Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 13 July 2016

Lagi, Ulama Bersuara Kritis Ditangkap di Saudi


3b5d1606-b4a4-4117-be84-a65d4ab860ea

IslamIndonesia.id – Lagi, Ulama Bersuara Kritis Ditangkap di Saudi

 

Untuk kesekian kalinya, pemerintah Saudi mempertontonkan kebijakan yang memberangus hak sipil dalam kebebasan berpendapat dan berkeyakinan. Dilaporkan pada Selasa (12/7), Riyadh telah menangkap seorang ulama senior Syeikh Mohammad Hassan Al Habib yang berasal dari Qatif, propinsi di belahan timur Saudi yang kaya minyak.

Media lokal menyebut Syeikh Habib, bersama tiga sahabatnya, ditangkap pada Sabtu (9/7) dan telah dipindahkan ke sebuah fasilitas keamanan ibu kota, Riyadh, untuk diinterogasi.

Keluarga Syeikh Habib sendiri mengatakan bahwa mereka belum menerima informasi apa pun mengenai nasib sang ulama dan dimana persisnya dia ditempatkan.

Syeikh Habib  dikenal sebagai ulama Qatif, – daerah yang merupakan pusat gerakan anti-rezim di Saudi pada 2012, – yang senantiasa menyuarakan kritik pada ketidakadilan kerajaan. Suara kritisnya semakin deras pada tahun ini pasca Riyadh menjatuhkan hukuman mati pada ulama Syeikh Nimr Baqir Al Nimr bersama sejumlah aktivis setempat lainnya.

Eksekusi mati Nimr pun memicu kemarahan di Timur Tengah, bahkan dunia internasional mengutuk kebijakan Riyadh yang telah mencoreng toleransi dan kebebasan menyuarakan pendapat.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Nimr, – seorang ulama yang dihormati di Qatif – telah dihukum mati atas tuduhan terorisme dan percobaan penggulingan pemerintahan. Padahal, Nimr tidak pernah terbukti memiliki apalagi menyebarkan senjata dalam bentuk apapun dalam gerakannya menyuarakan ketidakadilan rezim penguasa.

Penduduk Qatif dan daerah sekitarnya di timur Saudi yang kaya minyak itu telah lama diterpa diskriminasi oleh kebijakan kerajaan. Bahkan, sejumlah aktivis dan lembaga internasional hak asasi manusia telah  memperingatkan Riyadh untuk mengakhiri kebijakan diskriminatif terhadap mereka yang seharusnya menikmati kebebasan berekspresi dan berkeyakinan.

Menurut sebagian analis politik, bagaimana mungkin Riyadh menuntut demokrasi dan reformasi di Suriah misalnya, tapi kebijakan Riyadh sendiri tidak mencerminkan kedewasaan berdemokrasi sebagaimana yang dituntut rakyatnya di belahan timur Saudi. []

 

YS/IslamIndonesia/ Press TV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *