Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 11 May 2014

Joserizal Jurnalis: Untuk melawan Zionisme, Kembalilah ke Isu Palestina!


Joserizal Jurnalis Untuk melawan Zionisme, Kembalilah ke Isu Palestina!

IslamIndonesia.id – Joserizal Jurnalis: Untuk melawan Zionisme, Kembalilah ke Isu Palestina!

“Seorang Muslim itu harus adil tidak hanya kepada saudara seagamanya, tapi juga kepada semua manusia tanpa batas.”

SUATU hari di RS. Budi Asih Jakarta Timur. Seorang nenek tua tertatih-tatih dan kebingungan di lorong rumah sakit. Tiba-tiba seorang lelaki jangkung berkulit putih dengan seragam dokter menghampirinya: “Ibu, cari siapa?” tanyanya  dalam nada lembut dan sopan.  “Anu Nak, saya mau berobat ke dokter Jose, tetapi enggak tahu di mana ruangannya,” jawab sang nenek. “Oh itu saya Bu, ayo Bu kita ke ruangan saya, maaf Ibu saya gendong ya sebab ruangan saya agak jauh,” ujarnya sambil langsung menggendong nenek-nenek tua tersebut.

Joserizal Jurnalis memang kadung dikenal sebagai dokter yang humanis. Bukan hanya kepada sesama Muslim semata tapi juga kepada siapa pun manusia yang memerlukan pertolongannya. Begitu humanisnya spesialis bedah tulang dan ahli traumatologi ini, hingga ia mau meninggalkan “zona nyaman” untuk berkutat sebagai aktivis kemanusiaan. Bersama kawan-kawannya di MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), ia terlibat banyak menangani para korban di berbagai wilayah bencana dan kawasan perang. Mulai Aceh, Maluku, Poso, Irak, Sudan, Palestina hingga Afghanistan.

“Seorang Muslim itu harus adil tidak hanya kepada saudara seagamanya, tapi juga kepada semua manusia tanpa batas,” ujar lelaki kelahiran Padang, 11 Mei 1963 itu.

Karena sikap adil juga yang membuat Joserizal menolak untuk terlibat dalam konflik politik yang dipicu sentimen mazhab di Suriah. Baginya, Krisis Suriah tak lebih merupakan perangkap global yang dipasang Zionisme dan kapitalis internasional untuk menguasai sumber daya yang dimiliki negara-negara Muslim dan menempatkan umat Islam ada dalam kendali mereka. “Karena kebodohan dan rasa sombong, umat islam hari ini terperangkap dalam konflik dan bencana kemanusiaan yang berkepanjangan itu,” ujar salah satu penggagas pendirian Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut.

Lantas, apa kata Joserizal mengenai situasi runyam yang saat ini tengah dihadapi oleh umat Islam saat ini? Benarkah itu terkait dengan apa yang ia sebut sebagai novus ordo seclorum (era baru kekuasaan)? Di sela kesibukannya melayani pasien sebuah rumah sakit yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu pekan lalu Joserizal menerima Hendi Jo dari Islam Indonesia. Berikut petikan perbincangan mereka:

Suriah dan Mesir tengah memanas dan korban manusia banyak berjatuhan, MER-C tidak turun ke wilayah-wilayah itu?

Kami sekarang sedang membuat visa untuk terjun ke Mesir. Kalau Suriah nanti dulu. Belajar dari pengalaman kami di Irak, konflik bersenjata yang melibatkan sentimen sektarian dan mazhab hanya membuat kami nyaris tidak bisa berbuat apa-apa karena serba salah dengan ancaman dari kedua pihak. Kami di Irak hampir mati saat menolong orang-orang terluka dari satu sekte.

Apa pendapat Anda mengenai situasi umat Islam yang saat ini tengah terjerembab dalam konflik antar sekte?

Ya itu merupakan konsekuensi logis dari sikap ashobiyah (fanatik golongan) yang selama ini tumbuh di kalangan sebagian umat Islam. Justru gejala ini dimanfaatkan secara baik oleh novus ordo seclorum (era baru kekuasaan) untuk mewujudkan tujuannya.

Siapa yang anda maksud sebagai “novus ordo seclorum”?

Kekuatan jahat pemilik modal yang ada dalam Zionisme internasional. Begini, saya meyakini setiap konflik yang terjadi di dunia (khususnya di kawasan Timur Tengah) tidak terlepas dari dua hal. Pertama energy resources dan posisi politik Israel sebagai negara Zionis. Memang banyak orang yang meremehkan soal ini dan menilainya sebagai bentuk sikap paranoid, tapi sejarah mencatat bahwa untuk mendirikan sebuah negara Israel ada beberapa peristiwa yang mengawalinya: munculnya Perang Dunia I, keruntuhan Turki Utsmani, terpecahnya bangsa Arab dan terjadinya Perang Dunia II.

Anda mau mengatakan konflik-konflik yang sekarang tengah terjadi, hulunya adalah soal-soal ekonomi dan politik?

Itu yang saya yakini. Karena itu, saya sangat prihatin dengan pernyataan-pernyataan dari kalangan umat Islam yang sebagian ditiupkan oleh ulama juga bahwa konflik yang tengah terjadi sekarang di Timur Tengah adalah persoalan agama. Ini murni soal politik dan adanya kepentingan ekonomi para pemilik modal pimpinan AS. Jadi kaum ulama pun harus hati-hati mengeluarkan fatwa terkait soal ini.

Tapi banyak elemen-elemen populis Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbullah, HAMAS yang terlibat dalam konflik seperti ini?

Ya tapi dalam kenyataannya mereka jadi instrumen konflik. Saya paham, mereka tengah bereksperimen dalam hal siyasah (politik). Tapi masa iya, eksperimen ini harus mengorbankan ribuan nyawa umat Islam yang tak tahu apa-apa? Meraih kekuasaan memang perlu tapi jangan ada dalam “tarian yang gendangnya ditabuh orang lain” dong. Saya malah justru melihat saking bersemangatnya kelompok-kelompok Islam menggoalkan isu syariah sampai mereka “tidak sadar” perjuangan mereka ditumpangi kepentingan kaum pemilik modal. Saya tanya, memang AS, Dunia Barat, dan Israel, memberikan sokongan ke kelompok-kelompok Islam yang tengah bertikai itu karena mereka konsen terhadap syariah? Mustahil!

Tidakkah di kalangan Islam sendiri muncul orang-orang yang mengingatkan soal ini?

Tentunya ada. Tapi karena miskinnya otokritik, adanya kebodohan dan ketamakan, menjadikan kita tak mau mendengar masukan-masukan pihak lain. Di Suriah, pernah muncul Syeikh al-Buthy yang menyeru Sunni-Syiah untuk kembali kepada dialog. Tapi apa yang terjadi kemudian? Beliau malah dibunuh.

Posisi anda sendiri saat ini di mana?

Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini tengah kita hadapi adalah murni soal politik, bukan soal agama. Jadi marilah kita hentikan pertumpahan darah yang tidak ada gunanya ini.

Pastinya banyak yang tidak suka dengan pendapat itu dan saya tahu ujung-ujungnya anda malah dituduh sudah beralih “keyakinan”, misalnya yang pernah diberitakan sejumlah media Islam, menjadi seorang Syiah?

(Tertawa kecil) Ya, tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi enggak apa-apa. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang? Adapun soal saya dituduh menjadi Syiah, itu adalah cara yang paling efektif untuk menghentikan kampanye saya terutama yang terkait dengan dukungan saya untuk perjuangan rakyat Palestina.

Tapi banyak lho di Indonesia yang melihat Krisis Suriah itu justru sebagai konflik agama?

Ya, kadang orang melihat konflik umat Islam ini dengan cara berlebihan, misalnya sebagai konflik akidah. Padahal sederhana saja, isu Sunni-Syiah itu hanya alat para pemilik modal untuk menguasai sumber energi. Kalau soalnya Sunni-Syiah, mengapa Iran di era Reza Pahlevi bisa mesra dengan Saudi Arabia, lalu jadi bermusuhan sejak era Khomeini? Ini kan jelas soal politik.

Termasuk kemunculan para takfiri (kelompok yang mudah mengafirkan kelompok lain) itu?

Termasuk. Sebenarnya orang-orang seperti itu sudah ada sejak zaman Rasulullah dulu. Cuma ide-ide itu sekarang  diidentifikasi oleh para pemilik kepentingan,  lalu dibalut dengan politik, disokong dengan dana, akhirnya diprovokasi. Kan jadinya dahsyat tuh.

Anda tadi katakan, ini terkait dengan tujuan kaum pemilik modal dan Zionisme, lantas mengapa korbannya selalu umat Islam?

Umat Islam hanya target awal. Selanjutnya lihat saja, mereka pasti bergerak ke Amerika Latin dan Cina, dua kawasan yang juga memiliki tabungan energi sangat besar dan potensial. Ini sudah disadari oleh Amerika Latin dan Cina.

Terakhir, apa yang kira-kira harus dilakukan umat Islam untuk keluar dari situasi ini?

Awareness dan dialog. Dengan itu kita bisa memilah mana persoalan agama, mana persoalan politik, hingga kita tercegah masuk perangkap. Saya juga mengkritik para ulama: jangan terlalu mudah mengeluarkan fatwa yang kalau tidak diikuti itu seolah-olah orang menjadi kafir. Satu lagi, saya sarankan umat Islam untuk kembalilah ke isu Palestina. Jadikan masalah Palestina sebagai isu bersama lagi. Itu saya pikir jalan yang paling menohok untuk melawan Zionisme.

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *