Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 19 March 2017

Layani Semua Komunitas di Maluku, Klinik Apung Muhammadiyah Blusukan Kepulauan


klinik apung muhammadiyah

islamindonesia.id – Layani Semua Komunitas di Maluku, Klinik Apung Muhammadiyah Blusukan Kepulauan

 

Setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Tanwir Muhammadiyah 24 Februari lalu, Klinik Medis Apung Said Tuhuleley makin sibuk menjalankan misi kemanusiaannya. Dengan membelah lautan, klinik ini melayani kesehatan masyarakat di pulau-pulau terpencil kawasan perairan Maluku dengan cepat dan memadai.

’’Semua kami layani. Klinik apung ini memang untuk misi kemanusiaan di Maluku,’’ ujar Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku H. Latua di Ambon, Selasa (14/3).

Misi pertama, Klinik Apung Said Tuhuleley membelah gelombang laut menuju Pulau Saparua dan Pulau Haruku. Dua pulau di tengah laut itu memang jauh dari Ambon, ibu kota Maluku.

’’Inilah langkah awal Klinik Apung Said Tuhuleley melakukan misi kemanusiaan untuk perawatan dan pengobatan bagi pasien nun jauh di Pulau Saparua dan Pulau Haruku. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik bagi Muhammadiyah dalam memberikan pelayanan kesehatan di Maluku,’’ kata Latua.

Sejak hari pertama beroperasi pada 25 Februari 2017, Klinik Apung Said Tuhuleley sudah melayani ratusan pasien dengan berbagai keluhan penyakit. Klinik itu beroperasi hampir seharian full. Mulai pukul 07.00 hingga 22.00.

Pada hari pertama, pasien ditangani para dokter dan perawat yang saat itu mengikuti Sidang Tanwir Muhammadiyah di Ambon. Pengelola juga mendatangkan dokter dari Rumah Sakit Pondok Cempaka Putih Jakarta dan RSU Muhammadiyah Jakarta.

’’Begitu besarnya animo masyarakat yang ingin mendapatkan perawatan medis di klinik apung menunjukkan bahwa persoalan pelayanan kesehatan di Maluku perlu perhatian serius dari semua pihak. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,’’ tutur Latua.

Klinik Apung Said Tuhuleley bekerja secara mobile melayani pasien di pulau-pulau kecil di Maluku. Bahkan hingga ke Papua. Tim medis klinik apung akan blusukan ke kampung-kampung di pulau itu untuk menjemput bola.

Dengan begitu, masyarakat yang ingin periksa kesehatan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Ambon lagi. Mereka bisa memanfaatkan klinik tersebut. Pasien yang perlu penanganan khusus akan dirujuk ke Kota Ambon.

Tim medis klinik apung dengan sukarela akan mendatangi pasien dan mengantarnya ke rumah sakit rujukan di rumah sakit terdekat.

’’Ini langkah ikhtiar kami agar klinik ini bisa berfungsi maksimal dalam melayani kesehatan masyarakat di Maluku,’’ ujar Latua.

Selain membawa pasien ke rumah sakit terdekat, di klinik apung juga disiapkan ruang pemeriksaan khusus dan ruang operasi. Adapun tenaga medisnya terdiri atas dokter jaga, dokter spesialis, dan tenaga perawat. Mereka tim medis dari Muhammadiyah yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Pemprov Maluku.

’’Kalau tenaga perawat dan dokter dari Muhammadiyah di Maluku kurang, kami akan minta tenaga dokter dari PP Muhammadiyah untuk dikirim ke Maluku secara berkala,” tegas Latua.

Untuk biaya operasional dan penyediaan obat-obatan di klinik apung, Latua mengakui masih belum mendapat solusi yang efektif dan jangka panjang. Selama ini masih mengandalkan anggaran dari Muhammadiyah. Ke depan disinergikan dengan pemerintah setempat.

Selain itu, pengelola klinik menerapkan pembiayaan subsidi silang. Caranya, saat sedang tidak beroperasi sebagai klinik apung, kapal akan disewakan sebagai kapal pesiar. Pendapatan dari penyewaan kapal itulah yang digunakan untuk biaya operasional klinik.

Untuk diketahui, Klinik Apung Said Tuhuleley memiliki kecepatan tempuh 30 knot per jam dengan daya 750 PK. Kapal itu dinahkodai Mores Jogya dengan asisten Dirgantara Banda dan enam ABK (anak buah kapal) serta seorang teknisi mesin.

Menurut Koordinator Klinik Apung Said Tuhuleley Muhammad Rivai Tuhuleley, klinik tersebut diperuntukkan semua komunitas di Maluku. Itulah bentuk syiar Muhammadiyah sebagai pelopor pemberdayaan kesehatan bagi semua komunitas di Bumi Raja-Raja tersebut.

’’Kami ingin menjalankan misi kemanusiaan almarhum Pak Said Tuhuleley sebagai tokoh pemberdayaan umat, khususnya bagi kaum mustadafin atau kaum lemah di Maluku,” papar Rivai yang tak lain adalah keponakan almarhum Said Tuhuleley.

Dia berharap klinik apung itu bisa menjadi pelopor pemberdayaan kesehatan di daerah-daerah terpencil, terluar, dan terdepan sebagaimana yang digaungkan presiden.

Untuk maksud tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Gubernur Maluku Said Assagaff agar dapat mengoptimalkan kerja sama penanganan kesehatan masyarakat agar tidak tumpang tindih.[]

 

YS/ islam indonesia/ sumber: jpnn.com/ Foto: kbai.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *