Satu Islam Untuk Semua

Friday, 08 August 2014

Lomban, Tradisi Syukuran Nelayan Jepara


Lomban, Tradisi Syukuran Nelayan Jepara

Bagi masyarakat Jepara, seminggu setelah lebaran adalah hari raya kedua. Masyarakat menyebutnya Bodho Kupat, Syawalan atau Lomban, sebuah acara ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugrah yang mereka dapatkan dari hasil laut. Disamping itu sebagai ungkapan kegembiraan sudah melalui puasa Ramadhan dan Idul Fitri.

Hari itu Senin (04 /8/2014), Jam baru menunjukan pukul enam. Lantunan tahlil, tahmid, tasbih dan ayat-ayat al Quran menggema dari mushola-mushola di sekitar pelabuhan Jobokuto Jepara. Pujian dan rasa syukur kepada Tuhan dari nelayan-nelayan di sekitar pantai Jepara bersahutan lewat pengeras suara.
Perahu nelayan
Perahu-perahu besar yang biasa dipakai melaut dihiasi aneka warna. Janur menghiasi sekeliling perahu. Nampak indah bak pengantin nan cantik di pernikahan. Tak ketinggalan dentuman musik dangdut menggelegar. Bersahutan beradu keras, menambah semarak suasana. Perahu-perahu apik itu bersandar rapi di pelabuhan menungu acara yang akan digelar.

Semenatra itu, di tempat yang biasanya untuk pelelangan ikan, sekarang berjejer tamu undangan dan para pejabat pemerintahan. Tempat yang biasanya bau amis itu disulap menjadi tempat yang ramah untuk didatangi ningrat dan kaum alit. Ribuan warga Jepara dan warga dari luar kota memeriahkan acara syawalan tersebut.

Panggung megah untuk pagelaran wayang berdiri di hadapan tamu undangan. Anak-anak  melakukan Tarian Nelayan, sebagai pembuka acara syukuran yang sudah ada sejak satu abad yang lalu itu.

Di samping panggung, ada replika perahu berisi sesajen dan kepala kerbau. Perahu tersebut akan dilarung kelaut. Larung sesaji berupa kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi pesta lomban Syawal masyarakat Jepara.

Sebelum dilarung sesepuh nelayan memanjatkan doa untuk keselamatan para nelayan dan masyarakat jepara. Sebelum dilarung, replika kapal sesaji diarak dengan perahu-perahu berhias keliling laut.

Usai melarung kepala kerbau, tradisi pesta lomban diakhiri dengan berebut gunungan kupat lepet di Pantai Kartini Jepara.  Melarung sesajen di laut menurut percaya masyarakat nelayan Jepara dipercaya akan memberikan keselamatan dan hasil laut yang banyak.
Lomban
Tradisi pelarungan kepala kerbau di  Jepara sudah ada sejak akhir abad 19. Bahkan catatan tradisi tersebut pernah ditulis  dalam Tijdschrift  voor  Nederlandsch-Indië, Jurnal Hindia Belanda yang terbit pada tahun  1868. (MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *