Satu Islam Untuk Semua

Friday, 16 May 2014

Ketum PBNU: NU Tidak Butuh Negara Islam


foto:langsungpilih.com

NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia.

KAUM nahdliyin Depok harus memahami garis perjuangan NU. Selain mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU Depok juga harus mendakwahkannya. Hal ini dilakukan agar bangsa ini tidak pecah, tidak tercabik-cabik, dan tererai-berai. Agama Islam harus dipahami dan dikaji, bukan dilembagakan. Demikian pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj  di sela-sela pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok periode 2013-2018, pada Kamis (15/5).

“NU tidak butuh negara Islam. Sayang kalau namanya sudah kadung jadi negara Islam tetapi pejabatnya banyak yang korupsi, banyak yang dipanggil KPK. Malu nggak Islam? Makanya, NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia,” ujar Kiyai Said.

Belajar dari Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari kota Mekah ke kota Yatsrib. Saat tiba di sana, , Rasulullah mendapati masyarakat yang plural. Ada orang orang Islam: Auz dan Khazraj, ada pula non muslim, Yahudi: Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadlir. Itulah yang menyebabkan  dalam Al Quran banyak ayat yang membicarakan orang Yahudi.

“Lalu, Rasulullah membuat perjanjian yang disepakati bersama antara kaum muslimin dan non muslim. Perjanjian tersebut terkenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah. Rasulullah menegaskan, Ini ketetapan Muhammad untuk semua warga, asal satu cita-cita, satu visi-misi, satu garis perjuangannya sesungguhnya mereka itu umat yang satu,” kata kiyai yang juga doktor lulusan Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia ini.

Kiyai Said juga menandaskan bahwa Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara yang diikat dengan satu cita-cita dan visi-misi. Tidak diikat dengan dasar agama atau kesukuan.  Dalam kenyatannya, Nabi tidak mendeklarasikan negara berbasis agama dan suku karena di dalamnya ada Muslim dan non-Muslim, ada Arab dan non-Arab.

“ Dalam perjanjian Madinah itu sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawiyah juz II halaman 61, 2 setengah halaman tidak ditemukan kata-kata Islam sama sekali. Artinya Nabi membangun masyarakat berbasis budaya dan peradaban,” ungkap lelaki yang akrab disapa Kang Said itu.

Itulah, lanjut Kang Said, yang menyebabkan nama Yatsrib berubah menjadi Madinah yang berarti peradaban (berasal dari kata tamaddun, madaniyyah, masyarakatnya disebut mutamaddin). Warganya yang benar dilindungi, yang salah dihukum.

“Contohnya, ada sahabat membunuh orang Yahudi. Nabi marah besar. Barangsiapa membunuh nonmuslim berhadapan dengan saya, saya advokatnya nanti. Dan barangsiapa yang berhadapan dengan saya, maka tidak akan masuk surga,” ujarnya.

 

Sumber: NU Online 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *