Satu Islam Untuk Semua

Monday, 25 April 2016

KHAS – Kekesalan Veteran Afghan di Jabodetabek


Karikatur Salafi Jihadi

Islamindonesia.id–Kekesalan Veteran Afghan di Jabodetabek

Ini pertemuan “mereka”. Hanya untuk mereka dan hanya di antara mereka. Ini sparring intelektual tertutup antara dua kubu ikhwan yang mengontrol ‘kemurnian’ simpul-simpul syaraf gerakan Islam yang di Jakarta Raya, atau begitulah menurut mereka. Temanya memang kontroversial — yup ini soal bagaimana seharusnya ikhwan menyikapi kekhalifahan kelompok militan ISIS — dan ini, tentu saja, tabu tersiar keluar. Ha-ram.

Hari itu, Senin (18/4), mereka memilih meriung di sebuah tempat lapang yang menjadi ‘basis operasi depan’ bersama, namun di mata awam dianggap sebagai bangunan biasa: Wisma Haji. Pengamanan, dengan sendirinya, jadi nomer satu. Sedari pagi, sejumlah ikhwan yang dipercaya punya kualifikasi James Bond, memagari empat sudut kompleks lapang di jantung Bekasi itu. Tugas mereka memastikan tak ada penyusupan.

Cegah Teror ISIS Indonesia

Tapi di sinilah cerita yang sesungguhnya bermula: mereka gagal. Laporan polisi yang bocor ke awak media di hari yang sama kemudian, memuat seluruh detil pertemuan, dari jam, peserta, bahkan seluruh seluruh intisari perdebatan.

Jika isi bocoran bisa dipegang, debat tertutup di Ruang Sofa — laporan salah mengejanya dengan ‘Sopa’ — berjalan membosankan. SU dan letnannya, AN, mewakili kubu Ikhwan yang berbaiat pada ISIS, membuka perdebatan dengan mengulik definisi kekhalifahan. “Kita harus tahu dulu apa itu khilafah; pengelolaan berdasarkan aqidah Islam dengan menerapkan Syariah Islam,” katanya seperti tertera dalam bocoran.

Panjang lebar dia bercerita soal ini, soal kemestian berbaiat dan strategi besar menumbuhkan simpati Muslimin Indonesia pada ISIS demi tegaknya apa yang, dengan langgam Arab yang berantakan, dia sebut sebagai “Khilafah alla minhajin nubuwah”.

Tapi, o ummu, ini jelas tamparan bagi SA dan sejumlah letnannya, mewakili kubu kelompok kontra ISIS, yang pagi itu datang dengan kekuatan penuh.

Okey, sejujurnya, semua mereka kenal Islam setelah besar. Semua mereka pernah bertahun-tahun bergelimang kejahiliahan sebelum menjadi Ikhwan. Tapi, demi Rabb, itu tak berarti mereka awam soal definisi kekhalifahan dan seluruh cabang perdebatannya.

AT (54), veteran Afghan yang telah mengenal medan perang saat SU masih berpopok, Baghdadi masih bermain gundu di jalan-jalan Basra, sepuh dunia pergerakan yang sepak terjangnya sempat membuat ‘peneliti’ terorisme, Sydney Jones, seperti terobsesi, nyaris tak dapat menahan diri. “Saya meminta kepada Ustadz SU, jika yang diajarkan oleh Al-Baghdadi itu benar, apa yang mendasari sehingga Anda kok bisa sangat meyakini?”

AT berharap jawaban yang lebih lugas. Tapi dia segera kecewa. Sebab klik ikhwan di seberang sana terlanjur menganggap pertemuan ini adalah arena adu jotos keyakinan.

Bersambung.[]

 

SS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *