Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 17 January 2016

KHAS – Dimanakah CCTV Bom Sarinah Berada?


wp-1453011014909.jpg

Tiga hari pasca penyerangan bersenjata dan ledakan bom di bilangan Sarinah, Jakarta Pusat, pada Kamis, polisi belum bisa menghadirkan penjelasan yang runut dan utuh atas tragedi yang menewaskan tujuh orang itu.

Bahrun Naim, seseorang yang mereka gambarkan sebagai otak penyerangan, jauh di luar jangkauan untuk bisa diinterogasi ihwal A-Z tragedi. Harap maklum, menurut polisi, dia berada di Raqqa, kota di utara Suriah yang dicaplok dan disulap jadi ibu kota ‘kekhalifahan’ oleh kelompok militan Islamic States atau ISIS. Mereka juga tak punya kuasa menginterogasi Abubakar Al Baghdadi, bos besar ISIS, yang digambarkan sebagai inspirator serangan dan notabene adalah orang paling diburu di kolong langit saat ini.

Pahitnya, empat orang yang “dipastikan” sebagai pelaku penyerangan, tak satu pun yang bisa diinterogasi. Semua mereka mati di tempat. Menurut polisi, dua di antaranya mati karena meledakkan bom di dalam kedai kopi Starbuck serta di pos polisi Sarinah; dua lainnya mati kena tembak polisi di parkiran Starbuck. Dua korban tewas lainnya adalah warga sipil asal Jakarta dan seorang warga asal Kanada.

Ihwal satu korban lainnya, disebutkan beridentitas Sugito (43), polisi berterus-terang kalau mereka masih meraba-raba adakah dia termasuk penyerang atau justru korban.

Penelusuran Islam Indonesia menunjukkan penyelidikan polisi masih berlobang di sana-sini. Selain soal kematian Sugito, polisi misalnya, tak kunjung menjelaskan kenapa dan bagaimana warga Kanada, Amer Ouali Tahar (70), bisa sampai tewas di parkiran Starbuck. Polisi bahkan belum menjelaskan dimana Amer berada saat ledakan terjadi di dalam kedai Starbuck.

Polisi juga belum menjelaskan kronologi penuh peristiwa yang bisa memperterang segala sesuatunya, semisal kapan penyerang tiba di lokasi, dengan kendaraan apa mereka datang, siapa yang membantu mereka, dari arah mana mereka bergerak, bagaimana mereka berkomunikasi dan berkoordinasi, dan banyak pertanyaan dasar dan krusial lainnya.

Pemeriksaan Islam Indonesia menunjukkan polisi semestinya bisa mengetahui seluruh kronologi kejadian secara utuh hanya dalam hitungan menit. Ini lantaran di simpang Sarinah-Thamrin, episentrum serangan, terpasang sedikitnya tiga atau empat lusin atau bahkan lebih kamera CCTV yang utuh merekam suasana sebelum dan paska kejadian.

Bila mau jujur, bahkan setiap jengkal persimpangan itu, terekam cctv.

Pos polisi yang kena serangan bom misalnya, di atasnya terpasang sedikitnya tujuh CCTV. Kamera pengintai serupa terpasang secara masif di Gedung Sarinah, halted busway di dekatnya, empat pojok persimpangan, gedung Pengawas Pemilu di seberang pos polisi, seluruh sudut lahan parkir Starbuck, ruangan dalam kedai, perkantoran di sekitarnya, termasuk Gedung Jaya di seberang jalan.

Bila mau jujur lagi, seluruh ruas jalan utama yang mengarah ke episentrum peristiwa, semuanya tercover CCTV. Dengan asumsi seluruh jejaring CCTV itu berfungsi penuh, polisi semestinya dengan mudah mengurut kacang peristiwa.

Nah, kenapa polisi seperti melupakan data krusial peristiwa yang secara masif dan utuh terekam dalam jejaring cctv? Bukankah dalam pelbagai teror mematikan sebelumnya, penyelidikan polisi bisa sangat cepat dan terakselerasi berkat bantuan rekaman cctv di lokasi peristiwa? Besar kemungkinan polisi telah mempelajari dan mengetahui semuanya — namun, kali ini, memilih menyimpannya dari publik karena pertimbangan tertentu yang masih sukar ditebak. []

RR/IslamIndonesia

One response to “KHAS – Dimanakah CCTV Bom Sarinah Berada?”

  1. kunjungi says:

    mungkin tidak ada petugas yang selalu memonitor CCTV..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *