Satu Islam Untuk Semua

Friday, 13 October 2017

Kenapa Kain Pembungkus Jenazah Bangsa Viking Bertuliskan ‘Allah’?


Kenapa Kain Pembungkus Jenazah Bangsa Viking Bertuliskan ‘Allah’

islamindonesia.id – Kenapa Kain Pembungkus Jenazah Bangsa Viking Bertuliskan ‘Allah’?

 

Penemuan tim peneliti Swedia berupa kain pembungkus jenazah bangsa Viking yang di atasnya terajut kata “Allah” dalam huruf Arab Kufic, tak ayal memicu tanya terkait kemungkinan masuknya pengaruh Islam di kawasan Skandinavia dan Eropa pada umumnya, sejak ratusan tahun silam.

Sebelumnya, artefak yang sudah diamankan dan disimpan selama lebih dari 100 tahun itu pun dianggap sebagai pakaian jenazah bangsa Viking pada umumnya. Namun, penyelidikan baru atas pakaian itu –yang ditemukan di pekuburan dari Abad ke-9 atau ke-10—menghasilkan sebuah terobosan baru bagi bidang sains-historis, khususnya terkait aspek kebudayaan Viking dan penyebaran Islam di dunia.

Tepatnya, penyelidikan terbaru itu menemukan rajutan benang sutra dan perak yang menyusun kata ‘Allah’ dan ‘Ali’ dalam bahasa Arab. Demikian seperti dilansir RT dan BBC, Kamis (12/10/2017).

Terobosan itu ditemukan oleh arkeolog yang ahli bidang artefak tekstil asal Swedia, Annika Larsson dari Uppsala University. Ia memeriksa kembali pakaian jenazah, baik laki-laki dan perempuan, dari pekuburan kuno Viking di Birka dan Gamla Uppsala –yang digali pertama kali pada Abad ke-19 atau pertengahan Abad ke-20.

Larsson tertarik pada salah satu fragmen kain artefak itu, setelah menyadari bahwa bahan penyusunnya berasal dari Asia Tengah, Persia, dan China. Ia juga sadar bahwa desain geometris rajutan mungil itu –yang berukuran tak lebih dari 1,5 cm—tak seperti yang pernah dia temukan di Skandinavia sebelumnya.

“Awalnya, saya tak dapat memahami rajutan itu. Kemudian saya ingat di mana saya pernah melihat desain serupa, yaitu di Spanyol, pada tekstil bangsa Moor,” ujar Larsson.

Arkeolog itu lantas menyadari pola itu adalah kaligafi Arab Kufic dan ada dua kata yang terus berulang.

Kaligrafi Arab Kufic diketahui sebagai salah satu teknik penulisan pertama yang digunakan untuk naskah Al-Quran.

Salah satu yang berhasil diidentifikasi –dengan bantuan seorang kolega Larsson dari Iran—adalah nama ‘Ali’, Khulafaur Rasyidin ke-empat Islam pasca-kepemimpinan Nabi Muhammad.

Satu kata lagi, yang bersebelahan dengan ‘Ali’, cukup sulit untuk diuraikan. Apakah itu?

Setelah berbagai usaha, dengan melihat sisi depan dan belakang, akhirnya, “Saya tiba-tiba melihat kata ‘Allah’ yang ditulis dari sisi yang berlawanan, yang baru jelas jika dipantulkan lewat cermin. Ternyata penulisannya terbalik,” jelas Larsson.

Sejauh ini, si peneliti itu telah menemukan dua kata tersebut pada 10 dari total 100 kain artefak. Dan, kedua kata itu selalu muncul bersama.

Temuan itu memicu tanya dan sejumlah kemungkinan baru bagi bidang sains-historis terkait aspek kebudayaan Viking serta Islam.

“Ada kemungkinan jika salah satu jasad itu merupakan pemeluk Islam. Penelitian terdahulu juga telah menyebut bahwa ada beberapa jenazah yang berasal dari Persia yang dimakamkan di pekuburan Viking,” jelas sang arkeolog.

“Mungkin juga, prosesi pemakaman Viking dipengaruhi atau meniru kebudayaan serta gagasan Islam, seperti surga dan kehidupan setelah kematian.”

Saat ini, Larrson dan rekan bekerja sama dengan Departemen Imunologi, Genetika, dan Patologi Uppsala University tengah mencari tahu, asal-usul geografis para jenazah yang dimakamkan dengan mengenakan pakaian itu.

Apa yang membuat temuan Larsson begitu menarik adalah untuk kali pertama, ada artefak di Skandinavia yang menyebut soal Ali bin Abi Thalib. Sehingga turut muncul pula kemungkinan keterkaitan artefak itu dengan kebudayaan Islam Syiah.

“Nama Ali diulang-ulang di samping Allah. Saya tahu Ali merupakan figur yang sangat dihormati oleh kelompok Muslim Syiah. Maka muncul tanya, apakah temuan itu ada hubungannya,” jelas Larsson.

Pada kesempatan yang berbeda, ilmuwan lain yang mengomentari temuan itu berpendapat bahwa ada kemungkinan artefak itu dipengaruhi oleh nuansa kebudayaan Islam Syiah.

“Kata Ali saja sudah cukup menunjukkan korelasi dengan Islam Syiah,” jelas Amir de Martino, kepala program Studi Islam di Islamic College London, Inggris.

“Namun, jika tidak dilengkapi dengan frasa lanjutannya ‘wali Allah’, kata Ali dalam artefak itu mungkin tidak berasal dari kebudayaan Islam Syiah arus utama. Mungkin saja itu berasal dari kebudayaan Islam lain di luar konteks Syiah. Atau mungkin juga hanya kesalahan dalam proses pembuatan,” tambahnya.

Kata Allah dan Ali yang dituliskan dengan teknik penulisan yang sulit diuraikan sering ditemukan di dalam kuil, makam, dan naskah Syiah, khususnya aliran Alevis (di Turki dan Balkan) dan Bektashis (di Albania dan Balkan). Namun, tak seperti temuan Larsson, kedua kata itu kerap ditemukan secara utuh dan lengkap sesuai dengan maknanya.

Terlepas dari itu semua, bagi Larsson, temuan teranyar itu menjadi titik terang untuk perkembangan ilmu pengetahuan, terkhusus arkeologi kebudayaan Viking dan Islam, untuk ke depannya.

“Usai temuan itu, saya yakin saya akan menemukan lebih banyak prasasti Islam dalam fragmen-fragmen yang tersisa dari penggalian ini, dan tekstil dari era-Viking lainnya.”

“Siapa yang tahu? Mungkin kaligrafi semacam itu ditemukan pula di artefak non-tekstil.”

Kontak antara bangsa Viking dan etnis Eropa lain dengan Islam telah lama termaktub dalam catatan sejarah, lewat sejumlah temuan artefak bercorak agama yang disebarluaskan oleh Nabi Muhammad itu.

Misalnya, koin-koin kuno peninggalan masa Khulafaur Rasyidin dan cincin perak bertuliskan ‘untuk Allah’ dalam kaligrafi Arab Kufic.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *