Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 27 March 2016

KOLOM – Pedoman Mencari Guru


wp-1459011319667.jpg

Oleh Parni Hadi

Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, raja Purai Mangkunegaran, Solo, menasehati agar pembelajar tasawuf “berpuruhita” (berguru) untuk menyempurnakan ilmunya, terutama dalam hal pengendalian hawa nafsunya.

Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV, raja Kasunanan Surakarta, bab II, memberi pedoman untuk memilih guru dalam  bentuk tembang Dhandahanggula sbb:

Lamun sira anggeguru kaki,

Amiliha manungsa kang nyata,

Ingkang becik martabate,

Sarta kang wruh ing kukum,

Kang ngibadah lan kang wirangi,

Sokur yen oleh wong tapa,

Ingkang sampun mungkul,

Tan mikir pawehing liyan,

Iku pantes sira guranana kaki,

Sartane kawruhana.

Terjemahan bebasnya:

Jika engkau mencari guru,

Pilihlah manusia yang nyata,

Yang bagus martabatnya,

Serta yang tahu hukum (agama),

Yang menjalankan ibadah dan wirai,

Syukur (apalagi) dapat pertapa,

Yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,

Tanpa berpikir pemberian orang lain,

Itu pantas engkau berguru kepadanya.

Sekali lagi, jelas warna, bahkan ruh Islam dalam Wulangreh, yang berisi ajaran untuk pengendalian diri supaya orang bertindak sabar, tidak terburu-buru, tidak menggebu-gebu, tapi dengan tenang dalam melakukan sesuatu.

Sangat penting untuk dicatat adalah syarat seorang guru yang mengerti hukum agama atau “sarak”. Ada ungkapan Jawa yang berbunyi “murang sarak”, yang berarti kurang ajar. Itu pun masih ditambah lagi dengan “yang menjalankan ibadah” dan “wirai”. Harap maklum, banyak orang yang tahu hukum, tetapi tidak melaksanakannnya. Kewajiban beribadah, demikian juga. Sudah tahu ada perintah agama, terutama untuk mendirikan sholat lima waktu, tapi juga tidak dikerjakan.

“Wirai” adalah orang yang menjalani laku “wara”, yang artinya sikap berhati-hati, sampai tidak melakukan sesuatu meski halal, karena khawatir kelewatan, sehingga melanggar, lalu jadi haram.

Terus terang, saya agak bingung ketika ada orang yang bilang, bilang kata “warok” Ponorogo, itu berasal dari “wara”.
“Warok” sering tampil dipertunjukan reog Ponorogo dengan penampilan yang khas:  serba hitam, celananya berkolor besar dengan warna putih, kancing bajunya tidak dimasukkan, hingga dadanya terbuka,  berkumis dan bercambang lebat. Sekilas kesannya menyeramkan, galak, menakutkan. Seorang warok dianggap orang sakti, memiliki kekuatan gaib, kebal terhadap senjata tajam. Dan, konon, untuk menjaga kesaktiannya ia harus berpantang tidak melakukan hubungan seks lawan jenis. Sebagai gantinya,  ia memelihara pemuda sebagai pasangannya bermain intim, yang disebut “gemblakan” atau “gendakan”.  Konon, sering terjadi perang tanding antar “warok” karena rebutan “gemblakan”, yang biasanya berperan sebagai penari “jathilan”, yakni pemuda yang berpenampilan seperti wanita dengan kumis tipis, tapi bibirnya dipoles dengan lipstick merah.

Bisa difahami, jika  ada yang menyebut “warok” dan “gemblakan” termasuk kelompok  yang kini populer disebut LGBT itu.

Perlunya mencari seorang guru atau mursyid yang mumpuni juga disarankan untuk orang yang ingin menyelami ilmu spiritualitas oleh Damar Sahashangka, penterjemah dan pengulas Wirid Hidayat Jati karya pujangga Ranggawarsita. Ia sangat menghargai Wirid Hidayat Jati dan menyebutnya sebagai induk Ilmu Kejawen.

Wejangan itu dulu sangat dirahasiakan. Diajarkan tidak pada sembarang orang , tempat dan waktu. Demi menghormati leluhur yang menguasai ilmu itu, ia menyarankan pembaca buku karyanya itu dalam keadaan bersuci dan membacanya ditempat yang tepat serta menyimpannya di tempat yang bersih.

Dalam pengantarnya, ia katakan, buku itu bukan pengganti guru, tapi hanya sekedar untuk menularkan informasi berharga semata agar tidak hilang oleh waktu.
[]

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *