Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 15 October 2015

Kisruh Suriah, Irak Kepentingan Imperialis Global: Aqil Siradj


wpid-img-20151015-wa0000.jpg

Kekerasan yang dipertontonkan kelompok “Islam ultra puritan” Islamic States alias ISIS di Suriah dan Irak mencoreng kening peradaban Islam dan tak lepas dari campur tangan imperialis global, kata pimpinan senior Nahdlatul Ulama.
“Kondisi Timur Tengah itu sangat memalukan. Damaskus, yang merupakan pusat perkembangan dunia Islam periode awal, kini penduduknya lari karena konflik berkepanjangan. Begitu juga Baghdad, sebagai pusat perkembangan Islam periode kedua di era Abbasiyah, kini juga porak-poranda,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Said Aqil Siradj, dalam seminar bertajuk  “Islam Rahmatan Lil Alamin” di Jakarta, kemarin.

Menurut Said Aqil, budaya sejatinya merupakan modal paling mahal untuk mempertahankan jatidiri dan kepribadian suatu bangsa di era globalisasi. Dia curiga konflik yang  banyak menghancurkan Timur Tengah selama ini, khususnya di Irak dan Suriah, “tidak lepas dari kepentingan imprialis global”.

Merusak modal sosial dan budaya suatu bangsa, termasuk via konflik sektarian, merupakan salah satu bentuk “imperialisme modern”, katanya.

Lebih jauh, Said Aqil mengungkap laku kelompok ‘Islam ultra puritan’ di Suriah dan Irak menghancurkan sejumlah situs budaya, makam para wali dan membunuh orang-orang yang berbeda dengannya. Sikap ekstrimisme dan anti budaya ini memperlihatkan bahwa kelompok di bawah bendera ‘Islamic State’ itu bukan terlahir dari Islam yang ‘rahmatan lil alamin’, katanya.

“Alhamdulillah (di Indonesia), masih ada Islam Nusantara yang santun dan berbudaya. Dan mayoritas adalah warga Nahdlatul Ulama,” kata Said Aqil. “Kita hargai budaya kecuali yang bertentangan dengan Islam,” lanjut Ketua Umum PBNU dua periode ini.

Masyarakat nusantara, menurut Said Aqil, punya budaya yang maju, bahkan sebelum kedatangan agama-agama. Ajaran-ajaran yang datang ke Nusantara, seperti Budha, Hindu, dan Islam, melebur dengan budaya lokal serta memberikan ruh bagi budaya tersebut. “Itulah mengapa Islam yang diterima oleh masyarakat Nusantara adalah Islam yang ramah, yang tidak memberangus budaya. Ini semua tidak lepas dari peranan para ulama pendahulu kita, habaib, dan para kyai di awal masa kedatangan Islam ke bumi Nusantara,” katanya.

Dalam seminar yang juga dihadiri oleh Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, Said Aqil juga menyinggung soal pengusiran warga Syiah di Sampang, pembakaran masjid di Tolikara dan yang teranyar, pembakaran gereja di Singkil, Aceh.  “Tidak pantas peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di Indonesia. Budaya kita santun, beradab, bermartabat, serta berakhlakul karimah,” katanya tanpa menawarkan jalan keluar yang mendetil.

Seminar yang juga didukung oleh BNPT ini juga menghadirkan seorang ulama dari Republik Islam Iran sebagai salah satu narasumber. Seminar ini diadakan sebagai rangkaian acara “Nahdlatul Ulama Cultural and Business Expo 2015” yang rencananya akan berlangsung selama tiga hari.

JM/IslamIndonesia

 

One response to “Kisruh Suriah, Irak Kepentingan Imperialis Global: Aqil Siradj”

  1. fuad says:

    untuk menyebarkan islam yg rahmatan lil alamin memang perlu banyak diadakan seminar tentang budaya islam yg santun demi mengimbangi budaya islam horor yg gencar dipropagandakan oleh anti islam berkedok jubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *