Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 04 October 2015

KISAH – Pengemis dan Jamaah Haji di Mina


2015-10-04 16.32.00

Menjelang puncak prosesi haji, seorang pria bernama Abu Abdillah, bersama jamaah haji lainnya berkumpul di Mina. Suatu ketika, di lembah padang pasir yang terletak 5 km dari Makkah itu, Abu Abdillah duduk bersama para sahabatnya sambil memakan buah anggur yang tersedia di tengah-tengah mereka.

Di sela-sela menikmati buah anggur, datanglah pengemis dengan sikap memohon sesuatu kepada mereka. Abu Abdillah mengambil beberapa buah anggur untuk diberikan kepada pengemis itu. Ternyata, sang pengemis menolak dan meminta uang. Abu Abdillah memohon maaf kepadanya dan mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang. Pengemis itu lalu pergi dengan wajah kecewa.

Setelah beranjak beberapa langkah, pengemis itu berubah pikiran dan kembali lagi. Kepada Abu Abdillah, ia meminta diberikan buah saja. Kini giliran Abu Abdillah yang menolak memberikan buah. Tidak lama kemudian, pengemis lainnya datang mendekati Abu Abdillah yang masih duduk bersama para sahabatnya. Sebagaimana sebelumnya, pria asal Madinah ini memberikan buah anggur. Sang pengemis menerimanya dan berkata, “Alhamdulillah rabbil ‘alamiin, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan saya makan…”

Mendengar kata-kata pengemis itu, Abu Abdillah memintanya untuk tidak bergegas pergi. Abu Abdillah memenuhi kedua tangannya dengan anggur dan kembali memberikan kepada pengemis itu. Dengan wajah yang sumringah, pengemis itu kembali bersyukur kepada Allah. Lagi, Abu Abdillah memintanya untuk tidak beranjak pergi dan bertanya satu per satu kepada sahabatnya, “Berapa banyak uang yang engkau bawa?”

Seseorang di antaranya memeriksa kantongnya dan mengeluarkan uang sebanyak 20 dirham. Uang itu diserahkan ke sang pengemis atas permintaan Abu Abdillah. Sang pengemis itu pun spontan mengatakan, “Terima kasih Ya Allah, hanya Engkaulah Tuhan Yang Maha Pemberi dan tiada sekutu bagi-Mu”.

Mendengar apa yang diucapkan oleh sang pengemis, Abu Abdillah segera mengambil selembar pakaian yang dibawanya dan memberikan kepada pengemis itu. Ketika suasana kegembiraan hatinya semakin meluap, pengemis itu mengucapkan terima kasih dengan rentetan pujian kepada orang asing yang dermawan itu. Selanjutnya, pria yang kelak dikenal sebagai sufi abad VII Masehi itu tidak lagi memberikan apapun dan beranjak pergi meninggalkan pengemis itu.

Ketika meninggalkan Mina, para sahabat Abu Abdillah berdiskusi tentang pengemis yang mereka jumpai di lembah yang terkenal dengan tempat melempar jumrah itu.  Seseorang di antara mereka berkata, “Saya mengira pengemis itu akan terus menerus bersyukur pada Allah sebagaimana yang dia lakukan sebelumnya. Jika ia istiqamah, Abu Abdillah akan memberikannya lebih banyak lagi. Sayangnya, sikap pengemis itu berubah dan mengekspresikan rasa syukur dan pujiannya kepada Abu Abdillah sehingga pengemis itu tidak lagi mendapatkan apapun.”

 

 

Edy/ MM/ Islam Indonesia. Foto: encrypted-tbn1.gstatic.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *