Satu Islam Untuk Semua

Monday, 10 April 2017

Kadernya Dijemput Densus 88, PKS: Kami Tak Ajarkan Teror


images_1491792835186

Islamindonesia.id – Kadernya Dijemput Densus 88, PKS: Kami Tak Ajarkan Teror

 

Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Sohibul Iman menegaskan, partainya selalu mengajarkan dakwah dengan cara yang bijak dan menolak kekerasan. Hal ini diungkapkan oleh Iman usai menerima informasi tentang ditangkapnya salah satu kader PKS berinisial MNU oleh Detasmen Khusus Antiteror 88 di Bandara Juanda, Surabaya.

“PKS tidak mengajarkan teror. Mari jaga kondusifitas sosial politik menjelang putaran kedua pilkada DKI khususnya dan kondisi nasional secara umum,” kata Iman dalam keterangan tertulis seperti dilansir metrotvnews.com, 9/4.

Bagi Iman, pengurus PKS akan taat hukum dan menghormati proses hukum yang dilakukan polri.

“Kami saat ini tidak akan bersikap terlalu jauh. Kami terus dalami kasus ini, baik informasi internal partai maupun dari pihak kepolisian,” katanya.

Informasi yang dia dapat, tidak ada yang mengetahui MNU pergi ke luar negeri. Sohibul meminta masyarakat tidak berspekulasi terlalu jauh terkait penjemputan MNU.

“Banyak yang mengaitkan penangkapan ini dengan tindak kekerasan. Kami mohon semua pihak menahan diri dan berharap polisi dapat memberi penjelasan secepatnya,” tutur dia.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, mengatakan, selain Nadir, ada satu WNI lain yang dideportasi, yaitu Budi Mastur, pada hari yang sama. Namun, dia dideportasi via bandara Husein Sastra Negara Bandung.

“Seperti biasa, jika ada laporan WNI yang dideportasi dari Timur Tengah atau terkait informasi radikal, dilaporkan ke Densus 88 untuk diperiksa,” katanya, Minggu (9/4/2017).

Hasil pemeriksaan sementara, lanjut Barung, keduanya masuk ke wilayah Suriah sebagai relawan misi kemanusiaan dari Yayasan Qouri Ummah.

Keduanya berangkat pada 31 Maret dengan membawa uang donasi sebesar 20.000 dolar AS untuk para pengungsi di Turki dan Lebanon.

Di Istanbul, Turki, pada 5 April, keduanya sempat diperiksa karena visa yang dibawa bermasalah dan diamankan pihak imigrasi karena memasuki wilayah perbatasan.

“Baru pada 6 April, keduanya dideportasi ke Bandung dan Surabaya via Kuala Lumpur,” tuturnya.

Saat ini, keduanya diperiksa di RPSA Kemensos Bambu Apus dan akan dikembalikan kepada keluarganya setelah pemeriksaan.[]

 

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *