Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 24 December 2014

Istana Kita Semua: Bayt Al-Qur’an


Salah satu koleksi museum Bayt Al Quran

Justin Bieber, K-Pop, McDonald, Hollywood, video games, apalagi dan apalagi. Daftar ikon budaya asing yang rutin menginvasi ruang-ruang keluarga Indonesia panjang dan berkelindan, cukup untuk membuat sebagian orang tua cemas dengan perkembangan anaknya. Kabar buruknya: serbuan budaya itu bakal berlanjut tanpa bisa dicegah, paling tidak sementara ini.

So, apa daya? Menyalahkan keadaan, tentu saja, tak menjawab semuanya. Toh Anda masih punya keleluasaan memperkenalkan putri-putri Anda pada banyak sisi dari kekayaan Islam.
Al Quran, misalnya. Jika Anda tinggal di Jakarta, Anda bisa  memboyong keluarga ke Bayt Al-Quran, museum Al Quran yang menawarkan jenis kekayaan yang tak bisa dihasilkan bahkan oleh tambang emas sekelas Freeport di Papua. Jarang muncul di radar perhatian Muslimin, museum ini berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah.

* * *

Suasana terasa teduh di halaman Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal yang terletak di salah satu pojok Taman Mini. Di kiri kanan jalan menuju museum penuh Rerumputan hijau dan pepohonan tua.d
Bangunan museum berlantai empat, berbentuk persegi panjang dengan atap berbentuk limas. Tiga lantai pertama kental dengan cat coklat muda; lantai keempat berwarna putih.

Di tembok lantai pertama tertulis nama Bayt Al-Quran berikut lambang museum; tumpukan huruf Qaf, Ra dan Nun di dalam sebuah lingkaran. Huruf Alif membelah ketiga huruf ini secara vertikal.

Dekat pintu masuk gedung, sebuah gapura kokoh dan cantik berdiri tegak. Lantai dengan keramik merah bata membentang sampai ke dekat pintu masuk gedung.

Di balik pintu, tak jauh dari pintu masuk, berdiri tegak dua tiang besar penopang gedung. Di antara kedua tiang, terpampang batu keramik hitam yang mencatat peresmian gedung oleh eks Presiden Soeharto pada 20 April 1997.

Lantai ruangan sendiri berhias keramik coklat besar, membuat ruangan semakin terlihat lebar. Dua resepsionis wanita sigap melayani pengunjung dan sesekali menunjukkan katalog dan brosur yang menjelaskan seluk beluk seputar Bayt al-Quran; mulai dari sejarah pendirian, peresmian dan berbagai koleksi mushaf atau karya seni Islam lainnya.

Ruangan selanjutnya adalah ruangan utama Bayt Al-Quran. Warna coklat mendominasi tembok dan lantai. Sebuah mushaf kuno yang tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca  seolah menjadi pagar ayu ruangan. Tak hanya kuno – karena ditulis 66 tahun lalu – huruf Ba pada kata Bismillah dalam mushaf berukuran 75 sentimeter x 100 sentimeter ini digoreskan oleh Proklamator Soekarno.

Selain mushaf ini, terdapat mushaf al-Quran raksasa bersejarah lainnya. Usianya seperempat abad. Ukuran 2×1,5 meter dengan tulisan berwarna tinta hitam dan hiasan (iluminasi) di pinggir mushaf berwarna kuning. Penulisnya santri di sebuah pesantren di Wonosobo pada 19 Oktober 1991. Huruf Ba pada kata Bismillah dalam mushaf torehan Soharto. Sekitar 14 bulan kemudian, tepatnya 7 Desember 1992, huruf Sin pada surah An-Naas ditorehkan oleh Menteri Penerangan Harmoko sebagai tanda selesainya penulisan mushaf.

Di dalam ruangan ini, dipamerkan juga berbagai mushaf Al-Quran dari 27 provinsi dengan iluminasi khas masing-masing provinsi, seperti Aceh, Kalimantan atau Bali.

Ada pula berbagai manuskrip Al-Quran yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Di kiri tembok, terpampang beberapa kaligrafi dua dimensi berukuran besar yang memuat ayat-ayat Al-Quran.

Di sebelah kanan ruangan, tersimpan rapi mushaf-mushaf kuno lainnya dalam lemari-lemari kaca khusus.
Al-Quran dengan terjemahan bahasa Jawa kuno yang ditulis tahun 1935 juga disimpan di  ruangan yang sama.

quran kuno

Salah satu al-Quran kuno (Islam Indonesia)

* * *

Bayt al-Quran juga jadi rumah bagi Al-Quran ukuran super duper mini. Saking kecilnya, Al-Quran ini bisa dimasukkan dalam sebuah kotak cincin.

Seorang anak kecil, mungkin siswa SD, takjub. Dia seolah tak percaya ada Al-Quran semini itu. Mungkin beragam pertanyaan berseliweran dalam benaknya, seperti bagaimana caranya menggoreskan tinta di lembaran kertas sekecil itu.

Selain mushaf, terdapat pula karya seni rupa kontemporer dalam tiga dimensi. Sebuah pigura kayu persegi panjang berwarna coklat yang menampilkan pahatan indah sebuah surah al-Quran terpajang manis di tembok.
Di laur ruangan pameran, terdapat benda-benda budaya bernafaskan Islam, seperti bedug besar Mesjid Darul Muttaqin Purworejo. Bedug ini buatan 1834.

Di bagian lain, terpampang papan yang memuat sticky notes aneka warna yang beriai kesan-kesan pengunjung museum.

sticky notes  

Satu dari puluhan sticky notes (Islam Indonesia)

“Museum ini sangat hebat,” tulis seseorang dengan nama Alifa. “Aku senang sekali kalau museum ini dicintai Allah. Amin ya Rabbal alamin.”

“Fantastis! Luar biasa! Perasaan kagum mengalir ketika menapaktilasi museum ini.” (Fatimah Nur)

“Saya jadi lebih mengetahui lagi sejarah tentang al-Quran. I love Allah.” (Nabilah, SMP 32)

Di halaman belakang, segerombolan anak berseragam putih duduk berselonjor di santai. Mereka murid TK Amanah Cengkareng yang tengah melakukan study tour. Sekitar 10 anak tengah berpentas. Mereka mandendangkan nasyid puji-pujian pada Nabi Muhammad saw plus tarian alakadarnya. Sementara 40 anak lain yang menyaksikan bertepuk tangan kecil dan tertawa sumringah.

Ya, Bayt Al-Quran punya banyak hal yang cukup untuk menggembirakan setiap pengungjung. Inilah istana Muslimin yang bisa membuka cakrawala seputar al-Quran, Islam, sejarah dan budayanya di Nusantara dan di luar negeri. Tidakkah ini modal yang pas untuk mengencerkan kentalnya hingar-bingar budaya asing?

(Andi/AR/Islam Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *