Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 05 February 2014

Las Vegas Pun Muncul di Kota Makkah


Jam raksasa di Kota Makkah menjadi simbol kemegahan kota suci ini

Makkah sudah berubah. Bangunan suci dihimpit gedung tinggi. Peninggalan bersejarah perlahan hilang tak tinggalkan jejak.

Penduduk Makkah kini menyebut tempat mereka sebagai Las Vegas. Worldbulletin  menyebutkan bahwa pembangunan besar-besaran di tempat suci ini mendapat kecaman dari umat Islam seluruh dunia. Dan 10 tahun terakhir adalah masa perubahan Makkah menjadi kota megah.

Makkah yang penuh gurun berdebu perlahan berbenah diri untuk melayani umat Islam yang rindu pada tanah suci. Ibadah haji menjadi alasan untuk memenuhi Makkah dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan hotel-hotel mewah.

Kerajaan Arab dinasti Saud menjadikan  Makkah sebagai visi tentang kota masa depan. “Emas hitam” didulang keuntungannya untuk membangun sebuah kota modern dan metropolis, demi sesuatu yang kelak dapat mereka sebut sebagai kebanggaan nasional.

Makkah dan Madinah adalah dua kota dari proyek mercusuar Kerajaan Saudi. Warga dari dua kota terkejut ketika melihat sejumlah bangunan suci mereka terinjak-injak dan terpinggirkan, digantikan dengan bangunan-bangunan beton yang sangat masif. Mereka takut peninggalan sejarah Islam di dua kota ini akan hilang. Para ulama selalu berkhutbah untuk menyadarkan bahwa proyek mercusuar di Makkah dan Madinah dapat menggerus situs arkeologi yang berharga.

“Kami sudah kehilangan 400-500 situs. Aku hanya berharap kami tidak terlalu terlambat untuk membalikkan keadaan,” kata Dr Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif Islamic Heritage Research Foundation. Ia telah berjuang untuk melindungi situs bersejarah di negaranya. “Tidak seorang pun punya nyali untuk berdiri dan mengutuk vandalisme budaya ini,” ucap Irfan melihat proyek mercusuar Saudi.

Para kritikus menyebut Las Vegas di gurun pasir ini sebagai kapitalisme yang telah menelanjangi nilai spiritual  sebagai Kota ‘Raison d’ etre’. Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Saudi yang terkenal menyampaikan keprihatinannya. “Ini benar-benar kontradiksi untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Keduanya (Makkah dan Madinah) secara historis hampir selesai. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.”

Kekhawatiran paling mendesak Dr Alawi adalah rencana ekspansi Masjidil Haram senilai 690 juta pound sterling. Masjidil Haram menjadi situs paling suci dalam Islam yang menjadi lokasi Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim As. dan menjadi kiblat umat Islam saat menjalankan ibadah shalat.

Negara-negara muslim pun tidak bisa berbuat banyak. Ketakutan pembatasan jatah rombongan haji menjadi kekahwatiran untuk mengkritisi kebijakan tersebut. Begitu pula dengan arkeolog barat yang diam karena takut kehilangan akses terhadap beberapa situs penelitian mereka. Meskipun mereka tetap yakin dapat menyimpan beberapa penemuan sebelum hilang tergusur pembangunan.

Pihak Saudi berargumen bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur yang mumpuni. Saat ini ada 12 juta jamaah yang berkunjung  dan diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Pihak Kerajaan mengelilingi Ka’bah dengan gedung pencakar langit. Sebuah Menara Jam setinggi 1.972 kaki yang disebut dengan Clock Tower Royal Makkah  dibuka awal tahun ini.  Jam ini menjadi bagian dari pembangunan besar gedung pencakar langit yang akan dipenuhi hotel bintang lima untuk jamaah haji yang berduit tentunya.

Worldbulletin menulis, untuk membangun kota pencakar langit,  pihak berwenang mendinamit seluruh gunung dan Benteng Ayjad pada era Ottoman yang terletak di atasnya. Di ujung lain dari Kompleks Masjidil Haram, rumah istri pertama Nabi, Khadijah, telah berubah menjadi blok toilet. Letak rumah kelahiran Nabi pun menjadi tidak pasti.

Para kritikus memandang ambisi memperluas Makkah dan Madinah berdampak pada terinjak-injaknya situs budaya di sekitarnya. The Gulf Institute yang berbasis di Washington memperkirakan 95 persen dari bangunan tua telah hancur dalam dua dekade terakhir. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *