Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 20 December 2016

Komaruddin Hidayat: Sebagai Mukjizat, Al-Qur’an Sanggup Membela Dirinya, Bahkan Hadir Menemui Penantangnya


komaruddinhidayat

Islamindonesia.id – Komaruddin Hidayat: Sebagai Mukjizat, Al-Qur’an Sanggup Membela Dirinya, Bahkan Hadir Menemui Penantangnya

 

Bagi Prof. Komaruddin Hidayat, siapa pun orangnya kalau hak milik yang sangat dicintai dan dihargainya dihina pasti akan tersinggung. Seperti orang menghina famili, suku, agama atau kitab suci yang dimuliakannya, pasti ia akan tersinggung dan marah.

“Hanya cara dan ekspresi kemarahannya berbeda-beda. Ada yang sangat emosional, ada yang sedang-sedang saja, atau mungkin malah ada yang balik menasihatinya dengan cerdas dan lemah lembut,” kata Guru Besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Bagi yang biasa membaca karya tulis orientalis, lanjut Komaruddin, mereka akan jumpai tulisan yang mencerca, memfitnah serta merendahkan Nabi Muhammad SAW dan Al –Qur’an.

“Untung saja buku-buku itu tidak diakses dan dibaca oleh kebanyakan umat Islam sehingga tidak memancing kemarahan,” katanya.

Di antara buku-buku itu terkesan ingin merendahkan citra Nabi Muhammad dengan menyajikan cerita-cerita palsu yang dikemas secara rasional untuk meyakinkan pembaca. Jika para orientalis itu berhasil merendahkan Nabi Muhammad, implikasi lanjutan yang dikehendaki adalah untuk merendahkan dan tidak memercayai warisannya, terutama Al-Qur’an.

“Jadi, kalau sosok pembawanya berhasil didegradasi, maka konsekuensinya Al-Qur’an yang disampaikan kehilangan kesahihannya. Menurun wibawanya,” katanya

Namun uniknya, lanjut alumnus Pondok Pabelan Magelang ini, yang membela dan mengkritik balik karya orientalis yang menyudutkan Islam itu sebagian adalah juga orientalis Barat yang karena integritas keilmuannya mengoreksi kesalahan mereka.

“Dengan demikian, secara ilmiah historis yang ikut membela kerasulan Muhammad dan Al-Qur’an tidak dimonopoli oleh umat islam saja.”

Jebolan Middle East Technical University Turki ini lalu menyinggung Surat Al-Hijr (15: 9) yang menyatakan, “Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pasti akan menjaganya.”

Dalam ilmu tafsir, jika digunakan kata “Kami”, berarti Allah melibatkan aktor lain. Mungkin sekali yang dimaksud adalah Rasulullah Muhammad dan orang-orang yang mengimani dan mencintai Al-Qur’an yang senantiasa menjaga kesucian dan kemuliaan Al-Qur’an.

“Bagi orang-orang non-Muslim, kekaguman kepada Al-Quran adalah jika melihat orang-orang muslim berhasil membangun akhlak mulia dan peradaban luhur berkat pengamalannya terhadap isi Al-Quran.”

Makanya ketika Aisyah, isteri Nabi, ditanya, bisakah secara singkat digambarkan bagaimana akhlak Rasulullah itu? Akhlaquhul quran jawabannya.

“Alquran itulah akhlak Nabi.”

Sosok pemimpin yang berhasil mengubah watak Umar bin Khattab yang semula beringas, penyembah berhala, dan tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya berubah total menjadi pribadi yang amat sederhana, rendah hati, adil, tegas dan berwibawa.

“Yang mudah menangis melihat penderitaan orang lain dan ketika bersujud,” katanya.

Dalam episode sejarah Islam, yang paling menonjol membela proses pewahyuan dan kompilasi Al-Qur’an adalah para sahabat Nabi. Tapi setelah Al-Qur’an utuh dan diabadikan dalam wujud mushaf/buku atau sekarang dengan teknologi digital, Al-Qur’an hadir menemui para penantang dan pembacanya tanpa ada pembelanya.

“Sebagai mukjizat ilahi, Al-Qur’an sanggup membela dirinya sendiri, bahkan menaklukkan lawan-lawannya sebagaimana Umar bin Khattab tergetar hatinya mendengarkan sentuhan Al-Qur’an lalu menyatakan memeluk Islam,” katanya

Bagi sebagian orang, justru Al-Qur’an yang menjadi penunjuk jalan dan pembela umat Islam agar menang menghadapi berbagai jebakan thaghut dan setan. “Tapi, sekali lagi, jika ada orang yang menodai Al-Qur’an memang mesti diingatkan dengan cara yang simpatik, siapa tahu dengan begitu nantinya akan jatuh cinta dan mengimani Al-Qur’an,” katanya

Komaruddin menjelaskan, untuk memuliakan Al-Qur’an, cara terbaik adalah mengimani dan mengamalkannya agar menjadi manusia teladan (uswah hasanah) dan pembawa rahmat bagi lingkungannya. Menurut para pakar, generasi awal Islam maju dan disegani dunia karena mengamalkan Al-Qur’an yang membuahkan peradaban unggul pencerah zaman.

“Tapi sekarang sebagian orang memilih-milih surat dan ayat sebagai legitimasi untuk membunuh orang sehingga muncul sinisme dan salah paham bahwa Al-Qur’an dianggapnya sebagai kitab penyebar kebencian, bukannya rahmat dan kasih sayang,” katanya.[]

 

 

YS/ islam Indonesia / sumber: harian Sindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *