Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 02 March 2016

KHAS – Jejak Mossad di Pasar Senen


Atlas 3

Atlas

Pernah suatu ketika seorang teman memberitahu saya sebuah tempat penjualan buku-buku dengan harga terbilang cukup murah di Jakarta. Tepatnya di Pasar Senen Jakarta Pusat. Saya pun menyempatkan diri ke sana beberapa bulan lalu untuk membeli beberapa judul buku.

Beberapa toko saya kunjungi untuk memilih buku-buku yang saya cari. Salah satu buku yang saya cari saat itu adalah buku tentang Peta Indonesia dan Dunia. Akhirnya, saya memilih buku Atlas Pelajar Indonesia dan Dunia (Edisi Revisi), terbitan Penerbit Erlangga. Setelah itu saya kembali pulang ke rumah.

Sampai di rumah, segera saya obati rasa penasaran saya tentang peta Indonesia dan Dunia dengan membuka buku Atlas yang saya bawa. Ribuan pulau di Indonesia dan sumber dayanya tergambar besar di sana. Sontak saja saya merasa “kecil”, terselip di sebuah sudut pulau Jawa. Di Tanah Jawa saja tak pernah saya rambah seluruhnya, apa lagi ribuan pulau lain di Indonesia, bahkan dunia.

Atlas 2

Lembar demi lembar buku saya buka. Mata lalu tertuju pada daftar negara di dunia (hal: 80). Anehnya, dari 194 jumlah negara yang disebut, tak ada negara Palestina di sana. Sebaliknya, Israel sebagai sebuah entitas yang menduduki tanah Palestina dengan cara paksa itu, namanya tercantum jelas di sana.

Saya sempat bertanya pada salah seorang guru pengajar di salah satu sekolah internasional di Jakarta terkait hal ini. “Memang sengaja dihilangkan oleh dunia,” jawabnya melalui sebuah pesan singkat. Penghilangan oleh dunia internasional ini, menurutnya, sudah terjadi sejak lama. “Jadi kemungkinan Erlangga merujuk pada ‘pedoman internasional’ itu,” katanya.

Sehari sebelum tulisan ini dibuat, tepatnya tanggal 1 Maret 2016, seorang teman mengirimkan gambar buku Atlas dari penerbit lain yang kurang lebih isinya sama. Sama-sama tidak memuat negara Palestina dalam bukunya. Kenapa buku-buku peta Indonesia seperti manut menghilangkan Palestina? Adakah ini bagian dari kerja Mossad, intelijen Israel, yang kabarnya memang dibentuk antara lain dengan misi memupuskan setiap upaya pembelaan Palestina di dunia?

Terlepas dari apakah ada upaya sistematis untuk benar-benar melenyapkan Palestina dari peta dunia, yang saya tahu, Kedutaan Besar Palestina di Jakarta merupakan bukti nyata bahwa Indonesia mengakui Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sebaliknya, tak pernah terdengar di telinga saya, kalau Indonesia pernah mengakui Israel sebagai sebuah negara.

Toh, bagaimana mungkin bangsa yang memiliki cita-cita mulia ini menerima begitu saja eksistensi penjajah di muka bumi? Dunia juga tahu kalau Palestina hingga saat ini masih terjajah di bawah penindasan Israel yang langgeng atas dukungan negara-negara besar di dunia. Lalu siapa yang akan membela Palestina?

Bukankah dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 kita mengamanatkan, “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Sekalipun ada upaya sistematis penghilangan nama Palestina, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki cita-cita mulia setidaknya harus memiliki sikap, pengakuan, bahwa posisi Israel dan Palestina merupakan eksistensi antara penjajah dan yang terjajah. Selanjutnya, jika sudah berani bersikap, dalam tingkatan yang lebih tinggi akan teraplikasikan dalam tindakan. Setidaknya bangsa Indonesia bisa berjuang untuk mengembalikannya dan membuat Palestina terlihat di buku-buku peta yang dijual murah di Pasar Senen.[]

Malik/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *