Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 29 December 2016

Islam Indonesia Membaca Islam Ala Amerika


islam-indonesia-membaca-islam-ala-amerika

islamindonesia.id – Islam Indonesia Membaca Islam Ala Amerika

 

Tak dapat dipungkiri bahwa kajian seputar keislaman dan kebangsaan selalu menarik untuk didiskusikan. Sebab, pemeluk agama Islam di setiap negara memiliki karakteristik tersendiri dalam mengekspresikan keyakinannya. Hal ini tak lepas dari sentuhan nilai-nilai budaya yang telah mengakar mendahului kehadiran Islam.

Munculnya istilah Islam Indonesia, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Timur Tengah, menandakan Islam sangat terbuka ketika berdialog dengan realitas-budaya bangsa-bangsa. Pada hakikatnya inti ajaran Islam sama, namun pada praktiknya tak demikian karena adanya sentuhan yang berasal dari nilai-nilai budaya setempat.

Karenanya, simbol-simbol keislaman sebuah bangsa yang bersifat budaya dan tradisi belum tentu pas untuk diekspor, sehingga tak bisa dipaksakan, di tengah bangsa lain yang memiliki budaya khasnya sendiri. Di sinilah peran Islam sebagai agama yang memberikan rahmat untuk seluruh alam.

Hal inilah yang banyak dikupas dalam buku berjudul Islam Amerika –Refleksi Seorang Imam di Amerika tentang Keislaman dan Keamerikaan.

Memahami tujuan utama hukum Islam (al-maqasid al-syariah) menjadi sebuah keniscayaan agar tak terlena dengan simbol-formalitas. Para ahli hukum Islam bermufakat bahwa tujuan utama hukum Islam adalah membantu mewujudkan kepentingan terbaik umat manusia dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat (hal. 96).

Penulisnya, Imam Feisal Abdul Rauf, mengajak pembaca untuk memahami inti ajaran Islam yang murni, sehingga bisa mengklasifikasikan doktrin murni Islam dan budaya Arab yang oleh sebagian kalangan dianggap ajaran Islam. Pengetahuan ini amat penting di tengah menguatnya gerakan fundamentalisme yang ingin mengekspor simbol-simbol Islam dari Arab.

Selain itu, umat Islam yang hidup di negara mayoritas Muslim mungkin tak begitu bermasalah dengan relasi agama-bangsa. Namun, untuk Muslim yang hidup di negara minoritas apalagi bergaul dengan masyarakat yang phobia Islam, memahami dasar-dasar agama yang murni amat penting, sehingga pada satu sisi tetap setia pada agama dan pada sisi yang lain tetap berpijak pada nilai-nilai budaya bangsa.

Buku Islam Amerika ini banyak memberikan perbandingan antara praktik keagamaan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat dengan perintah Tuhan kepada manusia. Menurut Imam Feisal, ibadah umat Islam secara umum lebih dibentuk oleh budaya dan tradisi ketimbang oleh aturan hukum (hal. 203)

Cara perempuan berpakaian dan menutup kepala bisa menjadi salah satu contoh. Jika kilas balik sejarah, pada zaman Nabi, kelas sosial sangat menentukan apakah seorang perempuan harus menutup kepala atau tidak. Karena budak sering telanjang kepala, para ulama menetapkan bahwa mereka boleh shalat tanpa penutup kepala.

Di sisi lain, pada zaman Nabi, fakta bahwa sebagian besar perempuan secara kultural terbiasa menutup kepala untuk melindungi diri dari iklim gurun pasir. Sementara perintah kunci yang dikemukakan Al-Qur’an adalah berpakaian sopan dari segi penampilan fisik, berdandan yang wajar, dan menghormati lawan jenis. Di sini, norma kultural memperkuat diri menjadi norma agama. (hal. 206-207).

Imam Feisal dari kasus ini ingin menyampaikan bahwa hujatan dan hinaan terhadap perempuan yang telanjang kepala tak perlu dilakukan. Apalagi keamerikaan umat Islam mudah diterima jika umat Islam menyesuaikan busana Muslim dengan mode Amerika, bukan bersikeras menyesuaikan pakaian dengan mode Mesir atau Indonesia (hal. 139).

Buku terbitan Mizan setebal 351 halaman ini berusaha memahami teologi dan hukum Islam dalam konteks peradilan dan hukum Amerika, budaya Amerika, politik Amerika, dan seni Amerika. Dengan cara demikian, Muslim Amerika bukan menjadi penganut agama imigran, tapi bisa menyuarakan ekspresi keislaman ala Amerika.

Promosi Islam ramah budaya dan tidak horor mulai mendapat tempat di Barat. Hal itu ditandai dengan penduduk pribumi Eropa yang melakuakn konversi ke Islam terus bertambah. Abd A’la mengutip dari Jurnal Perception, pada 2050, satu dari lima orang Eropa diperkirakan akan menjadi muslim dan pada 2100, 25% pepulasi masyarakat Eropa adalah Islam (Fiqh Minoritas: 2010).

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *