Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 28 October 2015

Kas Arab Saudi, Qatar Habis dalam 5 Tahun: IMF


385094_Saudi-Oil

Jika harga minyak masih tetap sekitar US$ 50 per barel, sebagian besar negara di kawasan akan kehabisan dana tunai dalam lima tahun, atau bahkan lebih cepat. Demikian peringatan IMF (Dana Moneter Internasional) pekan ini yang ditujukan kepada negara-negara pengekspor minyak di kawasan termasuk pemimpin OPEC, Arab Saudi, Oman dan Bahrain.

“Pada tahun ini saja, jatuhnya harga minyak diprediksi akan membakar pendapatan di kawasan senilai US$ 360 miliar,” kata IMF.

Bahrain misalnya, sedang di bawah tekanan keuangan yang luar biasa, dengan kemungkinan kehabisan kas dalam waktu kurang dari lima tahun. Menurut  Jason Tuvey, ekonom dari Capital Economics, Bahrain sudah memiliki banyak utang dan telah mengalami defisit selama beberapa tahun berturut-turut.

“Eksportir minyak butuh penyesuaian kebijakan anggaran belanja dan pendapatan mereka dengan bijak untuk memastikan kesinambungan fiskal,” kata IMF.

Diperesi harga minyak ini muncul ketika anggaran belanja meningkat akibat perang kawasan dan pergolakan dalam pasar keuangan. Sebagai produsen minyak terbesar di dunia, menurut IMF, Arab Saudi harus menjual minyak di sekitar US$ 106 untuk menyeimbangkan naraca anggaran. Setelah bertahun-tahun surplus besar, menurut catatan Capital Economics, defisit keuangan Saudi saat ini diproyeksikan melonjak hingga 20% dari produk domestik bruto tahun ini.

“Dengan harga minyak $ 50, Riyadh  hampir tidak memiliki penyangga fiskal yang cukup untuk bertahan selama lima tahun,” kata IMF.

Kini, Riyadh bergerak cepat mempertahankan cadangan devisa. Pihak istana tidak hanya menaikkan penjualan obligasi senilai $ 4 miliar awal tahun ini, bahkan dalam enam bulan terakhir Riyadh telah menarik dana investasi mereka hingga $ 70 miliar dari sejumlah perusahaan aset manajemen seperti BlackRock [BLK].

“Beberapa proyek yang kurang penting secara ekonomi, diam-diam dikesampingkan,” kata Henry Smith, Direktur Global Risk Analysis yang berbasis di Dubai.

Dibanding opsi menaikkan pajak, Riyadh sepertinya memilih untuk memangkas sejumlah anggaran untuk meningkatkan cadangan devisa mereka. Di sisi lain, Raja Salman dinilai sangat sulit memangkas anggaran belanja sosial dan militer mengingat sang raja tidak ingin pemberontakan Musim Semi Arab 2011 terulang kembali.

Edy/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *