Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 April 2017

Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Sedang Alami Krisis Multidimensi  


Ketum PP Muhammadiyah Indonesia Sedang Alami Krisis Multidimensi  

islamindonesia.id – Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Sedang Alami Krisis Multidimensi

 

Sengkarut permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia sangat multidimensi. Para pemimpin yang diberi amanah untuk membawa bangsa ini mencapai cita-citanya abai terhadap hal-hal fundamental.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam keynote speechnya yang membuka seminar dan lokakarya bertema “Kedaulatan Indonesia: Menyongsong Seabad Kemerdekaan”, Haedar kembali mengingatkan bahwa bangsa Indonesia perlu berkaca pada diri sendiri tentang nilai seperti apa yang dipegang teguh namun kini ditinggalkan.

“Ada sesuatu yang hilang di masa lampau dan ingin kita bangkitkan kembali. Ada yang tercecer dalam kehidupan bangsa kita,” ujar Haedar dalam pembuka semiloka di University Club, Yogyakarta pada Sabtu (29/4/2017).

Dalam melihat permasalahan yang sedang dihadapi, Haedar mengajak untuk kembali melihat bagaimana pondasi bangsa ini dibentuk. Karena perjuangan panjang memperoleh kemerdekaan telah melahirkan pondasi yang kuat.

“Dalam Pancasila terkandung jiwa pikiran dan hasrat yang dibangun sedalam-dalamnya. Pondasi ini jadi nilai dalam kita berbangsa dan bernegara yang harus jadi acuan baik bagi pejabat elit maupun masyarakat,” ucapnya.

Ketum PP Muhammadiyah periode 2015-2020 ini mengingatkan bahwa Indonesia diberi modal kebangsaan yang kuat yang bahkan tidak dimiliki bangsa lain.

“Modal rohaniah dan sejarah. Seluruh perjuangan panjang dan kebudayaan adalah modal. Kita juga diberi modal alam berupa anugerah kekayaan alam untuk bangsa Indonesia,” jelasnya.

Namun modal tersebut tidak akan mampu memberi rakyat Indonesia sesuai janji kemerdekaan apabila dijalankan tanpa nilai dasar. “Nilai dasar tadi mengalami pembiasan. Lahirlah proses politik ekonomi budaya yang membuat kita semua resah,” tutur Haedar.

Haedar kemudian melanjutkan, “Berkembangnya politik transaksional. Lalu politik identitas yang mengoyak persatuan kita.”

Kesenjangan sosial yang kini selalu dikoarkan juga tidak terlepas dari lunturnya ke-Indonesiaan.“Akarnya adalah karena nilai dasar itu tercerabut. Nilai kebersamaan misalnya. Nilai kenegarawanan mulai tercerabut dan tergantikan oleh kepentingan kelompok,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Haedar menganggap bahwa karut-marut politik saat ini didasari oleh pergeseran nilai yang kemudian menghasilkan sebuah sistem yang abai terhadap tanggung jawab kita sebagai bangsa.

Haedar juga menyebutkan bahwa pilar-pilar penopang negara seperti politisi, kelompok agama, dan akademisi tidak berjalan beriringan.

“Kelompok agama dan kampus jarang mendapat tempat karena suara mereka tidak diterima. Banyak suara di luar pagar sering tidak diterima. Hanya saat sudah gawat baru kami diundang,” katanya.

Pidato tersebut sejalan dengan tema semiloka yang diselenggarakan oleh Institut Harkat Nusantara. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat kembali masalah mendasar bangsa yang sering terabaikan akibat isu-isu kepentingan kelompok yang lebih menonjol dalam diskursus politik Indonesia.

Kegiatan ini akan disusul dengan lokakarya yang diharapkan mampu menjadi penghubung gagasan kebangsaan. Peserta berasal dari 17 provinsi dengan latar belakang akademisi, pendidik, aktivis LSM, dan elemen masyarakat sipil lainnya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *