Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 31 May 2015

Kerukunan Beragama di Indonesia Jitu Mengempiskan Phobia Islam, Kata Peneliti


IMG_1138-0.JPG

Wajah Islam di Indonesia yang ramah dan toleran bisa menjadi alternatif bagi warga dunia, khususnya di Barat, yang resah pada mewabahnya pemahaman Islam yang serba-formal, kaku dan kerap identik dengan kekerasan di berbagai dunia, kata seorang peneliti agama asal Austria. 

“Kehidupan Muslim di Indonesia patut jadi contoh bagi warga dunia, karena selain faktanya mayoritas penduduk adalah umat Muslim, perbedaan yang tumbuh di Indonesia juga sangat beragam,” kata guru besar studi Islam di Universitas Wina, Prof. Dr. Rüdiger Lohlker, dalam sebuah diskusi di lembaga tangki pemikir Nahdhatul Ulama di Jakarta, Jumat.

Menurut Lohlker, kerukunan agama yang hidup dan bahkan menjadi ‘tradisi’ di Indonesia, masih asing bagi banyak warga Eropa yang umumnya phobia Islam. 

Di Wina, katanya memcontohkan, masih banyak anak muda yang seketika ketakutan saat mendengar kumandang adzan, katanya.

Berbicara dalam diskusi yang sama, utusan khusus Shaikh Agung Al Azhar, Mesir, Mohamed Aboelfadl Ahmed, berpendapat ketakutan dunia pada Islam belakangan ini berlatar apa yang dia gambarkan sebagai “kecangihan” kelompok radikal dan penggusung gerakan terorisme dalam menyebarkan propaganda via internet. 

“Banyak orang yang termakan hasutan media yang berjubah Islam tapi isinya melulur menyebar kebencian,” katanya. 

Dia menengarai operasi media semacam itulah yang mengentalkan phobia Islam di Barat sekaligus memperuncing perbedaan antar mazhab dalam Islam. 

“Kuncinya adalah toleransi dan saling memahami,” kata Syaikh Aboelfadl Ahmed menanggapi pertanyaan peserta diskusi seputar laku sebagian Muslim yang seperti kerasukan menggali ruang perbedaan pandang antar dua mazhab besar dalam Islam, Sunni dan Syiah.

“Itu sesuatu yang sangat sensitif dan berbahaya,” katanya mengingatkan orang banyak menjauh dari kaum takfiri, gemar mengkafirkan kelompok yang berbeda pandang. 

“Bagi Al Azhar, takfiri adalah tradisi yang terlarang sebab memang tak semestinya Muslimin mengkafirkan Muslim yang masih bersyahadat,” katanya.

Andi/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *