Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 01 July 2017

“Islam Indonesia Berwatak Moderat dan Antikekerasan”


Din Syamsuddin Siapa yang Sebenarnya Intoleran dan Anti Kebinekaan

IslamIndonesia.id – “Islam Indonesia Berwatak Moderat dan Antikekerasan”

 

Tokoh senior Muhammadiyah Din Syamsuddin menjelaskan, dinamika perkembangan Islam di Indonesia telah berlangsung berabad-abad. Sedemikian lamanya, Islam Indonesia menurut Din, membentuk watak khas yang selama ini dikenal damai, moderat, inklusif, toleran dan antikekerasan.

“Watak ini dianut mayoritas mutlak umat Islam dan telah berlangsung berabad lamanya. Maka hampir dapat dikatakan, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dengan pemeluk agama lain dan juga antara sesama Muslim. Indonesia sejak dulu dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antarumat beragama maupun intraumat agama,” katanya ketika berada di Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu seperti dikutip Antara.

Dibanding Islam yang berkembang di negara lain, termasuk Timur Tengah, bagi pria asal Sumbawa ini, Islam Indonesia memiliki karakter yang berbeda. Hal ini tidak lepas dari sejarah masuknya Islam di Nusantara yang damai, tanpa agresi.

“Latar sosial-budaya masyarakat Indonesia juga cinta damai, sehingga Islam di Indonesia berbeda,” lanjut Din di hadapan para tokoh agama, akademisi, mahasiswa, dan pengusaha dalam sebuah acara di Negeri Sakura.

Perkembangan selanjutnya, lanjut Din, suasana Islam di Indonesia mengalami perubahan akibat ketegangan bahkan konflik antarkelompok umat beragama. Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini tidak lupa menyinggung tragedi  Tolikara, Singkil, dan Manokwari yang terjadi akhir-akhir ini dan turut memperpanjang daftar intoleransi di tanah air.

“Ini disebabkan oleh bergesernya tata nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yang melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir,” katanya.

Jebolan Pondok Modern Gontor ini menilai ada dua faktor yang memicu pergeseran Islam di Indonesia. Pertama, kecenderungan Muslimin  menelan mentah-mentah penafsiran sempit teks-teks kitab suci dan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan. Kedua, adanya ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik  sebagai pemicu kekerasan (radikalisme), dan agama dijadikan pembenaran.

Menanggapi fenomena kelompok militan ‘Islamic State’, Presiden Asian Conference of Religions for Peace(ACRP) ini menegaskan, “ISIS bukan gerakan Islam tapi gerakan politik yang menyalahgunakan Islam untuk tujuan politik.”

 

YS/ IslamIndonsia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *