.

Selanjutnya, Mahathir mengemukakan ironi yang dihadapi oleh dunia hari ini. Menurutnya, sejak terakhir kali dia bicara di depan Majelis Umum PBB 15 tahun lalu (2003), keadaan dunia nyaris tidak berubah. Malah situasi yang dihadapi saat ini justru semakin buruk dan memprihatinkan, baik di bidang ekonomi, sosial dan politik.

Secara ekonomi, perang dagang antara dua adidaya telah berimplikasi negatif pada negara lainnya. Secara sosial, norma sosial yang baru telah mengguncang kemapanan negara dan rakyat. Jargon kebebasan telah menafikan konsep sakral pernikahan, keluarga, dan norma keadaban sosial lainnya. Tapi yang terburuk dari semuanya, adalah yang terjadi di arena politik.

Sebagaimana kita saksikan, aksi terorisme terjadi di mana-mana. Manusia bersedia melilitkan bom di tubuhnya lalu meledakkan diri di keramaian. Perang dan aksi sadisme pemenggalan kepala direkam, untuk kemudian dipertontonkan ke publik. Banyak orang yang mempertaruhkan nyawanya mencari suaka ke negara lain, tapi ditolak. Mereka akhirnya terdampar di mana-mana, tidur di alam terbuka dan mati kedinginan. Ribuan manusia kelaparan dan puluhan lainnya menjadi korban wabah penyakit mematikan.

Tidak ada seorang pun – tidak ada satu nagara pun yang merasa aman. Akhirnya tiap negara memperketat perbatasannya. Sedikit keraguan membuat seseorang diinterogasi dan ditahan. Untuk menangkal ancaman terorisme, semua upaya dilakukan, semua peralatan dioperasikan dan “saudara besar” (Big Brother) pun ikut memantau. Tapi aksi terorisme terus berlangsung.

Mahatir Muhammad kemudian menyimpulkan, bahwa semua upaya penanggulangan masalah tersebut tidak akan pernah berhasil, selama hati nurani manusia tidak dimenangkan, dan akar masalah dari semua ini tidak dicabut.  Dan menurutnya, pokok dari masalah itu dimulai ketika pada tahun 1948, ketika tanah Palestina direbut untuk mendirikan Negara Israel. Orang-orang Palestina dibantai dan dipaksa untuk meninggalkan tanahnya. Rumah dan lahan pertanian mereka juga direbut.

Ketika itu rakyat Palestina melawan melalui perang konvensional dengan bantuan dari tetangga mereka yang simpatik. Namun dukungan dari sekutu Israel membuat perlawanan tersebut kandas. Pada gilirannya, banyak tanah Palestina direbut untuk dijadikan pemukinan orang Israel, dan jumlahnya terus bertambah. Sedangkan orang Palestina ditolak membangun pemukiman mereka di tanah mereka sendiri.

Pada awalnya, rakyat Palestina sudah berusaha melakukan perlawanan dengan menggunakan batu dan ketapel (untuk mengambil alih kembali haknya). Tapi sebagian mereka ditembak dengan peluru tajam dan ribuan lainnya ditahan. Frustasi dan marah, mereka tidak mampu melawan dengan cara perang konvensional. Rakyat Palestina kemudian melakukan apa yang kita sebut sebagai “terorisme”.

Dunia tidak peduli meski Israel melanggar hukum Internasional, merebut kapal yang membawa obat-obatan, makanan dan bahan bangunan di perairan internasional. Rakyat Palestina melancarkan serangan roket secara defektif (yang tidak mengakibatkan korban). Israel pun melakukan serangan balasan secara masif. Mereka meroket dan membom rumah sakit, sekolah dan bangunan lainnya. Membunuh warga sipil yang tidak bersalah, termasuk anak-anak sekolah dan pasien rumah sakit dan banyak lagi.

Tapi dunia justru memberi penghargaan pada Israel. Dengan sengaja memprovokasi rakyat Palestina dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Menurut Mahathir, inilah puncak dari kemarahan dan rasa frustasi rakyat Palestina pada semua pihak yang mengaku bersimpati pada mereka, yang kemudian mendorong mereka melahirkan apa yang kita sebut sebagai terorisme.

Dalam kerangka ini, lanjut Mahathir, penting bagi kita juga mengakui segala tindakan kekerasan yang mengancam jiwa manusia sebagai tindakan terorisme. Termasuk juga negara-negara yang melancarkan serangan dan menjatuhkan bom ke sebuah wilayah, sehingga mengakibatkan jatuhnya korban tidak berdosa, adalah aksi terorisme.

Dengan demikian, menurut Mahathir, untuk menghilangkan akar masalah dari semua kekacauan ini, biarkan rakyat Palestina meraih kemerdekaannya. Biarkan mereka kembali ke tanah airnya; biarkan mereka mendirikan Negara Palestina yang merdeka; biarkan mereka merancang undang-undang dan membangun kedaulatannya. Karena mengkhawatirkan teror dari mereka tidak akan menghilangkan terorisme, dan tidak ada aksi teror untuk meneror mereka yang bakal sukses.

Dalam kesempatan tersebut, Mahathir juga mengingatkan tujuan awal didirikannya PBB tidak lain untuk menciptakan perdamaian dunia. Tapi menurutnya, ada yang salah dengan cara kita membangun sebuah perdamaian. Selama ini kita menganut pandangan bahwa “siapapun yang ingin berdamai, maka bersiaplah untuk berperang”. Padahal menurutnya, perang hanya mengikibatkan kesengsaraan dan pembunuhan. Masyarakat beradab mengidentifikasi pembunuhan sebagai kejahatan, dimana pelakunya akan dikenai sanksi, bahkan hukuman mati. Tapi dalam perang, sebuah pembunuhan dilegalkan, dan pelakunya justru diberikan medali.

Menurut Mahathir, cara pandang inilah yang menjadi kesalahan fundamental bagi kita dalam membangun perdamaian dunia. Paradigma ini telah memicu terjadinya pembangunan persenjataan yang massif di seluruh dunia. Atas nama perdamaian dunia, setiap negara melakukan inovasi untuk meningkatkan kemampuan dan daya rusak sistem persenjataannya.

Saat ini, dunia dicekam ketakutan akan ancaman penggunaan senjata nuklir. Sebagai dampaknya, negara-negara kecil pun akhirnya mulai mempersiapkan dirinya dengan berbagai senjata. Peperangan pun terjadi di mana-mana. Perdagangan senjata pun menjadi bisnis paling besar dunia, dengan meraup keuntungan dari kematian dan kesengsaraan manusia.

Lebih jauh, Mahathir memaparkan sejumlah paradoks dalam tata kelola dunia saat ini. Dimana sejumlah paradoks tersebut telah menjadi akar berbagai kerusakan yang terjadi, seperti pelanggaran hak asasi manusia, ketidakadilan yang meluas, dan kerusakan ekologi.

Poin terakhir, Mahathir Muhammad menekankan pentingnya peran PBB untuk melakukan pembaruan yang fundamental dalam tata kelola dunia ini. Tapi, menurutnya, pembaharuan tersebut harus dimulai dari dalam tubuh organsasi PBB sendiri, khususnya soal keberadaan lima negara pemegang hak veto. Keberadaan para pemegang hak veto ini sendiri merupakan satu paradoks yang mendasar. Mereka mengkampanyekan demokrasi dan persamaan hak ke seluruh dunia. Sedang di PBB mereka mempertahan status quo yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Intinya Mahatir ingin menekankan bahwa sebagai majelis tempat berkumpulnya negara-negara berdaulat, sudah selayaknya PBB menjadi tempat melakukan perundingan yang setara dan terbebas dari feodalisme.

 

AL/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *