Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 06 June 2015

Kado Terindah Haidar Bagir: Serpihan Puisi Sufistik Rumi


foto-gus-chandra-pak-haidar-dan-ratih-sang

Jalaluddin Rumi. Siapa yang tak mengenal sufi asal Persia ini? Mendunia karena puisi sufistiknya, Rumi seperti guru yang piawai menuntun hati menapak di jalan spritual. Para peneliti mengungkapkan Matsnawi, salah satu masterpice Rumi, merupakan kitab yang paling banyak dibaca setelah Al-Qur’an di tanah kelahirannya di Persia.

Cendiakiawan Muslim asal Jakarta, Haidar Bagir, termasuk di antara yang terinspirasi dengan banyak penuturan Rumi. Dalam beberapa tahun terakhir, dia menularkan ketertarikannya itu via kicauan berseri di jagad Twitter. Belakangan, dia sendiri seperti masuk dalam kejutan seiring banyaknya rekan dan followernya yang menyatakan ketertarikan dan keinginan mempelajari Rumi. Inilah yang kemudian mendorong Haidar mengumpulkan seluruh tweet-nya mengenai Rumi dalam sebuah buku “self-help” yang berjudul “Belajar Hidup dari Rumi”.

“Buku ini merupakan kumpulan sebagian tweet saya yang disebut ‘Rumi night’. Menurut hemat saya, ‘retweet’ dan‘favorite’ paling banyak dari ‘followers’ adalah ‘tweet’ mengenai Rumi,” kata Haidar saat peluncuran buku awal pekan ini.

Bedah buku terbaru CEO MIZAN tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dalam Festival Islam Cinta yang digelar di Auditorium UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebagai seorang pengusaha di bidang media, utamanya penerbitan buku sukses, Haidar menggambarkan bukunya sekaligua hadir untuk memuaskan
dahaga pasar pembaca Muslimin pada buku-buku yang sifatnya ‘self help‘. “Saya mengamati bahwa buku-buku mengenai quotes tokoh-tokoh terkenal sangat laku di pasaran, terlebih lagi puisi Rumi. Tulisannya tak hanya diminati di dunia Timur, tapi juga di Barat,” katanya.

Bersampul merah itu, Haidar mengisi bukunya dengan apa yang dia gambarkan sebagai “serpihan puisi Rumi” yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap buku ini bisa menemani setiap pembacanya kala dilanda kesedihan untuk mengantarkan padakebahagiaan.”

Menurut Haidar, pada awalnya dia sempat meminta Goenawan Muhammad, sastrawan cum jurnalis, bos besar Tempo, untuk memberikan kata pengantar
di buku kumpulan puisi Rumi itu. Tapi Goenawan tak bisa mengabulkannya, katanya.

Tapi seperti ingin membayar penolakannya, Goenawan awal pekan ini menulis artikel di TEMPO dengan judul “Surat Cinta untuk Haidar Bagir”.

Menurut Haidar, selain memiat puisi Rumi, dia juga menambahkan syarah singkat pada setiap penggalan puisi. “Pada awalnya saya merasa puisi-puisi Rumi bisa dipahami. Namun, ternyata banyak followers bingung memaknainya karena tidak memiliki latar belakang tasawuf dan filsafat,” kata Haidar.

Setelah penandatanganan poster, acara dilanjutkan dengan hiburan dari Yana Julio yang menyanyikan “Selamanya Cinta” dan “Insya Allah”. Kemudian, ia berduet dengan Eno untuk menghibur penonton dengan lagu “Keagungan Tuhan” dan “Ekspresi”.

Acara bedah buku ini dimoderatori oleh Ratih Sanggarwati, eks model yang kini berhijab. Berbicara singkat, Ratih menggambarkan Rumi sebagai sosok manusia yang mencintai Allah begitu hebat, hingga ia “mendebukan diri”. Dia juga menyempatkan membacakan sebait puisi Rumi:

Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan,

aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang.

Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.

Kenapa aku harus takut?

Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia, dan lahir di alam para malaikat.

Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, aku masih harus mati lagi;

Karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat, aku masih akan menjelma lagi

dalam bentuk yang tak kupahami.

Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kasunyataan

Karena hanya dalam kasunyataan itu terdengar nyanyian mulia;

Kepada Nya, kita semua akan kembali.

Hadir sebagai pengulas dalam diskusi buku adalah Chandra Malik. Dia menitikberatkan pada pembahasan mengenai Syams Tabriz, seorang sahabat Rumi.

“Seseorang yang paling mengerti diri Rumi adalah dirinya sendiri dan kekasihnya, Syams Tabrizi. Syams telah mengubah hidup Rumi, sehingga ia merasa kehilangan saat Syams meninggalkannya untuk mencapai hakikat,” ucap Chandra.

Menurut penulis Ma’rifat Cinta dan Antalogi Fatwa Rindu itu, Rumi menjadi referensi paling penting dalam perjalanan para sufi, terutama tarian Darwis.

Sastra dan sufistik merupakan perkawinan yang agung, katanya lagi. “Menyair dan memuisi merupakan peristiwa batin yang luar biasa. Pendekatan melalui sya’ir lebih menyentuh, tidak semata-mata dogmatis.”

Diskusi berakhir dengan pembacaan penggalan puisi Rumi oleh musisi Dik Doang dengan penuh penghayatan.

Sementara itu, rangkaian Festival Islam Cinta digelar di beberapa lokasi lainnya. Di halaman depan Auditorium Harun Nasution terdapat bazar dan
pameran yang diisi oleh berbagai organisasi yang tergabung dalam Forum Islam Damai. Mereka di antaranya menggalang solidaritas Muslim Rohingya.

Kemudian, pada lokasi lainnya bertempat di Aula Madya, Workshop Pendidikan Perdamaian, Workshop Jurnalisme Damai, dan Workshop Rohis Pelopor Bangsa.

Selain itu, disenggelarakan pula di pemuran film antara lain “Ada Surga di Rumahmu”, “Mata Tertutup”, dan film pendek produksi Pusat Media Damai dan Studio Denny JA.

Perhelatan tersebut dilanjutkan sampai pukul 22.00 WIB dengan Talkshow Film Gerakan Islam Cinta, “Pesan Film sebagai Media Dakwah Cinta” bersama Hanung Bramantyo, Gangsar Sukrisno, Salman Aristo, Surya Saputra, ChyntiaLamusu, Dedi Sutomo, dan Tissa Biani.

(Zainab/ Islam Indonesia)

One response to “Kado Terindah Haidar Bagir: Serpihan Puisi Sufistik Rumi”

  1. […] ini adalah 7 nasihat #Jalaluddin Rumi yang disyarah oleh #Haidar Bagir dalam akun […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *