Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 03 October 2017

Kunjungan Bersejarah PM Palestina ke Jalur Gaza


Kunjungan Bersejarah PM Palestina ke Jalur Gaza

islamindonesia.id – Kunjungan Bersejarah PM Palestina ke Jalur Gaza

 

Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah melakukan kunjungan bersejarah ke Jalur Gaza. Lawatannya tersebut dilakukan sebagai upaya penyatuan Faksi Hamas dan Fatah.

Hamas merupakan penguasa di Gaza. Sementara wilayah Tepi Barat dikuasai oleh Faksi Fatah yang merupakan otoritas resmi Palestina.

Dalam lawatannya ke Gaza, Hamdallah mengatakan kunjungan bersejarah ini ditujukan untuk menyatukan masyarakat Palestina.

“Kami datang atas perintah Presiden Mahmoud Abbas untuk mengumumkan kepada dunia dari Gaza kalau Negara Palestina tidak akan ada tanpa persatuan politik dan geografis dari Tepi Barat dan Gaza,” sebut Hamdallah, seperti dikutip dari AFP, Selasa (3/10/2017).

“Kami tahu untuk mencapai tujuan kami harus bersatu dan melindungi sistem politik di Palestina,” sambung dia.

Dalam kesempatan tersebut Hamdallah menyebut, pemerintah persatuan Palestina akan mengambil tanggung jawab admistratif di Jalur Gaza.

PM Palestina turut mengumumkan, beberapa komite akan dibentuk untuk menangani beberapa isu. Seperti perbatasan dan beberapa anggota faksi Fatah yang bekerja di Jalur Gaza.

Kunjungan Hamdallah ke Gaza merupakan yang pertama selama kurang lebih dua tahun terakhir.

Lawatan Hamdallah ke Gaza disambut baik oleh Hamas. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza Iyad Al Buzom menyatakan mereka siap bersatu demi warga Palestina.

“Kami menantikan untuk membalik halaman perbedaan ini, dan untuk mencapai rekonsiliasi nasional secara komperhensif yang dapat memperkuat keteguhan masyarakat kita dalam mempertahankan hak-haknya,” sebut Buzom.

Hamas merupakan pemimpin de facto Gaza sejak 2007 lalu, setelah mengalahkan dominasi Partai Fatah dan Presiden Mahmoud Abbas dalam pemilu parlemen.

Mereka pun mendorong Fatah untuk keluar dari konflik berdarah yang kerap terjadi di Gaza. Permintaan tersebut memicu krisis politik di Palestina.

Fatah menolak dan tidak mengakui hasil pemilu. Kedua faksi ini pun terpecah dan menguasai dua wilayah berbeda di Palestina.

Upaya rekonsiliasi selalu menemui jalan buntu. Terakhir ketika mereka setuju bersatu perjanjian itu rusak usai Israel melancarkan perang selama 51 hari di Gaza.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *