Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 April 2017

Kunjungi Ponpes Tebuireng, Dubes Inggris Ziarah ke Makam Gus Dur


IMG-20170427-WA0071

Islamindonesia.id – Kunjungi Ponpes Tebuireng, Dubes Inggris Ziarah ke Makam Gus Dur

 

Setelah menyambangi Pondok Pesantren Gontor Ponorogo dan Lirboyo di Kediri, Duta Besar Ingrris untuk Indonesia Moazzam Malik berkunjung ke Ponpes Tebuireng, Jombang, 27/4. Dalam kunjungan tersebut, Moazzam menyempatkan diri berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menurut laporan Gatra.com, Moazzam ziarah makam didampingi Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz dan Nyai Hj. Farida Salahuddin. Sang Dubes tampak antusias menyimak penjelasan tentang sosok para tokoh yang dimakamkan di Kompleks Pesantren Tebuireng itu.

Sebelumnya, dubes Muslim pertama dari Kerajaan Inggris itu diterima langsung oleh pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Dalam kesempatan itu, Moazzam Malik mengatakan, bangsa Indonesia lebih berhasil mengelola resiko munculnya ektremisme dan radikalisme dibanding negara-negara lain di dunia. Keberhasilan itu, menurut dia, tidak terlepas dari keberadaan Pancasila sebagai ideologi nasional serta peran lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan kalangan pesantren.

Didampingi Country Director British Council Indonesia Paul Smith, pria berdarah Pakistan ini berharap, komunitas pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan muslim di Inggris bisa saling bekerja sama dan berbagi pengalaman untuk mengatasi ekstremisme dan radikalisme.

“Saat ini, di Inggris ada tiga juta jiwa penduduk beragama Islam. Kira-kira lima persen dari total penduduk Inggris. Mereka masih punya hubungan yang erat dengan negara asalnya. Tapi, negara asalnya sering didera konflik dan masalah-masalah lain, seperti ekstremisme dan kemiskinan,” ujarnya.

Karena itu, pria yang ditugaskan menjadi duta besar di Indonesia, ASEAN dan Timor Leste ini merasa perlu untuk berkunjung ke beberapa pesantren ternama di Jawa Timur.

“Selama 2,5 tahun, saya hanya mendengar tentang Pesantren Tebuireng yang punya peran sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan saya yakin akan punya peran penting untuk masa depan Indonesia ke depan. Jadi, saya di sini untuk mempelajari dan melihat bagaimana Indonesia bisa lebih berhasil (mengatasi ekstremisme dan radikalisme),” ujarnya.

Ke depan, pihaknya berharap dapat membantu kalangan santri dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dalam Bahasa Inggris. “Saya berpikir, salah satu keperluan ke depan adalah berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Karena semua masalah seperti ekstremisme dan radikalisme sudah melintasi batas negara, maka solusinya juga harus melintasi batas negara,” ungkapnya.

Menurut penggemar klub sepak bola Liverpool ini, pengalaman Indonesia sebagai negara yang beragam, demokratis dan maju, akan jauh lebih berguna bagi umat Islam di Inggris jika santri bisa berkomunikasi langsung dengan umat Islam di sana. Hal itu diharapkan menjadi jendela pembuka wawasan kaum santri agar dapat melihat kehidupan muslim dan nonmuslim di Inggris. Begitu juga sebaliknya.

Muslim Inggris sudah melihat gaya hidup dan budaya masyarakat muslim Somalia atau Pakistan. Dengan melihat budaya muslim Indonesia, dia berharap akan dapat menyebarkan lebih luas tentang pengalaman tersebut di negaranya.

Tahun lalu, di Yogyakarta, Moazzam jiga sempat mencicipi rasanya “mondok” sebagai santri. Hal itu ia rasakan ketika menginap di Madrasah Muallimin Muhammadiyah.

Beberapa yang dilakukan Dubes Inggris di Muallimin, kata dia, seperti belajar, salat berjamaah, makan bersama, mengisi kuliah subuh dan kegiatan lainnya layaknya santri. Kegiatan satu malam ‘nyantri’ tersebut dilakukan pada 22-23 November 2016 bersama 1.200-an santri Muallimin.[]

 

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *