Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 26 April 2016

KHAS–Gus Mus: Jangan Sebarkan Islam dengan Merusak Indonesia


12931120_10201845356011103_5849696948980954960_n

Islamindonesia.id--Gus Mus: Jangan Sebarkan Islam dengan Merusak Indonesia

Tidak seperti ormas yang kerap merongrong Indonesia, KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri menegaskan Nahdatul Ulama justru menganggap bangsa ini adalah rumah mereka sendiri. Hubungan harmonis ini, menurut Gus Mus, karena NU didirikan oleh para ulama atau kiai pesantren yang memiliki wawasan kebangsaan yang luar biasa.

“Mereka tidak hanya memperjuangkan Islam, kemudian Indonesia rusak tidak masalah. Itu tidak,” kata Pengasuh Ponpes Raudhatu Thalibin Rembang ini kepada seluruh penonton Mata Najwa, (13/4).

Jadi kalau ‘rumah’ mereka rusak, lanjut pria berusia 71 tahun ini, orang NU menangis. Sedemikian sehingga, tidak masuk akal jika ada orang NU yang merusak rumahnya sendiri. Dalam hal ini, Gus Mus menegaskan bahwa orang NU adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan turis yang beragama Islam.

Lalu mengapa Gus Mus mengundurkan diri dari jabatan Rais ‘Am NU? Hal ini karena jabatan tidak lepas dari  tanggung jawab, katanya. Bukan sedekar tanggung jawab di dunia, tapi juga di akhirat. Kelak, menurut Gus Mus, pemimpin yang masuk neraka itu ada dua golongan.

“Pertama, dia tahu bahwa tidak ada yang pantas kecuali dia, tapi dia tidak mau.”

Kedua, orang yang ngotot ingin jadi pemimpin, padahal dia tahu bahwa selain dia ada yang mampu jadi pemimpin. “Saya takut yang kedua. (Karena) saya tahu, banyak yang lebih pantas dari saya untuk menjadi pemimpin.”

Ketika sebagian besar orang berlomba-lomba memburu jabatan, sikap Gus Mus menolak jabatan memang tergolong langka. Nilai jabatan di mata jebolan Al Azhar Mesir ini memang tidak umum, sedemikian sehingga dia disebut ‘merusak pasaran’. Menjadi fenomena yang umum, orang menganggap jabatan sebagai anugerah. “Sehingga ketika dapat jabatan, terus syukuran,” katanya

Gus Mus lalu berkisah ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden menggantikan BJ Habibie. Ketika yang lainnya mengucapkan selamat kepada Gus Dur, pria kelahiran Rembang ini malah memberi ucapan duka. “Saya ngga ikut ucapin selamat, tapi ikut belasungkawa,” kenangnya sambil mengatakan Gus Dur justru berterimakasih atas ucapan dukanya itu.

Sebagai seorang yang pernah memangku jabatan di dunia politik, Gus Mus tentunya tidak asing dengan sikap para pejabat dan politisi.  Sebelumnya, eks anggota dewan daerah ini sempat menganggap orang yang terjun ke politik itu tujuannya demi kemaslahatan masyarakat luas. Ternyata, faktanya tidak demikian. Tidak sedikit dari para politisi bekerja untuk kepentingan diri sendiri.

“Jadi sekarang, saya tidak bisa ditipu oleh politisi-politisi itu,” katanya.

Gus Mus lalu menceritakan latar belakang mengapa dia sempat terjun ke dunia poltik. Sabagai seorang Muslim, penulis kumpulan puisi ‘Pahlawan dan Tikus’ ini ingin menunjukkan etika politik yang berbeda dengan mereka yang tak beragama. “Seandainya sama saja dengan orang yang tak beragama, lalu dimana kemusliman saya itu,” katanya sambil menekankan bagaimana berpolitik dengan beretika. []

 

Edy/Islam Indonesia/Foto: facebook.com/simbah.kakung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *