Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 30 May 2017

KISAH – Tersesat di Surga


sufi tasawuf

IslamIndonesia.id – KISAH – Tersesat di Surga

 

“Guru, saya sudah layak masuk surga,” ujar salah seorang pemuda saat baru saja menginjakkan kakinya di rumah seorang sufi.

Dengan tenang sang sufi menjawab, “Selamat, anak muda…, tapi apakah kau tidak akan tersesat di sana?”

“Maksudnya?” Tanya sang pemuda tak mengerti.

“Bagaimana kamu begitu yakin akan memasuki surga-Nya?” Tanya sang sufi sembari tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan sang pemuda terlebih dahulu.

“Aku sudah melakukan segala amal baik yang diperintahkan Tuhan. Segala hal yang dilarang sudah saya hindari. Begitu pun dengan segala hal yang baik dan sesuai aturan Allah, sudah saya kerjakan dengan sebaik-baiknya.” Jawabnya yakin.

Pemuda itu diam. Lalu melanjutkan perkataannya, “Bukankah semua itu hasil jerih payahku seperti yang diminta Tuhan?”

“Begitu… bagus anak muda. Kalau boleh tahu, siapakah yang menggerakkanmu untuk berusaha seperti itu?”

“Aku,” jawab sang pemuda singkat dan tegas.

“Jadi, kamu mau masuk surga seorang diri dengan membawa semua amal itu?”

“Ya, pasti,” jawabnya penuh percaya diri.

Sang sufi diam sejenak, lalu berkata, “Anak muda, sesungguhnya saya tidak yakin jika kamu bisa masuk surga. Kalau pun masuk, saya khawatir kamu malah tersesat di sana.”

Sontak pemuda itu terkejut dengan pernyataan ulama besar ini. Ia tak menyangka usahanya selama ini dinilai tak memiliki makna di mata sang sufi. Wajah sang pemuda seketika memerah, antara marah dan kecewa.

Melihat reaksi sang pemuda yang seperti itu, sang sufi pun berusaha mengklarifikasi dengan bertanya, “Begini anak muda, bagaimana jika seandainya seluruh amalmu ditolak Allah…?” belum usai bicara, sang pemuda dengan segera mengajukan tanya, “Kenapa?”

“Siapa tahu Anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal?”

“Saya ikhlas, Guru. Bahkan, aku masih ingat dengan setiap amal dan keikhlasan yang dilakukan. Aku shalat wajib dan sunnah. Aku puasa wajib dan sunnah. Aku haji, aku zakat…”

Dengan bijak guru sufi itu menjawab, “Anak muda, orang yang ikhlas beramal tidak akan menjadikan amalnya tameng untuk memasuki surga. Orang ikhlas akan menyerahkan segala amalnya pada Tuhan sebagai bentuk terimakasihnya atas penciptaannya di dunia ini, sehingga mana mungkin orang yang ikhlas mengingat-ingat dan menghitung-hitung amalnya yang kemudian ingin ditukarnya dengan balasan surga?”

Pemuda itu seketika lunglai. Pikirnya melayang membayangkan surga dan amalnya yang dikira setumpuk itu memiliki kemungkinan untuk ditolak Allah.

Melihat tamunya lesu, sang sufi kemudian menepuk pundaknya.

“Anak muda, mari kita istighfar bersama-sama. Jangan kecewa, jangan putus asa. Menginginkan dan berharap dapat balasan surga itu baik. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita bila sudah sampai sana tidak bertemu dengan Sang Tuan Pencipta surga. Itu sama seperti kita masuk rumah orang, tapi kita tidak berjumpa dengan tuan rumahnya. Bukan bahagia yang kita dapat, tapi justru kita akan seperti orang linglung, bahkan mungkin tersesat.

“Guru, lalu aku harus bagaimana?” Tanya sang pemuda.

“Cobalah untuk mencapai ridha Sang Pencipta surga, maka semua nikmat-Nya akan diberikan kepadamu. Amalmu sesungguhnya bukanlah tiket menuju syurga. Tapi keikhlasanmu dalam beramal merupakan wadah bagimu untuk mencapai ridha-Nya, yang salah satunya akan mengantarkanmu pada syurga-Nya.”

Pemuda itu manggut-manggut seraya mengucap istighfar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *