Satu Islam Untuk Semua

Monday, 26 September 2016

KAJIAN – Kritik Syeikh Al-Ghazali atas Pendiri Wahabi


maxresdefault-1

IslamIndonesia.id–- Kritik Syeikh Al-Ghazali atas Pendiri Wahabi

 

Menurut Syekh Muhammad Al-Ghazali, meneliti kebenaran suatu berita merupakan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatilkan yang batil. Kaum Muslim sangat besar perhatiannya dalam segi ini, baik untuk penetapan suatu pengetahuan atau pengambilan suatu dalil.

“Apalagi jika hal itu berkaitan dengan riwayat hidup Nabi mereka, atau ucapan dan perbuatan yang dinisbahkan kepada beliau,” kata ulama jebolan Al Azhar Mesir ini.

Di sisi lain, lanjut Al-Ghazali, hanya ada satu jalan saja untuk mencapai keridhaan Allah SWT dan mendapatkan kecintaan-Nya. Yaitu mengikuti jejak Muhammad saw., dan berjalan di atas sunnah beliau. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad). Niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian . . . (Ali Imran: 31)

Sejak lama, umat kita memelihara peninggalan Nabi saw., menjaganya dari segala persangkaan negatif dan menganggap kebohongan yang dilakukan oleh siapa saja berkaitan dengan beliau sebagai jalan menuju azab kekal di neraka.

“Karena yang demikian itu adalah bagian dari pemalsuan terhadap agama serta pendustaan keji terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Al-Ghazali lalu mengutip sabda Nabi saw, “kebohongan yang dilakukan berkaitan dengan aku (yakni tentang ucapan dan perbuatan beliau) tidaklah sama dengan kebohongan yang berkaitan dengan siapa pun selain aku. Barangsiapa berbohong tentang aku secara sengaja, hendaknya ia bersiap-siap menduduki tempatnya di neraka.”

Bagi ulama kelahiran Mesir ini, ahli hadis telah menetapkan lima persyaratan untuk menerima-baik hadis-hadis Nabi saw.: tiga berkenaan dengan sanad (mata rantai para perawi) dan dua berkenaan dengan matn (materi hadis):

1 – Setiap perawi dalam sanad suatu hadis haruslah seorang yang dikenal sebagai penghafal yang cerdas dan teliti dan benar-benar memahami apa yang didengarnya. Kemudian ia meriwayatkannya setelah itu, tepat seperti aslinya.

2 – Di samping kecerdasan yang dimilikinya, ia juga harus seorang yang mantap kepribadiannya dan bertakwa kepada Allah, serta menolak dengan tegas setiap pemalsuan atau penyimpangan.

3 – Kedua sifat tersebut di atas (butir 1 dan 2) harus dimiliki oleh masing-masing perawi dalam seluruh rangkaian para perawi suatu hadis. Jika hal itu tak terpenuhi pada diri seseorang saja dari mereka, maka hadis tersebut tidak dianggap mencapai derajat shahih.

4 – Mengenai matan (materi) hadis itu sendiri, ia harus tidak bersifat syadz (yakni salah seorang perawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lainnya yang dianggap lebih akurat dan lebih dapat dipercaya).

5 – Hadis tersebut harus bersih dari ‘illah qadihah (yakni cacat yang diketahui oleh para ahli hadis, sedemikian sehingga mereka menolaknya).

Kelima syarat itu, katanya, cukup menjamin ketelitian dalam penukilan serta penerimaan suatu berita tentang Nabi saw. “Kita berani menyatakan bahwa dalam sejarah peradaban manusia tak pernah dijumpai contoh ketelitian dan kehati-hatian yang menyamainya. Namun, yang lebih penting lagi adalah kemampuan yang cukup untuk mempraktekkan persyaratan tersebut.”

Al-Ghazali lalu memberi contoh Ibn Hajar, pengarang kitab Fathul Bari fi Syarh Shahih Al-Bukhari. Karya besar itu oleh para ulama, dengan tepat sekali, disebut sebagai masterpiece yang tiada tara di bidangnya.

“Namun tragisnya, dan sebagai seorang terkemuka dalam ilmu-ilmu hadis, Ibn Hajar telah menguatkan ‘hadis Al-Gharaniq’.”

Ibn Hajar, kata Sykeh Al-Ghazali, memberi lampu hijau sehingga hadis itu berjalan dengan mulus di antara manusia, dan mampu merusak agama dan dunia mereka. Sedangkan “hadis” tersebut adalah hasil buatan (pemalsuan) kaum zindiq, para pengingkar agama.

“Hal itu diketahui dengan pasti oleh ‘ulama rasikhun (mereka yang kuat pijakannya dalam ilmu).”

Tokoh yang dikenal pendiri Mazhab Wahabi, Muhammad bin Abdul-Wahhab telah ikut terkecoh oleh “hadis” tersebut, sehingga memasukkannya dalam Sirah Nabi saw. yang ditulisnya. Padahal Abdul Wahhab, lanjut Al-Ghazali, dikenal sebagai sosok yang begitu ketat sikapnya dalam usaha membela dan mempertahankan kemurnian akidah tauhid.

“Kemudian, datanglah Salman Rushdie, penulis yang hina dan berjiwa budak. Ia jadikan hadis palsu itu sebagai landasan bagi judul novel-nya, Ayat-Ayat Setan!”

Bagi Syekh Al-Ghazali, adalah kewajiban para ahli ilmu Kalam, Fiqh dan Tafsir untuk membersihkan kotoran yang memedihkan mata umat ini.

“Tak pelak lagi, para penjaga kemurnian hadis-hadis shahih menolak hadis yang tak berharga sedikit pun ini.”

Seperti diketahui, “Hadis Al-Gharaniq” adalah sebuah hadis yang disahihkan sanadnya oleh beberapa ahli hadis termasuk Ibn Hajar. Yaitu, bahwa ketika masih di Mekah, Nabi saw membaca Surah An-Najm dan ketika sampai ayat 19 dan 20: Adakah kalian melihat Lata dan ‘Uzza, serta Manat (berhala) yang ketiga …. maka setan — menurut riwayat itu — menambahkan melalui lidah Nabi saw.: … “Itulah (berhala-berhala) Gharaniq yang mulia dan syafaat mereka sungguh diharapkan”.

Tambahan kalimat dari setan itu didengar pula, melalui bacaan Nabi saw., oleh kaum musyrik. Maka mereka pun berteriak gembira: “Sungguh Muhammad tidak pernah menyebut tuhan-tuhan kita dengan sebutan yang baik sebelum hari ini!”

Lalu ketika Nabi saw. sujud, mereka pun ikut sujud bersamanya. Tak lama kemudian, Jibril datang dan berkata kepada beliau: “Aku tak pernah membawa wahyu seperti itu. Itu hanyalah dari setan.” []

 

YS/IslamIndonesia/Sumber: Sunnah Nabawiyah Bayna Ahlu Fiqh wal Hadist (Kairo, 1989)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *