Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 02 April 2014

Jangan Anggap Enteng Masa Mudamu


Muslimvillage.com

Semua hal akan dimintai pertanggungjawabannya, termasuk masa muda.

 

Rasul Saw. pernah mengingatkan kepada seluruh umat manusia untuk waspada dan tidak menganggap enteng dengan kesempatan mengenyam masa muda yang telah diberikan Tuhan pada mahkluk-Nya.

Hal ini dapat dilihat dalam salah satu hadis yang diriwayatkan at-Tirmidzi dalam Sifatul Qiyamah. Rasul bersabda, “Seorang manusia tidak akan bertemu dengan Tuhannya sebelum ia dimintai pertanggungjawabannya atas lima hal berikut; tentang hidupnya (bagaimana ia menghabiskannya), tentang masa mudanya (bagaimana ia tumbuh menjadi tua), tentang hartanya (dari mana ia memperolehnya?), dengan cara apa ia habiskan hartanya?, dan apa yang ia lakukan dengan ilmu yang ia miliki?.

Ada lima hal yang disebut hadis tersebut untuk selalu ditanyakan pada diri sendiri, dari segala usia,

Pertanyaan pertama, bagaimana kita menghabiskan waktu?

Ya, dalam akhirat nanti, konon Allah Swt. akan menanyakan tentang kehidupan dan waktu yang diberikan-Nya kepada manusia. Sebab, tidak semua makhluk mendapat kesempatan untuk hidup, menghirup oksigen dengan bebas dan merasakan manis getir alam dunia. Sehingga, apa yang diberikan Allah, sudah sepatutnya digunakan sesuai dengan keinginan dan perintah-Nya,

“Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku”

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Rasul Saw. bersabda, “Ada dua karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia, namun sebagian besar mereka tertipu karenanya, yakni waktu dan kesehatan.” (HR al-Tirmidzi, Zuhd : 2405).

Sayangnya, manusia yang banyak tertipu oleh kedua hal ini adalah pemuda. Mereka dikarunia kesempatan dalam hal kesehatan yang prima dan waktu. Namun, mayoritas lalai dengan keduanya.

Pertanyaan kedua, tentang masa mudanya (bagaimana ia tumbuh menjadi tua).

Pertanyaan ini secara langsung berkaitan dengan masa muda. Dan, menunjukkan bahwa, “pemuda tidak diberikan waktu untuk bersenda gurau, bersenang-senang, menghabiskan waktu dengan hiburan dan tawa”. Sebab pemuda merupakan masa yang penuh dengan hal-hal positif terkait dengan karunia Allah, termasuk kesehatan dan luangnya waktu.

Kadang, seseorang menggunakan masa muda ini dengan penuh rasa terima kasih pada Tuhannya. Yakni dengan melakukan perbuatan yang diperintahkan Allah dengan baik. Perbuatan yang baik ini menggiringnya juga kepada hasil yang maksimal, sebagaimana tercantum dalam Ar Rohman ayat 60, “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula”.

Masa muda yang baik dapat menghasilakan prestasi yang luar biasa dalam berbagai hal, seperti kekuasaan, kekuatan, jabatan, karir, kesejahteraan, juga kesehatan dan waktu yang bermanfaat.

Sebaliknya, jika masa muda digunakan hanya untuk kesenangan sesaat, niscaya Tuhan akan mempertanyakannya juga, dan mereka pun kelak mendapat imbalan yang menjadi masalah, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertanyaan  ketiga dan keempat, tentang hartanya (dari mana ia memperolehnya, dan dengan cara apa ia habiskan hartanya?)

Pertanyaan ini semacam menjadi peringatan atau alarm bagi umat manusia. Sebab, dengan pertanyaan ini,  manusia diminta untuk mendapatkan dan menghabiskan hartanya itu melalui cara-cara yang halal (sah). Hal ini diperlukan, karena mendapat ridha Allah. Juga, bisa menghindari pemborosan atau beban duniawi.

Pertanyaan kelima tentang ilmu, “apa yang dia lakukan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya?” menunjukkan bahwa yang penting pada dasarnya bukan bagaimana ia menghabiskan waktunya untuk belajar. Tapi, selain itu, ada hal lain yang juga lebih penting, yakni mempraktekkan apa-apa yang sudah kita pelajari.

Dalam Al Qur’an, Allah bahkan mengibaratkan orang-orang yang belajar tanpa praktek seperti “keledai membawa buku”. Sebab tak satu pun buku yang ia bawa dapat memberikan manfaat.

Rasul Saw. mengatakan dalam sebuah hadis—yang dapat membuat kita merinding dan lebih berhati-hati dengan segala kesempatan yang Tuhan beri, “Semua orang akan hancur kecuali ulama, semua ulama akan hancur kecuali orang-orang yang mempraktekkan apa yang mereka ketahui. Semua ulama yang mempraktekkan apa yang mereka ketahui akan hancur kecuali orang-orang yang mempraktekkannya dengan tulus, dan mereka yang melakukannya dengan tulus berada dalam bahaya besar”.

Seiring penjelasan tersebut, pada dasarnya hadis itu mencakup satu jawaban atas pertanyaan penting.

Hadis ini menunjukkan bahwa para pemuda yang mengatakan, “Kami akan beribadah ketika sudah tua” merupakan suatu kesalahan besar. Dengan demikian, orang-orang diperingatkan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan tidak hanya ketika mereka sudah tua, tetapi juga ketika mereka masih muda.

Dalam surat Al Zilzal ayat 7-8 disebutkan, “Barang siapa berbuat kebaikan seberat atom pun, maka Dia (Allah) akan melihatnya. Dan barang siapa yang berbuat keburukan seberat dzarroh (atom), maka Dia akan melihatnya.”

Karena itu, sudah dapat dipastikan bahwa, manusia akan ditanya dan dimintai pertanggungjawabannya untuk semua hidupnya.

Hal ini perlu, untuk memperhatikan lima hal dalam hadis berikut, “Manfaatkan hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, luang sebelum sempit, muda sebelum tua, dan kaya sebelum miskin.” Wallahu A’lam Bishowab.

 

Sumber: Muslimvillage.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *