Satu Islam Untuk Semua

Monday, 16 May 2016

KHAS – Amarah Ikhwan Kemarin Sore


Amarah Ikhwan KemarinSore

IslamIndonesia.id–Amarah Ikhwan Kemarin Sore

 

Segelas jus jambu, sepiring dua rendang dan kuah asam padeh, kerap lebih kuasa dari Densus 88 dalam mengorek rahasia kalangan Ikhwan pergerakan.

Bekasi, empat pekan setelah teror Bom Thamrin di Jakarta. AT (54), veteran senior perang Afghanistan yang menjulang karena girah, keberanian, dan keteguhannya menjalankan sunnah, atau begitulah menurut barisan pengagumnya, tak punya kendala apapun untuk duduk semeja dengan seorang wartawati bule berparas manis di sebuah rumah makan Padang.

Kate Lamb, demikian nama wartawati lepas The Guardian itu, memang sengaja mentraktir AT untuk mendengar perspektifnya terkait teror di jantung Jakarta tempo hari itu. Sekalian, dia juga kepincut mencari tahu seperti apa AT melihat tokoh-tokoh muda ikhwan sekelas SU yang, saat AT masih diterungku terkait kasus “terorisme Aceh”, beramai-ramai menyatakan baiat penuh pada Abu Bakar Al Baghdadi, sosok misterius dari Irak yang mengguncang dunia lepas mentahbiskan diri sebagai Khalifah kelompok militan Islamic States atau ISIS.

Uhuy. AT, lepas menyantap hidangan di meja dan sekali dua menyeruput jus jambu pilihannya, mengungkap sesuatu yang membuat Kate merasa traktirannya tak sia-sia. Tanpa beban, dia memites Ikhwan yang dia anggap “amatiran” mementaskan teror di Thamrin. Seolah belum cukup, dia menertawakan sosok Al Baghdadi yang juga dia anggap kroco. “Saat saya berangkat ke Afghanistan pada 1985, usianya mestinya masih 14 tahun,” katanya merujuk pada sosok Al Baghdadi. “Istilah kami dia ‘anak kemarin sore’.”

SU besar kemungkinan membaca laporan Kate itu dan memendam amarah sejak itu. Mungkin itulah sebabnya saat AT menkonfrontirnya dengan pertanyaan yang bernada meremehkan dalam diskusi tertutup tokoh dunia pergerakan di Bekasi, April silam, dia meledak.

Laporan polisi yang bocor ke wartawan menggambarkan SU seketika bersuara tinggi. Mukanya memerah padam. “Menurut saya yang diajarkan Al Baghdadi itu benar karena semuanya sudah sesuai dengan perjalanannya pasukan Panji Hitam dan sudah tertuang dalam Al Quran dan Al Hadits,” katanya. “Kami pun menyampaikannya ke para ikhwan, berdasarkan apa yang telah diterangkan dan dijanjikan oleh Allah dan Al Quran.”

SU sepertinya sengaja membawa hujjah pamungkas untuk menutup ruang diskusi. Sadar di atas angin, dia menantang AT. “Kalau semua yang saya sampaikan benar, apakah Bapak bersedia dibaiat?” katanya dalam laporan.

Laporan mengisyaratkan AT memilih landai. Dia mempertanyakan kearifan SU dan ikhwan sealiran. Menurutnya, gaung kekhalifahan ISIS bisa membuat Muslimin yang tergerak hatinya berbuat sesuatu yang, menurutnya, “berlebihan”. Toh, katanya, dakwah dan penegakan hukum Islam berdarah-darah ala ISIS di Suriah dan Irak tak lagi sejalan dengan zaman yang pesat dengan perkembangan teknologi seperti sekarang. “Cukup kita mengIslamkan umat Islam dengan cara mengajarkan mereka untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dengan berdakwah secara arif dan bermartabat, baik secara langsung ataupun melalui sarana media,” katanya dalam laporan.

Tapi AT bukan anak kemarin sore. Dia memecahkan sebuah kejutan balik untuk kalangan ikhwan yang hari itu berdiri di belakang SU. “Jika ajaran ISIS itu salah, bersediakah Anda untuk meninggalkan ISIS?” kata laporan menyebut tantangan balik AT pada SU.

SU bisa jadi memang tak menyangka tantangan balik itu. Menurut laporan, dia sempat gelagapan sebelum menjawab, “Saya tanyakan dulu ke jamaah saya.”

Laporan tak merinci lebih jauh jalannya diskusi tertutup 2,5 jam itu. Namun, menurut sejumlah sumber lain, diskusi sempat memanas dan nyaris berakhir dengan adu jotos antara ikhwan pendukung ISIS vs penentangnya. Di Wisma Haji Bekasi siang itu tak ada jus jambu dan meja penuh rendang dan kuah asam padeh.[]

 

RQ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *