Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 23 October 2016

Kepada Santri Cak Nun Berpesan: Jangan Latah Mengabdi Kepada yang Bukan-Bukan


kepada-santri-cak-nun-berpesan-jangan-latah-mengabdi-kepada-yang-bukan-bukan

Islamindonesia.id—Kepada Santri Cak Nun Berpesan: Jangan Latah Mengabdi Kepada yang Bukan-Bukan

 

Dalam sebuah kesempatan, di hadapan jamaah Maiyah yang terdiri dari para santri, Cak Nun berpesan, hendaknya mereka tak ikut-ikutan latah mengabdi kepada “yang bukan-bukan”.

Apa sebenarnya yang dimaksud “yang bukan-bukan” oleh Mbahnya Jamaah Maiyah itu?

Seperti seringkali disampaikannya, tantangan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia sangatlah mengerikan. Yakni penjajahan global yang bertujuan menghancurkan umat Islam dan merampok kekayaan Indonesia.

Maka ketika Cak Nun berpesan agar santri tidak mengabdi kepada yang bukan-bukan, sesungguhnya secara implisit para santri diajak untuk mengerti konteks global yang tengah mereka hadapi saat ini. Apa saja?

Sebut saja di antaranya, fakta ironis betapa seringnya umat terkecoh oleh tingkah polah “boneka lucu” yang tampak di panggung pertunjukan, dan pada saat yang sama, menjadi sama sekali lupa bahwa di balik boneka yang tampak menggemaskan itu justru ada “tangan-tangan dalang” yang menggerakkan, dalang yang sejatinya sama sekali tak lucu melainkan penuh tipu daya sekaligus kejam.

Lalu siapa dalang yang dimaksud?

Ituah kekuatan konspirasi global yang sejak awal telah menyusun skenario detail dan jalan cerita yang menghanyutkan, tentang bagaimana selayaknya upaya penaklukan demi penaklukan terhadap bangsa kita mesti dijalankan. Tentang apa saja umpan-umpan yang mesti diberikan, dan kapan waktu-waktu yang tepat melemparnya ke tengah gelanggang, agar kita melahap racun-racun yang berasa madu, lalu kita mati mengenaskan secara perlahan, tanpa benar-benar paham apakah kematian itu bernilai-berharga atau justru sejenis kematian konyol akibat kebodohan.

Sama halnya ketika mereka dipesan agar tidak minder, tetap harus percaya diri, tidak mudah terkecoh oleh istilah-istilah yang menipu daya pikiran, pengkutub-kutuban konsep misal antara budaya dan agama, antara demokrasi dan Islam, serta bentuk penjajahan lain-lain, sesungguhnya Cak Nun tengah mengingatkan para santri akan kondisi penjajahan global yang sedang berlangsung nyata di tengah kehidupan bangsa kita.

Bahwa kondisi saat ini, sesungguhnya tak jauh beda dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang dulu, yang ditentang mati-matian oleh para Kiai beserta para santri, sebelum Indonesia meraih merdeka. Karena mesti diakui, Indonesia saat ini pun kata Cak Nun, belumlah Indonesia yang benar-benar merdeka dari tangan-tangan dalang jahat dan para mafia yang bukan-bukan.

Maka dalam menghadapi situasi genting dan darurat semacam itu, sekurang-kurangnya para santri atau pesantren diminta untuk terus-menerus memperbaharui kurikulumnya, dari ta’lim menuju takdib. Segera berubah dari upaya membangun manusia data dan manusia pengolah data menuju manusia adab.

Untuk itulah para santri mesti tak pernah henti dan lelah belajar agar tak mudah tertipu bujuk rayu boneka-boneka lucu dan terjatuh pada kubangan pengabdian kepada yang bukan-bukan.

Cak Nun juga menegaskan bahwa tugas para santri lah menjaga martabat Indonesia. Tugas itu wajib hukumnya karena Allah mengamanahi kita semua untuk menjadi khalifatullah di muka bumi, tak terkecuali khalifatullah di bumi Indonesia.

Di atas semua itu, Cak Nun menekankan bahwa para santri hendaknya selalu sadar dan yakin bahwa keadaan Indonesia hari-hari ini mustahil bisa diatasi atau diperbaiki tanpa ditemani oleh pertolongan Allah SWT dan Syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *