Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 07 January 2016

‘Jika Benar Pelajar Lazuardi Hadiri Demo Syekh Nimr, So What Gitu Loh?’


ZEnY3I0r1SudiZB3kkZsXZovWZ-kAf2qInB6leodxPko-juV9FV5QwuInbwH0TVbGWLZrbTvkBZFHWBJIahJm6AeNA=w508-h290-nc

Yayasan Lazuardi Hayati, lembaga pendidikan Islam ternama berbasis Jakarta, kembali jadi sasaran fitnah sektarianisme di dunia maya. SMA Lazuardi untuk kesekian kalinya dituding Syiah setelah diberitakan sejumlah pelajar dari sekolah itu turut hadir dalam aksi demo solidaritas Syekh Nimr di Jakarta (4/1).

“Laporan yang kami terima dari narasumber yang meliput di lapangan, beberapa pemuda-pemudi yang ada dalam gambar di bawah mengaku secara terang-terangan berasal dari SMA GIS Lazuardi Sawangan Depok milik tokoh Syiah Indonesia Haidar Bagir,” katanya dalam sebuah status yang hingga hari ini telah di-share lebih dari 1.800 kali.

Haidar Bagir, salah satu prakarsa yayasan yang berdiri 21 tahun lalu ini kembali angkat bicara soal tersebarnya berita yang menurutnya tidak benar.

“Takfiri tak capek-capek (menyebarkan) provokasi. Kali ini, sekali lagi, tentang Lazuardi. Bukan saja dibilang Lazuardi yayasan Syiah, tentu ditambah bahwa Syiah sesat,” kata Haidar di akunnya @haidar_bagir (7/1).

Bagi cendekiawan Muslim  asal Solo ini, sekolah Lazuardi bukanlah lembaga pendidikan untuk golongan tertentu tapi untuk semua golongan.  Sejak awal, kata Haidar, Lazuardi memang dengan terbuka mengatakan sebagai sekolah yang inklusif. Jangankan Syiah, lanjut Haidar, “kami pernah punya murid Nasrani dan Hindu. Pun, sejak awal kami menganggap bahwa Syiah hanyalah salah satu mazhab dalam Islam, yang sama sahnya dengan mazhab-mazhab lain. Tak ada yang istimewa,” katanya

Soal demo solidaritas untuk Syekh Nimr, Haidar mempertanyakan dasar kesalahannya jika benar ada pelajar Lazuardi yang hadir. “So what gitu, loh?,” katanya

Menurut praktisi pendidikan ini, memprotes hukuman mati Syekh Nimr adalah bagian kebebasan berpendapat dan sama sekali bukan persoalan mazhab. Lepas dieksekusinya ulama yang dikenal kritis pada kerajaan Saudi itu, gelombang protes muncul dari berbagai wilayah dan latar belakang. Dalam hal ini, selain mengutip kecaman dari sejumlah ulama Sunni, Haidar mengutip kecaman dari intelektual Sunni, Tariq Ramadhan.

“Apapun standar yang digunakan, eksekusi (Syekh Nimr) di Saudi harus dikecam. Siapapun Anda (Sunni atau Syiah), di mana pun dan mazhab apa pun Anda, karena dua alasan: Pertama, politisasi, bias dan bahkan buruknya sistem peradilan Saudi yang tidak bisa dipercaya dengan cara apapun. Kedua, mengeksekusi mereka yang menuntut kebebasan, keadilan dan harga diri merupakan tindakan berlebihan dan tidak dapat diterima,” kata Tariq yang juga cucu Hasan Al Banna di akun facebook pribadinya (4/1).

Sayangnya, menurut Haidar, hingga kini akun yang menyebarkan berita itu tidak memberi bukti kehadiran satu pun pelajar Lazuardi sebagaimana yang mereka sebarkan di media sosial. “Ternyata yang ditulis facebook takfiri itu bohong total. Lagi-lagi, tak satu pun yg di foto itu anak Lazuardi,” katanya sambil memperlihatkan foto-foto demonstrasi di depan kantor Kedutaan Saudi itu.

“Saya anak SMA Lazuardi GIS Sawangan Depok, tetapi saya sama sekali tidak mengenal wajah-wajah yang ada di foto tersebut. Ini namanya fitnah. sungguh kejam sekali kalian menfitnah dengan cara seperti ini, apa lagi tidak ada bukti identitas mereka siswa dari Lazuardi.” kata akun Haifa Ilmi Usman menanggapi status yang mengunggah lima foto itu.

Setelah mengutip tanggapan salah satu wali murid Lazuardi yang juga tidak mengenal satu pun wajah dalam foto itu, Haidar mengatakan, “tinggal satu pertanyaan; mau sampai kapan orang-orang jahat ini dibiarkan membuat fitnah-fitnah dan  kebohongan untuk memecah belah kaum Muslim di Indonesia?”

Menurut Haidar, masifnya penyebaran berita bohong  yang bertendensi sektarian membuka kemungkinan adanya pihak yang ingin merusak kebhinekaan dan kerukunan bangsa ini. “Apakah tak mungkin ada tangan-tangan jahat yang berniat mengacaukan negeri kita melalui pecah belah kaum Muslim? Mari kita lawan,” katanya

Edy/Islam Indonesia/ Foto: tempo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *